11.30.07

Pendekar Super Sakti bag 73

Posted in Pendekar Super Sakti at 9:27 am by riza

Ia memaksa diri tertawa. “Ha-ha, engkau bocah nakal! Masa engkau akan ikut kakakmu ini sampai kita menjadi kakek dan nenek?”

“Biar! Aku akan senang sekali, Koko. Biar aku tidak pernah kawin, aku akan ikut denganmu sampai mati!”

Han Han mengeraskan hatinya, mendorong tubuh Lulu dan memandang tajam wajah yang basah air mata itu. “Lulu, tidak boleh! Apakah engkau akan membikin hati kakakmu ini sengsara selamanya? Engkau adikku, dan seorang adik yang baik akan mentaati kakaknya. Adikku Lulu, tidak maukah engkau menyenangkan hati kakakmu dengan mentaati permintaanku? Engkau akan hidup bahagia bersama Sin Kiat, aku yakin akan hal ini. Dia seorang yang amat baik. Lulu, sekali lagi kuminta, penuhilah permintaanku ini!”

Sampai lama mereka saling pandang, dan akhirnya, dengan suara berat Lulu berkata lirih, “Han-koko…. kalau hal itu berarti kebahagiaanmu…. aku…. baiklah, aku menurut.” Dia lalu membenamkan muka di dada Han Han sambil menangis.

Han Han mendiamkan saja, membiarkan adiknya menangis. Setelah tangis adiknya mereda, ia lalu berkata, “Marilah kita menemui Nirahai. Kita minta dibebaskan, kalau dia berkemauan baik, tentu permintaan kita dia pehuhi. Kalau tidak, terpaksa aku akan menggunakan kekerasan!” Tanpa menanti jawaban adiknya, Han Han menggandeng tangan Lulu, diajak meloncat ke pintu yang tertutup dengan terali besi. Dia sudah mempunyai sebatang tongkat kayu yang diberikan oleh penjaga atas permintaan Lulu.


“Koko, pintunya kuat sekali dan di luar ada penjaga-penjaga….!”

“Ssstttt, kau ikutlah saja,” kata Han Han yang menggunakan tongkatnya mengetuk-ngetuk pintu dan ketika para penjaga yang enam orang jumlahnya itu menengok, ia berkata, “Harap kalian suka membuka pintu ini, kami hendak menghadap Puteri Nirahai!”

“Ah, kami tidak berani! Kami diharuskan menjaga di sini dan tidak membolehkan kalian berdua keluar dari pintu!” Komandan jaga membantah dan enam orang itu sudah meraba gagang senjata golok mereka untuk menjaga segala kemungkinan.

Han Han tersenyum. “Kalau begitu, aku akan keluar sendiri!” katanya dan sekali tangan kanannya bergerak, terdengar suara keras dan pintu kamar itu jebol berikut jeruji-jeruji besinya, terlepas dari tembok! Enam orang penjaga itu menerjang maju, akan tetapi Han Han mengelebatkan tongkatnya dan robohlah mereka dalam keadaan lemas tertotok! Sambil menggandeng tangan adiknya, tenang-tenang saja Han Han meninggalkan tempat itu, keluar dari rumah tahanan untuk mencari Nirahai.

Para penjaga yang berada di luar menjadi kaget sekali dan mengurung. Han Han dan Lulu berdiri tegak, kemudian gadis itu berseru, “Apakah kalian sudah bosan hidup hendak menghalangi aku? Aku hendak mencari Suci Nirahai, kalian mau apa?”

Para perajurit Mancu sudah tahu bahwa gadis ini adalah adik seperguruan Puteri Nirahai, maka mereka tidak berani turun tangan mengganggu. Apalagi, di sudut hati mereka, para perajurit yang sudah mendengar akan kesaktian Han Han yang dijuluki Pendekar Super Sakti, merasa jerih terhadap pemuda berkaki satu itu. Kini mereka hanya dapat memandang, kemudian mengikuti dari belakang ketika Han Han dan Lulu berjalan menuju ke sebuah kemah besar yang berwarna merah, kemah yang ditinggali Puteri Nirahai. Berbeda dengan perkemahan yang dijadikan tempat tinggal para pahglima dan perwira yang selalu dijaga perajurit, di depan kemah merah ini tidak nampak penjaga. Nirahai memang seorang puteri yang tidak mau bersikap sebagai seorang pembesar tinggi yang gila hormat, ia tetap sederhana dan dia lebih condong hidup dan bersikap sebagai seorang kang-ouw yang mengandalkan diri sendiri dan hidup bebas tidak terikat banyak peraturan yang membosankan.

Di depan kemah merah itu, para perajurit bergerombol dan hanya memandang ketika melihat Han Han dan Lulu dengan tenangnya memasuki kemah. Selain para perajurit ini tidak berani mengganggu Lulu dan jerih terhadap Han Han, juga mereka telah mendapat peringatan keras dari Puteri Nirahai untuk tidak melakukan pertempuran selama sang puteri menjalankan siasat perdamaian dengan para pejuang, bahkan tidak boleh menyerbu ke Se-cuan melewati perbatasan sebelum ada perintah. Sisa pasukan istimewa yang tadinya dipimpin Ouwyang Seng, oleh sang puteri telah disuruh tangkap semua dan dikirim ke penjara besar untuk menerima hukuman!

Akan tetapi ketika mereka tiba di depan pintu ruangan dalam, Han Han dan Lulu berhenti karena mendengar suara lantang dari Nirahai yang terdengar marah.

“Tidak bisa! Biarpun Ouwyang-kongcu telah terbunuh, akan tetapi Pangeran Ouwyang Cin Kok masih tidak berhak untuk memerintahkan kepadaku mengirim kepala pembunuhnya! Dia kira siapakah dia itu yang bisa menjatuhkan perintah seperti itu kepadaku? Di daerah perang, di perbatasan ini, akulah yang berkuasa. Aku yang mewakili Ayahanda Kaisar dan semua orang tawanan adalah tanggung jawabku dan hanya aku seorang yang dapat menjatuhkan keputusan hukumannya! Tidak, aku tidak akan dan belum menjatuhkan hukuman mati kepada Suma Han dan aku tidak akan mengirimkan kepalanya kepada Pangeran Ouwyang Cin Kok seperti dimintanya! Ji-wi Locianpwe tahu bahwa kita sedang menjalankan politik perdamaian dengan kaum pejuang, sedangkan Suma Han tidak melakukan pelanggaran apa-apa. Pembunuhan yang dilakukannya terhadap Ouwyang-kongcu adalah urusan pribadi dan ji-wi cukup maklum apa yang menjadi sebabnya!”

Han Han dan Lulu mendengarkan dengan hati berdebar. Kemudian mereka mendengar suara Ma-bin Lo-mo penuh desakan dan penyesalan, “Mengapa Paduka menolak permintaan Pangeran Ouwyang Cin Kok? Bukankah pemuda buntung itu telah menimbulkan banyak kekacauan? Dan apakah Paduka lupa bahwa dahulu Paduka telah direncanakan untuk menjadi jodoh mendiang Ouwyang-kongcu! Dengan demikian, Ouwyang-kongcu menjadi tunangan Paduka. Setelah tunangan Paduka terbunuh secara keji, apakah Paduka tidak merasa terhina dan merasa sakit hati terhadap pemuda buntung itu?”

“Hi-hi-hik, Ma-bin Lo-mo, engkau ini sudah tua namun masih bodoh!” Terdengar suara Toat-beng Ciu-sian-li diseling suara berkerincingnya rantai gelang penghias kedua telinganya. “Apakah tidak depat menjenguk isi hati orang muda? Biarpun kakinya buntung sebelah, hati wanita muda yang manakah tidak akan tertarik? Dan kalau mau bicara tentang hati wanita, dari puteri sampai jembel pun tiada bedanya. Hi-hik!”

Tiba-tiba terdengar suara Nirahai penuh kemarahan, “Ji-wi adalah orang tua yang selalu membawa kotoran dalam hati dan pikiran ji-wi! Lekas ji-wi pergi dari sini, karena aku dapat melupakan bahwa ji-wi pernah membantu kami dan kalau aku turun tangan, apakah ji-wi kira aku tidak mampu membunuh kalian?”

“Puteri Nirahai, akulah musuh dan lawan mereka! Haiii, Ma-bin Lo-mo dan Toat-beng Ciu-sian-li, aku Suma Ham menantang kalian dan kutunggu di depan kemah, keluarlah kalau kalian berani!” Han Han berseru keras, menggandeng tangan adiknya dan keluar dari dalam kemah itu. Para perajurit memandang mereka ini dengan mata terbelalak. Mereka semua tidak tahu harus berbuat apa, maka hanya mengurung tempat itu sambil menanti perintah Puteri Nirahai.

Tak lama kemudian muncullah Nirahai, Ma-bin Lo-mo dan Toat-beng Ciu-sian-li dari dalam kemah. Melihat para perajurit, Nirahai lalu melambaikan tangan dan berkata, suaranya berwibawa, “Semua perajurit mundur, boleh menonton dalam lingkaran yang lebar, paling dekat sepuluh meter!”

Para perajurit lalu mundur dan karena semua ingin menonton dan mendengar, mereka lalu membentuk lingkaran mengelilingi tempat itu. Bahkan para perajurit lainnya yang mendengar lalu berdatangan sehingga tempat itu penuh oleh lingkaran perajurit-perajurit Mancu.

“Siapa yang mengeluarkan kalian?” Puteri Nirahai bertanya dengan keren sambil memandang Lulu.

“Suci, akulah yang memaksa keluar,” kata Lulu.

“Bukan! Akulah yang menjebol pintu karena para perjaga tidak mau membukanya. Kami hendak bicara denganmu, Puteri Nirahai. Akan tetapi mendengar suara dua orang tua bangka jahat ini, biarlah kutunda dulu pembicaraan kita dan sekarang aku menantang Ma-bin Lo-mo dan Toat-beng Ciu-sian-li untuk bertanding denganku!”

“Hemmm…. di puncak Tai-hang-san sudah kuputuskan bahwa kini kami mengadakan perdamaian dengan orang-orang kang-ouw. Apakah engkau menjadi wakil pemberontak Bu Sam Kwi dan menantang pembantu-pembantu pemerintah?” Nirahai bertanya.

Han Han menjawab tegas. “Sama sekali bukan. Aku dan adikku Lulu sekarang tidak sudi mencampuri perang. Aku menantang Ma-bin Lo-mo karena urusan pribadi, karena ingin membalaskan dendam puluhan orang anak murid In-kok-san yang orang tuanya telah dibunuhnya semua oleh Iblis Muka Kuda ini dan untuk membalaskan dendam terhadap kematian Lauw Sin Lian! Aku pun menantang Toat-beng Ciu-sian-li, karena berkali-kali dia hendak membunuhku, bahkan yang terakhir aku tentu telah mati dibunuhnya kalau tidak muncul Kim Cu sehingga hanya sebelah kakiku yang buntung. Aku tantang mereka berdua sebagai musuh pribadi!”

Di dalam lubuk hatinya, semenjak dua orang iblis tua itu muncul sebagai utusan Pangeran Ouwyang Cin Kok untuk minta kepala Han Han sebagai hukuman atas kematian Ouwyang Seng, Nirahai sudah mengambil keputusan untuk mengenyahkan dua orang itu. Dan ketika Han Han datang bersama Lulu, dia pun sudah tahu maka dia sengaja bicara keras. Kemudian, tantangan Han Han terhadap dua orang itu menggirangkan hatinya, maka puteri cerdik ini tidak mengusir para perajurit, bahkan memperkenankan mereka menonton agar mereka mendengar dan menjadi saksi atas pertandingan yang memang ia harapkan ini. Ia tahu bahwa Han Han telah sembuh dan bahwa pemuda itu amat sakti, tentu sanggup menandingi mereka berdua. Maka kini dengan aksi mengangkat pundak ia berkata.

“Pemerintah tidak akan mencampuri urusan dendam pribadi, bahkan selalu akan menjadi saksi. Terserah tanggapan Ma-bin Lo-mo dan Toat-beng Ciu-sian-li atas tantangan Suma Han, kami tidak mencampurinya, hanya ingin melihat pertandingan yang adil dan sah!”

Dua orang datuk kaum sesat itu diam-diam merasa jerih terhadap Han Han, akan tetapi untuk menolak tantangan, tentu saja mereka merasa malu. Pula, mereka adalah dua orang tokoh besar, masa harus melarikan diri terhadap tantangan seorang pemuda yang buntung sebelah kakinya? Biarpun kini tidak ada tokoh kang-ouw yang menyaksikan, bahkan kedua orang pendeta yang menjadi utusan Pangeran Kiu juga telah kembali ke Se-cuan, namun ada ratusan orang perajurit Mancu menjadi penonton. Akan tetapi, Toat-beng Ciu-sian-li masih berusaha untuk menghindarkan pertandingan dan berkata.

“Suma Han, engkau sekarang mengakui sebagai keturunan Suma! Jai-hwa-sian Suma Hoat adalah Kakekmu! Lupakah engkau bahwa aku adalah isteri Kakek Buyutmu Suma Kiat? Aku adalah Nenek Buyutmu sendiri! Hayo berlutut memberi hormat atas kekurangajaranmu menantangku!”

Akan tetapi Han Han tertawa mengejek. “Tidak kusangkal bahwa aku menyesal sekali, adalah keturunan keluarga Suma yang jahat seperti keluarga iblis itu! Engkau adalah seorang di antara selir-selir Suma Kiat yang tentu banyak jumlahnya, entah selir yang syah ataukah selir gelap-gelapan! Akan tetapi aku tidak akan mengakuimu, bahkan andaikata Kakekku yang berjuluk Jai-hwa-sian itu masih hidup, kalau mengingat akan kejahatannya, dia akan kutantang pula!

Toat-beng Ciu-sian-li, aku ulangi lagi tantanganku kepadamu, bukan sekali-kali sebagai nenek buyut, melainkan sebagai seorang datuk kaum sesat yang telah menumpuk dosa. Ataukah kau tidak berani melawan bekas muridmu sendiri yang telah kaubuntungi kakinya? Dan engkau, Ma-bin Lo-mo, apakah engkau telah berubah menjadi pengecut, lebih pengecut daripada perbuatanmu membunuhi keluarga para murid In-kok-san?”

Kemarahan dua orang tokoh tua itu memuncak dan biarpun mereka maklum akan kesaktian Han Han, namun keduanya juga memiliki kepandaian yang sudah amat tinggi tingkatnya. Toat-beng Ciu-sian-li memekik dan begitu tangannya bergerak, tiga sinar terang menyambar ke arah dahi, dada dan pusar Han Han. Itulah senjata gelap gelang yang ia lolos dari rantai gelang di telinganya.

“Lulu, mundur!” Han Han berteriak.

Lulu meloncat ke dekat Nirahai dan Han Han menggerakkan tangannya, dengan hawa pukulan sin-kang yang kuat sekali ia membuat tiga buah gelang itu menyeleweng dan menghilang ke dalam tanah di depan kakinya!

“Wuuuttt, tring-tring-tranggggg….!” Toat-beng Ciu-sian-li sudah menerjang maju dan sekaligus kedua anting-anting rantai gelang rambutnya yang panjang dan kedua tangannya sudah bergerak melakukan penyerangan secara berbareng.

“Singgg…. ngiuuukkkkk….!” Ma-bin Lo-mo juga sudah menerjang maju, golok melengkung di tangan kanan menjadi gulungan sinar, tangan kirinya memukul dengan pengerahan tenaga Swat-im Sin-ciang!

“Cuat-cuattt….!” Tubuh Han Han mencelat seperti kilat dan telah lolos dari kepungan serangan yang amat hebat itu. Tubuhnya bergerak-gerak dengan loncatan aneh sehingga pandang mata Ma-bin Lo-mo dan Ciu-sian-li menjadi kabur. Mereka harus membelalakkan mata bergerak cepat dan bersikap waspada.

“Heiiiii! Mengapa main keroyok? Ini tidak adil!” Nirahai berseru. Biarpun ia tidak khawatir melihat pengeroyokan atas diri Han Han, namun sebagai saksi dan juri, dia harus mencela agar tidak dianggap berat sebelah.

“Terima kasih, Puteri. Biarlah mereka mengeroyok, memang selama hidupnya orang-orang seperti mereka ini hanya mengandalkan kemenangan dengan kecurangan!” Han Han mengejek.

Kedua orang itu menjadi makin marah, akan tetapi tentu saja mereka menulikan telinga terhadap ejekan-ejekan ini karena maklum bahwa kalau maju seorang demi seorang, tentu mereka akan celaka. Tanpa menjawab, mereka telah mengirim serangan secara bertubi-tubi. Han Han tetap mainkan ilmu Silat Soan-hong-lui-kun yang amat hebat, tubuhnya lenyap dan hanya tampak berkelebatnya bayangannya yang saking cepat gerakannya sampai seolah-olah berubah menjadi banyak itu. Dia hanya mengelak dengan loncatan-loncatan ke sana-sini sehingga tampaknya seperti dua orang anak-anak yang canggung mengejar dan berusaha untuk memukul seekor lalat yang amat cekatan.

Ma-bin Lo-mo Siangkoan Lee adalah seorang ahli bermain golok melengkung, dan tenaganya Swat-im Sin-ciang amat kuatnya, bahkan lebih kuat daripada tenaga sin-kang Setan Botak, lebih kuat pula dari tenaga sin-kang Toat-beng Ciu-sian-li. Akan tetapi nenek itu jauh lebih berbahaya karena biarpun sin-kangnya tidak sekuat Ma-bin Lo-mo, namun dalam hal ilmu silat, Toat-beng Ciu-sian-li Bu Ci Goat lebih lihai dan banyak sekali macam ilmunya. Nenek ini puluhan tahun lamanya berkecimpung di dunia kaum sesat, mempelajari bermacam ilmu dan sebagai selir terkasih Suma Kiat, dia menuruni pula ilmu-ilmu aneh dan mengerikan dari suaminya itu. Dia ahli mempergunakan rambutnya sebagai senjata. Biar rambutnya sudah banyak ubannya, namun masih panjang dan rambut yang halus ini berbahaya sekali, dapat melibat senjata lawan, dapat menjerat leher, dan bahkan dapat pula menjadi keras menegang dan digunakan sebagai alat penotok jalan darah! Senjata rantai gelang yang tergantung di kedua telinganya juga merupakan senjata yang ampuh sekali, karena selain sukar diduga gerakannya karena digerakkan bukan dengan tangan melainkan dengan gerakan kepala, menjadi imbangan yang membingungkan bagi lawan dengan gerakan penyerangan rambut. Ditambah lagi dengan kuku-kuku jari tangannya yang beracun, telapak tangannya yang mengandung hawa pukulan Toat-beng-tok-ciang (Tangan Beracun Pencabut Nyawa) yang biarpun tidak sekuat Swat-im Sin-ciang, namun mengandung hawa beracun yang jahat sekali!

Han Han yang sudah beberapa kali bertanding melawan dua orang ini, tahu bahwa dikeroyok dua orang ini sama dengan dikeroyok sedikitnya sepuluh orang. Yang paling berbahaya baginya adalah si nenek yang sambil menyerang menyembunyikan anting-antingnya, suaranya berkerincingan mengacaukan perhatian bahkan bagi para pendengar yang tidak memiliki sin-kang kuat, dapat menggetarkan jantungnya. Baiknya para perajurit menonton dari jarak jauh sehingga getaran suara itu hanya membuat mereka menutupi telinga karena amat tidak enak didengar, seperti orang mendengar suara kaleng digurat-gurat. Maka, kini setelah berloncatan ke sana-sini dan gerakan ilmu gerak kilat pada kaki tunggalnya sudah lancar, mulailah ia membalas dengan serangan tongkat yang ia mainkan dengan gerakan Ilmu Pedang Siang-mo Kiam-sut, sedangkan tangan kirinya ia pukulkan dengan sin-kang yang berubah-ubah, kadang-kadang ia menggunakan inti tenaga Hwi-yang Sin-ciang, kadang-kadang ia menghadapi pukulan Ma-bin Lo-mo dengan tenaga yang sama, yaitu Swat-im Sin-ciang, namun jauh lebih kuat!

Kini mulailah Han Han menggunakan ilmunya Soan-hong-lui-kun yang memungkinkan ia berloncatan cepat menjauhi Toat-beng Ciu-sian-li dan mendesak Ma-bin Lo-mo! Toat-beng Ciu-sian-li maklum bahwa Han Han hendak merobohkan dulu murid keponakannya, maka berteriak-teriak dan mengejar terus. Namun gerakannya jauh kalah cepat oleh Han Han sehingga bagi para penonton yang tidak dapat mengikuti dengan pandangan mata biasa mereka seperti perajurit-perajurit Mancu itu, yang kelihatan hanya berkelebatan tubuh Han Han dan Ma-bin Lo-mo yang sibuk menangkis dengan goloknya, dan melihat nenek itu berlari-lari memutari tubuh Ma-bin Lo-mo sambil berteriak-teriak memaki seperti orang gila!

Ma-bin Lo-mo mempertahankan diri sekuatnya. Ketika melihat tongkat menyambar, ia mengerakkan tenaga mengayun goloknya menangkis, dan tangan kirinya sudah menghantam ke arah bayangan Han Han dengan Swat-im Sin-ciang. Saat inilah yang dinanti-nantikan oleh Han Han. Tongkatnya ia pukulkan dengan kuat, dan tangan kanannya menyambut pukulan itu dengan tenaga Im-kang pula yang jauh lebih kuat. Dua senjata bertemu di udara, tepat pada saat dua telapak tangan mereka bertemu.

“Krakkk! Desss….!” Golok patah menjadi tiga dan tubuh Ma-bin Lo-mo menggigil, kemudian ia terhuyung mundur, dari telinga, mata, hidung dan mulut juga dari lubang-lubang di bawah tubuh, mengucur darah dan akhirnya roboh dengan napas putus. Tubuhnya berubah membiru dan kaku seperti sebatang kayu karena tubuh itu sudah membeku!

“Becah setan….!” Toat-beng Ciu-sian-li memaki menutupi rasa gentarnya, semua senjatanya yang ampuh, rambut, sepasang rantai gelang dan kedua tangannya menyerang kalang-kabut.

Ketika Han Han menggunakan tongkatnya menangkis, sepasang rantai gelang yang panjang dan pendek itu bergerak seperti dua ekor ular, tahu-tahu telah melibat-libat pada tongkat itu dan mendadak nenek itu menggerakkan kepalanya. Dua helai rantai gelang itu membetot ke kanan kiri. Han Han terkejut karena benar-benar amat kuat tarikan dua rantai gelang itu. Dia pun mengerahkan tenaga membetot.

“Krekkk-krekkk-kraaakkkkk!”

“Aihhhhh….!” Nenek itu menjerit. Tongkat Han Han patah-patah menjadi tiga potong, akan tetapi dua helai rantai gelang itu pun copot dari kedua telinga Si Nenek, merobek bagian bawah daun telinga di mana rantai itu tergantung! Nyerinya begitu hebat bagi seorang nenek yang demikian sakti, akan tetapi rasa kaget dan malu membuat ia menjadi marah dan nekat. Kepalanya bergerak dan rambutnya sudah membelit leher Han Han.

Pemuda ini tak sempat mengelak, rambut itu seperti hidup, tahu-tahu telah membelit dan mencekik leher. Otomatis kedua tangannya ia gerakkan ke leher untuk melepaskan libatan dan menarik putus rambut itu, akan tetapi pada saat itu, Toat-beng Ciu-sian-li Bu Ci Goat sudah menggerakkan kedua tangannya yang berkuku panjang, yang kiri mencengkeram ke arah ulu hati, sedangkan yang kanan mencengkeram ke bawah pusar Han Han untuk meremas hancur anggauta kelaminnya!

“Koko, awas….!” Tak tertahankan lagi Lulu yang menyaksikan gerakan nekat dan curang itu berseru. Nirahai menonton dengan sepasang mata tak pernah berkedip dan hatinya menjadi tegang, namun ia tetap waspada untuk mencegah kalau-kalau Lulu yang sudah tak enak berdiri sejak tadi itu turun tangan membantu kakaknya.

Han Han sekarang bukanlah seperti Han Han dahulu ketika baru keluar dari Pulau Es. Setelah menerima gemblengan dari Khu Siauw Bwee, dia telah menguasai ilmu silat tinggi dan memiliki kewaspadaan seorang ahli. Dia tidak akan patut disebut orang sebagai Pendekar Super Sakti kalau dia tidak melihat gerakan kedua tangan nenek itu. Dari gerakan pundak saja ia sudah mengetahui lebih dulu sebelum kedua tangan nenek itu menerkam tubuhnya. Ia membiarkan lehernya tercekik, mengerahkan tenaga untuk melindungi leher sehingga cekikan tidak menghalangi pernapasannya, berbareng secepat kilat ia menggerakkan kedua tangan menerima kedua tangan nenek itu sehingga dua pasang telapak tangan bertemu. Nenek itu terus mencengkeram kedua tangan Han Han sambil mengerahkan tenaga Toat-beng-tok-ciang. Akan tetapi Han Han tidak menolak, malah pemuda ini pun mengerahkan sin-kang, yang kiri mengerahkan inti Swat-im Sin-ciang, yang kanan mengerahkan Hwi-yang Sin-ciang!

Dua orang itu berdiri tegak, rambut nenek itu mencekik leher, kedua pasang tangan mereka saling cengkeram dan terjadilah adu tenaga yang amat menegangkan bagi Lulu dan Nirahai. Mereka berdua maklum bahwa Han Han dan nenek itu mengadu tenaga sakti yang amat berbahaya.

Kini tangan kiri nenek itu yang bertemu tangan kanan Han Han yang mengepulkan asap dan kuku-kukunya yang panjang hangus, sedangkan tangan kanannya menggigil. Muka nenek itu sebentar pucat sebentar merah, napasnya terengah-engah dan ia berkata parau.

“Aku Nenek Buyutmu…. Nenek Buyutmu….!” dan dari kedua mata nenek itu bercucuran air mata!

Han Han merasa muak, juga kasihan. Air mata hanya dapat dikeluarkan dari hati yang baik! Hanya orang yang berduka, orang yang menyesali perbuatannya, orang yang kalah dan tertekan batinnya saja yang akan dapat mengucurkan air mata. Dan tak dapat disangkal lagi, menangis sama dengan berdoa, karena hanya orang yang menangis saja yang mendekatkan hatinya dengan Tuhan!

“Pergilah!” seru Han Han dan ia mengerahkan semua tenaganya, mendorong dan tubuh nenek itu terlempar dibarengi jeritnya yang menyayat hati. Rambutnya masih melibat leher Han Han karena dalam saat terakhir itu, nenek ini masih tidak mau melepaskan niatnya membunuh Han Han, maka masih melakukan perlawanan. Kalau saja dia mengaku kalah dan tidak melakukan perlawanan dengan seluruh tenaga, agaknya ia akan terlempar saja dan masih selamat. Akan tetapi ia melawan, maka selain rambut kepalanya coplok dan tertinggal semua di leher Han Han, juga tenaga yang ia kerahkan di kedua tangannya membalik dan menghantam isi dadanya sendiri. Ia terbanting dengan kepala tak berambut lagi, kedua telinga robek, dan tubuhnya hangus sebelah. Toat-beng Ciu-sian-li Bu Ci Goat tewas dalam keadaan yang lebih mengerikan daripada kematian Ma-bin Lo-mo Siangkoan Lee!

Lulu berlari menghampiri kakaknya dan memeluk pundak Han Han yang melepaskan libatan rambut dan membuang rambut itu dengan helaan napas panjang. Kemudian ia melepaskan pelukan Lulu dan menengok ke kiri. Juga Lulu mendengar suara ribut-ribut di antara para perajurit. Nirahai sendiri pun memandang ke jurusan itu dan wajahnya berubah, keningnya berkerut.

“Katanya diadakan perdamaian, kenapa hendak menghadap Puteri Nirahai saja kalian ribut-ribut hendak menggunakan kekerasan?” Terdengar suara lantang di antara hiruk-pikuk suara para perajurit.

“Sin Kiat….!” Han Han berseru girang.

“Biarkan mereka menghadap!” perintah Puteri Nirahai. Para perajurit mundur dan membuka jalan, membiarkan serombongan orang muda memasuki tempat itu. Mereka terdiri dari belasan orang muda, Sin Kiat berjalan di depan dan orang-orang muda lainnya adalah murid-murid In-kok-san, empat orang gadis dan belasan orang pemuda yang kesemuanya bersikap gagah. Han Han melihat di antara mereka para murid In-kok-san ada yang pernah menyerang Nirahai dalam jolinya.

Melihat Han Han dan Lulu, Sin Kiat berteriak girang dan lari menghampiri. Akan tetapi ketika melihat Puteri Nirahai berdiri di situ, Sin Kiat lalu menghadap puteri itu dan berkata gagah, “Aku bernama Wan Sin Kiat dan kawan-kawan ini adalah murid-murid In-kok-san. Kami mendengar keributan yang terjadi di sini, mendengar bahwa sahabat-sababatku Han Han dan Nona Lulu tertawan, maka kami datang untuk mengajukan protes. Pemerintah mengumumkan perdamaian akan tetapi mengapa sahabat-sahabatku ditawan?”

Sementara itu, para murid In-kok-san memandang mayat-mayat Ma-bin Lo-mo dan Toat-beng Ciu-sian-li dengan mata terbelalak, bahkan empat orang gadis itu menangis, bukan karena duka melainkan karena terharu melihat betapa musuh besar mereka, Ma-bin Lo-mo bekas guru yang ternyata menjadi pembunuh keluarga mereka, kini telah menggeletak tak bernyawa.

Puteri Nirahai tersenyum dan memandang dengan sinar mata dingin. “Apa yang terjadi di sini bukanlah urusan perang, melainkan urusan pribadi. Dan kalian melihat sendiri, kedua orang yang kaumaksudkan itu tidak lagi menjadi tawanan kami. Bahkan kami memberi kebebasan kepada Suma Han untuk bertanding melawan dua orang musuhnya tanpa campur tangan dari kami!”

Lega hati Sin Kiat mendengar ini dan ia menghampiri Han Han, memegang tangan sahabatnya itu dan memandang penuh kagum, kemudian menoleh kepada Lulu dengan sinar mata penuh kebahagiaan dapat bertemu kembali dengan Lulu, penuh kemesraan sehingga wajah Lulu berubah merah sekali.

“Suma Han! Engkau sudah merobohkan dua orang musuhmu, dan kalau Lulu Sumoi mau pergi, silakan. Kalau engkau hendak pergi, aku pun tidak akan menghalangi, hanya di sini aku menantang engkau untuk berpibu mengadu kepandaian denganku pada malam nanti, tepat tengah malam, di puncak Gunung Cengger Ayam di sebelah utara itu. Aku akan menanti di sana dan kalau engkau tidak datang, aku hanya akan menganggap engkau sebagai seorang laki-laki sombong yang hanya berani melawan orang-orang lemah, juga seorang pengecut besar!”

“Nirahai….!” Han Han terkejut dan menyebut nama itu tanpa disadarinya. Akan tetapi, sambil mengebutkan lengan bajunya, Nirahai sudah membalikkan tubuh dan pergi memasuki kemahnya.

Lulu menarik tangan Han Han dan pergilah orang muda itu dari tempat itu. Dua orang murid In-kok-san mengangkat jenazah Ma-bin Lo-mo dan Toat-beng Ciu-sian-li sambil berkata, “Mereka ini orang-orang jahat di waktu hidup mereka, akan tetapi ini adalah jenazah-jenazah manusia dan mengingat bahwa kami pernah menerima gemblengan mereka, kami akan memakamkan jenazah mereka sebagaimana mestinya.”

Han Han menjadi terharu dan memandang kagum. Para perajurit tidak ada yang berani menghalangi rombongan ini keluar dari daerah perbatasan. Setelah murid-murid In-kok-san membawa pergi dua jenazah itu, hanya tinggal Han Han, Lulu dan Sin Kiat yang duduk di dalam hutan. Han Han menceritakan pengalamannya bersama Lulu, sedangkan Sin Kiat juga menceritakan betapa dia menari-cari Han Han dan kemudian kebetulan sekali mendengar bahwa Sin Lian dan Hian Ceng tewas dalam penyerbuan mereka ke perkemahan Ouwyang Seng, mendengar pula berita mengejutkan bahwa Ouwyang Seng juga terbunuh dan Han Han ditawan bersama Lulu. Maka dengan nekat ia lalu menyusul, bertemu dengan rombongan murid In-kok-san yang kesemuanya merupakan teman-teman seperjuangan dan yang ikut pula bersamanya karena pada waktu itu perang telah dihentikan.

Setelah mereka menceritakan perjalanan masing-masing, Han Han lalu bertanya sambil memandang Sin Kiat dengan sinar mata tajam penuh selidik, “Sin Kiat, engkau adalah sahabatku terbaik, sahabat semenjak kita kecil. Katakanlah sejujurnya, di depan adikku, apakah engkau setulus hatimu mencinta Lulu?”

Wajah Sin Kiat menjadi merah, dan Lulu yang kedua pipinya menjadi merah pula menunduk, jari-jari tangan kirinya mencabuti rumput di dekat kakinya, jantungnya berdebar. Setelah mendengar keputusan Han Han dalam kamar tahanan, begitu Sin Kiat muncul, ia amat memperhatikan pemuda itu dan memang pemuda ini tak dapat dicela, gagah perkasa dan tampan, sikapnya pun menyenangkan. “Han Han, seorang laki-laki sejati tidak akan mempermainkan cinta kasih. Aku telah menyatakan kepada Adik Lulu tentang cinta kasihku kepadanya. Aku bersumpah, disaksikan bumi dan langit bahwa aku mencinta Adik Lulu sepenuh hatiku, mencinta dengan jiwa ragaku!”

Lega hati Han Han mendengar ini. “Dan engkau berjanji akan melindunginya seperti engkau melindungi dirimu sendiri?”

“Lebih dari itu! Kalau aku diberi kehormatan besar itu, aku akan mendahulukan keselamatan dan kepentingannya. Aku rela berkorban nyawa untuk melindunginya!”

Han Han menoleh kepada Lulu yang makin menunduk, memegang tangan adiknya dan berkata, “Nah, engkau mendengar sendiri, Lulu. Engkau tidak akan menyesal selama hidupmu. Maka sekarang jawablah terus terang saja, aku menjadi saksinya. Apakah engkau bersedia kalau dijodohkan dengan Sin Kiat?”

Sepasang mata yang indah dan lebar itu terangkat, memandang Han Han dan dua butir air mata jatuh berderai di atas kedua pipinya, bibirnya gemetar ketika ia berkata lirih, “Kalau itu yang kaukehendaki….”

“Memang aku menghendaki engkau berjodoh dengan Sin Kiat, adikku. Akan tetapi tentu saja aku tidak akan memaksamu kalau engkau tidak setuju. Jawablah. Maukah engkau menjadi jodoh Wan Sin Kiat?”

Lulu menunduk dan menganggukkan kepalanya. Gerakan ini membuat dua butir air mata baru jatuh lagi. Sin Kiat hampir tidak dapat percaya akan mata dan telinganya sendiri. Mau rasanya ia menari-nari saking girangnya, akan tetapi tentu saja ia merasa malu, hanya jantungnya yang berdebar-debar menari-nari di dalam rongga dadanya.

“Sin Kiat, engkau telah melihat sendiri. Adikku sudah sepatutnya menjadi ratu rumah tangga. Sekarang harap engkau suka mengajak Lulu pergi dan mempersiapkan acara pernikahan. Siapakah yang akan menjadi walimu dan di mana kiranya upacara itu akan dilaksanakan?”

“Aku sudah mengambil keputusan untuk mohon kepada suhu agar suka menjadi waliku, adapun tempatnya, kurasa paling baik di rumah Tan-piauwsu.”

“Hemmm…. di Pek-eng-piauwkiok? Di kota Kwan-leng?”

“Benar, aku tidak mempunyai keluarga, dan Tan-piauwsu adalah orang yang amat baik, kuanggap keluarga sendiri.”

“Baiklah. Kau berangkatlah bersama Lulu ke Kwan-teng, buatlah persiapan upacara pernikahan. Tiga bulan lagi semenjak hari ini, aku akan menyusul ke sana.”

Lulu tiba-tiba mengangkat muka dan berkata, “Koko, kenapa begitu? Kenapa engkau tidak sekalian pergi bersama kami? Engkau hendak pergi ke mana?”

“Masih ada urusan yang harus kuselesaikan, Moi-moi. Pertama-tama, malam ini aku harus memenuhi tantangan pibu dari Puteri Nirahai.”

“Aihhhhh….! Aku…. aku ikut denganmu, Koko! Puteri Nirahai adalah suciku, dan engkau adalah kakakku. Kini kalian hendak mengadu kepandaian. Suci amat sakti, Koko, bagaimana kalau…. kalau…. ahh, aku hendak menjadi saksi!”

“Tidak boleh, Lulu. Dia mengajak pibu di tengah malam di puncak Gunung Cengger Ayam, hal ini berarti bahwa dia tidak akan membawa teman dan tidak menghendaki saksi. Mungkin dia merasa malu kalau-kalau akan kalah. Tenangkanlah hatimu, aku akan berusaha mencapai kemenangan tanpa harus membunuhnya. Kau berangkatlah sekarang juga bersama Sin Kiat dan tunggu kedatanganku di Kwan-teng tiga bulan lagi.”

Wajah Lulu menjadi pucat dan ia terisak menangis. “Bagaimana kalau…. kalau engkau tidak datang, Koko? Kita baru saja bertemu dan berkumpul dan…. dan…. engkau sudah menyuruhku pergi…. aku tidak ingin berpisah denganmu.”

Han Han merasa jantungnya perih, akan tetapi ia memaksa diri tersenyum dan memegang pundak adiknya. “Aku pasti akan datang, Lulu. Tidak ada peristiwa yang lebih penting bagiku melebihi upacara pernikahanmu, melihat engkau berbahagia. Hanya kematian saja yang akan mampu menggagalkan kedatanganku tiga bulan mendatang di Kwan-teng, akan tetapi andaikata demikian, aku pun akan puas karena percaya bahwa di sampingmu ada Sin Kiat yang akan membela dan melindungimu dengan sepenuh jiwa raganya. Berangkatlah, Lulu dan kau sudah berjanji akan menjadi adik yang baik, yang mentaati permintaan kakaknya, bukan?”

“Koko….!” Lulu menubruk dan karena Han Han sudah bangkit berdiri, ia merangkul kaki tunggal itu sambil menangis. Berat sekali rasa hatinya untuk pergi meninggalkan Han Han. Hampir saja Han Han tidak dapat menahan keharuan hatinya dan kalau ia sampai balas memeluk adiknya, tentu dia akan membiarkan adiknya ikut dia dan kelak bersama-sama ke Kwan-teng. Akan tetapi ia mengeraskan hatinya, lalu berkata kepada Sin Kiat yang memandang penuh keharuan dan bingung apa yang harus ia lakukan.

Boycott Trend Micro

Leave a Comment