12.31.05

Istana Pulau Es bagian 56

Posted in Istana Pulau Es at 4:33 pm by riza

“Aku tidak takut!”

“Bukan soal takut atau tidak takut yang kita selidiki, Sumoi. Melainkan soal tepat tidaknya terseret ke dalam mata rantai dendam-mendendam.”

Siauw Bwee menundukkan mukanya. Tak dapat ia membantah kebenaran baru dan aneh yang dikemukakan suhengnya ini. Kematian ayahnya, kehancuran rumah tangga ayahnya, memang akibat perbuatan Suma Kiat. Akan tetapi, Suma Kiat tidak akan semata-mata melakukan hal itu tanpa sebab-sebab tertentu! Dia telah mendengar betapa Suma Kiat amat membenci keluarga Suling Emas, amat membenci Menteri Kam Liong putera Suling Emas. Dan karena ayahnya, Khu Tek San adalah murid Menteri Kam Liong, tentu saja terlibat dalam urusan dendam-mendendam itu dan menjadi korban dalam membela gurunya.

“Aku tidak dapat menyangkal kebenaran ucapanmu, Suheng. Aku menurut saja apa yang akan kaulakukan asal saja engkau….”

Melihat keraguan sumoinya, Han Ki bertanya, “Asal saja aku mengapa, Sumoi?”

“Asal engkau tidak melupakan…. cinta kasih di antara kita….”

Read the rest of this entry »

Istana Pulau Es bagian 55

Posted in Istana Pulau Es at 4:11 pm by riza

Juga Pat-jiu Sin-kauw sudah saling berkedip dengan Panglima Dailuba yang menyambutnya. Mereka pun tanpa banyak cakap sudah saling bertanding, menggunakan tangan kosong karena kedua orang ini merupakan ahli-ahli silat tangan kosong. Pertempuran terjadi dengan seru dan karena pandainya mereka berempat bersandiwara, Bu-koksu sendiri tidak pernah menyangka bahwa mereka itu tidaklah bertanding sungguh-sungguh.

“Ha-ha-ha, dua orangmu telah bertempur melawan dua orang pembantuku. Tinggal kita berdua. Marilah kita coba-coba, Bu-koksu!” kata Pek-mau Seng-jin sambil menggerakkan tongkatnya menusuk.

“Cring-cring-tranggg!” Keduanya terpental ke belakang ketika tongkat itu tertangkis oleh golok bergelang. Kemudian keduanya maju lagi saling serang dengan dahsyat. Gerakan Bu-koksu amat dahsyat dan kuat, goloknya mengeluarkan bunyi mengerikan dan golok yang berat itu diputar sampai berubah menjadi segulung sinar menyilaukan mata. Namun gerakan tongkat di tangan Pek-mau Seng-jin lebih cepat lagi, tampak sinar keemasan bergulung-gulung menyelubungi gulungan sinar golok, bahkan dalam hal tenaga sin-kang, tingkat Pek-mau Seng-jin masih lebih tinggi sehingga lewat empat puluh jurus, Bu-koksu selalu terdesak dan terhimpit!

Read the rest of this entry »

Istana Pulau Es bagian 54

Posted in Istana Pulau Es at 3:52 pm by riza

“Khu-moi-moi, kita baru saja saling jumpa, bagaimana dengan mudah saja engkau menjatuhkan hati, mencintaku?”

“Apakah untuk mencinta seseorang, harus melalui perkenalan yang lama, Koko? Tidak, aku mencintamu semenjak bertahun-tahun yang lalu, akan tetapi andaikata aku belum pernah mengenalmu, begitu aku melihatmu, aku pun akan jatuh cinta.”

“Tidak mungkin!”

“Bagaimana tidak mungkin?”

“Cinta timbul dari daya tarik seseorang, bukan hanya dari wajah dan bentuk tubuh. Daya tarik keluar dari segala gerak-geriknya, bicaranya, pandang matanya, senyumnya, pendeknya di antara dua orang yang saling mencinta ada daya tarik yang saling menguasai dan saling menarik, sesuai dengan selera hati masing-masing. Baru bertemu sudah jatuh cinta? Betapa janggalnya!”

“Koko, apakah kau tidak cinta kepadaku?”

Read the rest of this entry »

Istana Pulau Es bagian 53

Posted in Istana Pulau Es at 3:07 pm by riza

Setelah mereka pergi jauh, Han Ki berhenti dan menoleh kepada Siauw Bwee, mengomel, “Engkau sungguh membikin aku kehilangan muka dan menjadi serba salah. Apa sih maksudmu bersikap seperti ini? Apakah engkau ingin merusak nama baikku? Dan mengapa pula segala sandiwara ini? Aku tahu bahwa kalau kauhendaki, Bu-koksu sendiri tidak akan mampu membunuhmu!”

Siauw Bwee kagum bukan main. Biarpun ingatannya hilang, suhengnya ternyata amat lihai dan pandang matanya masih amat tajam sehingga dapat melihat permainan sandiwaranya tadi. Dia harus berhati-hati, kalau tidak, suhengnya tentu tidak akan mau ikut bersama dia.

“Sudah kukatakan kepadamu, aku cinta padamu dan melihat engkau sakit hebat, aku berusaha mengajakmu kepada supekku untuk diobati.”

“Kau gila! Aku tidak sakit, aku sehat!” Han Ki menggerak-gerakkan kaki tangannya memperlihatkan bahwa dia benar-benar sehat.

“Bukan badanmu yang sakit, melainkan ingatanmu. Tahukah engkau, siapa sebenarnya engkau ini?”

Read the rest of this entry »

Istana Pulau Es bagian 52

Posted in Istana Pulau Es at 2:22 pm by riza

Sehari semalam kedua orang itu mandi dalam telaga asmara, tiada bosan-bosannya dan pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali sebelum sinar matahari mengusir kegelapan malam, keduanya mengakhiri permainan cinta mereka karena sudah tiba saatnya dalam perjanjian mereka untuk membebaskan Yan Hwa dan Ji Kun.

Dengan hati penuh kagum dan puas, Suma Hoat mencium Yan Hwa sambil berkata,

“Ah, engkau dan aku cocok sekali, Yan Hwa.”

Sejenak Yan Hwa membalas ciuman itu, kemudian didorongnya dada Suma Hoat sambil berkata, “Cukup, Suma Hoat. Kau tahu bahwa aku melakukan semua itu untuk menebus keselamatan aku dan suheng.”

“Ha-ha-ha, tak usah kau berpura-pura, manis. Beranikah engkau menyangkal bahwa engkaupun, seperti aku, menikmati hubungan kita yang pendek ini?”

Read the rest of this entry »

Istana Pulau Es bagian 51

Posted in Istana Pulau Es at 11:31 am by riza

Karena telah mendengar rahasia penting dan hatinya gentar setelah melihat Kam Han Ki, Yan Hwa lalu menyelam, berenang di bawah permukaan air tanpa menimbulkan suara, meninggalkan tempat itu dan langsung dia menghubungi suhengnya, Can Ji Kun yang menyelundup dan bekerja sebagai tukang kuda.

Isyarat suitan yang dikeluarkan Yan Hwa segera mendapat balasan dan tak lama kemudian kedua orang kakak beradik seperguruan, juga sepasang kekasih ini, sudah saling berhadapan di belakang kandang kuda yang gelap. Ji Kun segera merangkul Yan Hwa dan dia berbisik kaget,

“Aihhh…. kenapa pakaianmu basah semua?”

“Aku baru saja menyelidiki perundingan di pondok telaga dengan hasil baik,” Yan Hwa balas berbisik.

“Engkau tentu kedinginan. Hayo masuk ke kamarku, tanggalkan pakaian basah ini dan kuhangatkan….”

“Hushhh, itu saja yang kaupikirkan, suheng. Dengarlah, kita harus pergi dari sini, sekarang juga!”

Read the rest of this entry »

Istana Pulau Es bagian 50

Posted in Istana Pulau Es at 11:05 am by riza

“Hushh! Aku bukan kepala perampok!” bentak Si Panglima yang disebut tai-ong (raja besar), sebutan yang biasa dipergunakan orang terhadap kepala perampok. “Sebut aku Tai-ciangkun, mengerti?”

“Baik, Tai-ciangkun….”

“Kalau engkau ingin hidup, mulai sekarang engkau harus menjadi seorang di antara gadis-gadis cantik di dalam kereta ini untuk dipersembahkan kepada Pangeran Ciu Hok Ong di Siang-tan. Engkau tidak boleh menceritakan tentang peristiwa malam ini kepada siapapun juga. Katakan bahwa engkau adalah seorang di antara mereka yang kami pilih. Kalau engkau menurut, engkau akan hidup mewah dan mulia di istana Pangeran, mungkin menjadi selir Pangeran yang terkasih, sedikitnya menjadi pelayan istana. Kalau menolak, sekarang juga kusembelih lehermu sampai putus!”

“Iihhh…. ampun…. ampun, Tai-ciangkun…. hamba tidak berani menolak, hanya…. hamba harus memberi tahu ayah ibu dulu di dusun….”

“Tidak usah! Tinggal pilih, sekarang juga, ingin mati atau hidup?”

Yan Hwa menangis akan tetapi mengangguk-angguk. “Baik, Tai-ciangkun…. hamba…. hamba menurut….”

Read the rest of this entry »

« Previous entries ·