12.02.07

Pendekar Super Sakti bag 77

Posted in Pendekar Super Sakti at 12:38 pm by riza

Han Han mempergunakan kesempatan itu berkata cepat, “Nirahai, engkau menjadi tawananku. Biarlah aku melarikan engkau dari tempat ini!” Nirahai hanya mengangguk karena masih kagum menyaksikan pengaruh ilmu Han Han terhadap empat orang pelayannya. Bagi kedua matanya, Han Han tetap seperti biasa, sama sekali tidak berkepala singa! Han Han cepat menggerakkan jari tangan kanannya, menepuk pundak Nirahai dan menotok jalan darahnya sehingga Nirahai terkulai lemas. Han Han lalu menyambar tubuh kekasihnya, memanggulnya di pundak kanan setelah menyelipkan senjata kekasihnya di pinggangnya. Cepat seperti kilat menyambar ia sudah meloncat keluar dari dalam kamar itu, terus berlari keluar dari pintu samping dari mana tadi ia masuk bersama empat orang pelayan.

Keadaan di luar geger tidak karuan ketika empat orang pelayan itu menjerit-jerit dan berlari keluar. Sampai lama mereka tidak dapat bicara, hanya mengeluarkan jerit seperti orang mengigau, “Ssseeettttt…. taaaaannn…. singaaa….!” sehingga akhirnya para pengawal yang kebingungan menangkap lengan mereka untuk ditanyai.

Memang inilah yang dikehendaki Han Han maka dia tadi membikin takut empat orang pelayan, yaitu untuk mengacaukan keadaan para pengawal yang menjaga di luar. Dalam keadaan kacau-balau dan tidak teratur itu karena semua pengawal menjadi panik melihat betapa empat orang pelayan sang puteri yang biasanya gagah perkasa itu menjerit-jerit karena melihat setan sehingga mereka lupa membunyikan tanda bahaya dan lupa melapor, tiba-tiba Han Han berkelebat, mencelat keluar sambil memondong tubuh Nirahai yang terkulai lemas.


“Celaka….! Tangkap penjahat!” teriak seorang di antara mereka.

“Itu dia….! Puteri telah diculik!”

“Tangkap!”

“Kejar….!” Makin paniklah para pengawal itu dan geger keadaan di istana ketika bunyi kentongan tanda bahaya dipukul gencar. Para pengawal melakukan pengejaran, akan tetapi siapakah yang dapat mengejar pemuda buntung yang meloncat dengan gerakan seperti terbang ke atas dan dalam sekejap mata saja lenyap ditelan kegelapan malam? Han Han memang sengaja tidak mau menggunakan kekerasan menghadapi banyak pengawal karena menghadapi banyak sekali orang tentu saja tak mungkin Ilmu I-hun-to-hoat dipergunakannya untuk mempengaruhi sedemikian banyaknya orang. Dia memang tidak takut untuk menggunakan kekerasan melawan mereka, akan tetapi, semenjak bertemu dengan Koai-lojin dan menerima wejangan-wejangan kakek sakti itu, ia merasa menyesal atas sepak terjangnya yang sudah-sudah dan berjanji dalam hatinya tidak akan lagi melakukan pembunuhan dan hanya akan menundukkan lawan dengan kepandaiannya. Tentu saja dia tidak suka untuk melawan para pengawal dan kesalahan tangan membunuh mereka yang tidak berdosa, apalagi kalau bahwa hal itu akan memperbesar pertentangan antara Nirahai dengan keluarganya.

Gerakan Han Han yang amat cepat tidak memungkinkan para pengawal untuk mengejarnya, tidak dapat menggunakan anak panah karena khawatir kalau-kalau mengenai tubuh Puteri Nirahai yang dipanggul pemuda itu. Dengan demikian, tanpa banyak kesukaran lagi Han Han berhasil membawa Nirahai keluar dari istana, kemudian melarikan diri melalui pintu gerbang kota raja. Beberapa puluh orang tentara penjaga yang berusaha menghadangnya, roboh terpelanting ke kanan kiri dan senjata-senjata mereka terlempar beterbangan ketika Han Han menggerakkan tongkatnya, dan dalam waktu beberapa menit saja Han Han telah menerobos keluar dari pintu gerbang dan lenyap dalam gelap.

Setelah keluar dari benteng, Han Han menurunkan Nirahai dan membebaskan totokannya, kemudian tanpa bicara lagi mereka melanjutkan perjalanan dan lari dengan cepat. Han Han mengerti bahwa perasaan Nirahai tertekan sekali maka dia tidak mengeluarkan kata-kata, hanya berlari sambil menggandeng tangan kekasihnya.

“Ke manakah kita pergi?” Tiba-tiba Nirahai bertanya tanpa mengurangi kecepatannya berlari.

“Kita pergi ke tempat yang sunyi dan indah di dekat telaga.”

Nirahai tidak berkata-kata lagi dan mereka berlari terus. Han Han merasa tidak enak hatinya. Bagi dia sendiri, tentu saja peristiwa ini amat menyenangkan hatinya. Ia mencinta puteri yang jelita ini dan mereka telah dijodohkan oleh kedua orang guru mereka, Nenek Maya dan Nenek Khu Siauw Bwee. Andaikata dia diterima oleh kaisar dan tinggal di istana, tentu dia akan merasa sengsara dan tidak betah. Dengan cara sekarang ini, membawa Nirahai melarikan diri, dia merasa lebih bebas dan dia yakin akan mendapatkan kebahagiaan besar apabila dapat hidup berdua sebagai suami isteri bersama Nirahai dan merantau berdua, atau tinggal di suatu tempat berdua saja! Memang, bagi dia, peristiwa di istana ini amatlah menyenangkan. Akan tetapi, dia mengerti betapa peristiwa itu amat menghimpit perasaan hati Nirahai. Dia mengenal Nirahai sebagai seorang puteri kaisar yang luar biasa, tidak hanya cantik jelita dan berilmu silat tinggi, malah juga menjadi pimpinan angkatan perang yang menumpas para pemberontak dan sisa-sisa kerajaan lama yang belum mau tunduk terhadap pemerintah Mancu! Dara jelita yang perkasa ini mempunyai kesetiaan besar terhadap kerajaan ayahnya dan kini dia melarikan diri sebagai seorang tahanan dan pelarian. Betapa hal ini tidak akan menghancurkan cita-citanya? Hati Han Han khawatir sekali, akan tetapi dia tidak berkata apa-apa dan mempercepat gerakannya untuk mengimbangi larinya Nirahai yang amat cepat itu.

Mereka seolah-olah berlumba, berlumba ke mana? Ke arah pantai bahagia? Mudah-mudahan begitu, bisik hati Han Han. Dengan mesra ia menggunakan tangan kanannya menangkap tangan kiri Nirahai. Dara itu yang tadinya lari cepat tanpa bicara seperti orang termenung, menoleh dan mereka berdua saling pandang. Nirahai tersenyum dan balas menggenggam jari tangan Han Han. Sambil bergandeng tangan, kedua orang muda yang berilmu tinggi itu berlari cepat sekali, bayangan mereka menjadi satu berkelebat cepat di antara bayang-bayang pohon.

 “Indah sekali….! Indah dan sunyi….!” Nirahai berseru penuh kagum ketika mereka berdua tiba di pinggir telaga di mana terdapat dua buah bangunan mungil yang tadinya dijadikan tempat tinggal kakek sakti Koai-lojin.

Akan tetapi ketika pagi hari itu mereka tiba di situ dan Nirahai mengagumi pemandangan indah di kala sinar matahari pagi membakar permukaan telaga dengan warna kemerahan, Han Han tidak melihat semua keindahan itu karena tidak ada keindahan di dunia ini pada saat itu yang dapat menandingi keindahan wajah yang dipandangnya dari samping. Wajah yang lembut namun menyembunyikan kekerasan, wajah yang sejuk namun menyembunyikan api menggairahkan, wajah yang mirip benar dengan wajah Lulu!

“Memang indah, Nirahai. Indah sekali…. akan tetapi tidak sunyi. Dengan adanya kita berdua di sini, kesunyian musnah, dunia akan penuh dengan kita, dengan cinta kasih kita…. Nirahai….!”

Dara itu tergugah dari pesona dan menoleh lalu tersenyum penuh kebanggaan ketika ia mendapatkan sinar mata penuh kemesraan dan kasih sayang terpancar dari sepasang mata Han Han. Sinar mata yang demikian mesra dan hangat, cerah dan lembut, mengalahkan sinar matahari pagi. Nirahai menarik napas panjang ketika Han Han merangkul pundaknya. Ia merebahkan kepala, disandarkan di dada pemuda itu.

“Aaahhhhh….!” Nirahai menarik napas panjang, hatinya terasa lapang seolah-olah penuh dengan sinar matahari pagi, membuat ia merasa seperti akan terbang dan menari-nari di antara mega-mega putih berarak dan mandi cahaya matahari pagi yang mulai berwarna keemasan, indah sekali. “Han Han, adakah sinar matamu itu mencerminkan rasa hatimu? Adakah engkau benar-benar mencintaku seperti matahari mencinta permukaan telaga?”

Han Han menundukkan mukanya, menyentuh dan menelusuri permukaan dahi dan alis itu dengan ujung hidungnya sebelum menjawab lirih, “Nirahai kekasihku, aku cinta kepadamu, Nirahai….” Ia mempererat pelukannya dan hatinya penuh dengan cinta mesra. “Ahhh, betapa aku mencintamu, dengan sepenuh jiwa ragaku, sepenuh hatiku, aku rela mengorbankan jiwa ragaku untukmu, Nirahai!”
Dara itu memejamkan matanya, kembali menarik napas dan membelaikan pipinya di dagu Han Han yang menunduk, sikap yang amat manja bagi Han Han, mengingatkan ia akan sikap seekor kucing yang minta dibelai.

“Betapa hebat kekuasaan cinta….!” Hanya demikian Nirahai berkata, suaranya lirih seperti orang mengeluh, atau lebih mendekati lagi seperti orang merintih, rintihan yang menjadi penyambung antara nyeri dan nikmat, antara suka dan duka.

Bisikan ini membuat Han Han sadar akan anehnya peristiwa yang terjadi sekarang ini. Yang dipeluknya, yang diciumnya adalah seorang puteri kaisar! Seorang panglima besar dan merupakan orang amat berpengaruh, berkuasa dan penting dalam Kerajaan Mancu! Seorang dara yang cantik jelita sukar ditemukan keduanya, namun kini berada dalam pelukannya! Sukar untuk dapat dipercaya! Dan memang hebat sekali kekuasaan cinta, memungkinkan terjadinya hal yang agaknya tak masuk akal!

“Nirahai, apakah engkau juga telah benar-benar mencinta aku seperti cintaku kepadamu?” Han Han tak dapat menahan pertanyaan yang timbul dari hatinya yang masih sukar untuk dapat menerima kenyataan yang dianggapnya aneh itu.

Mendengar pertanyaan ini Nirahai mengangkat kepalanya yang bersandar di dada Han Han, memutar tubuh sehingga mereka berdiri berhadapan di pinggir telaga itu. Sejenak mereka beradu pandang kemudian terdengar suara Nirahai yang halus merdu namun tegas.

“Han Han, aku mengerti mengapa engkau masih mengajukan pertanyaan itu biarpun engkau yang cerdik tentu sudah merasa yakin akan cintaku dengan bukti yang sekarang kita hadapi. Aku telah meninggalkan kerajaan Ayahku, meninggalkan kedudukan dan kemuliaan, meninggalkan cita-cita dan lebih daripada itu semua, aku bahkan telah menjadikan diriku dimusuhi kerajaan dan keluarga. Semua ini hanya karena cintaku kepadamu. Masih belum cukupkah bukti dan pengorbanan itu?”

Han Han menarik napas panjang, hatinya penuh keharuan karena ia merasa sangsi apakah seorang pemuda berkaki buntung sebelah seperti dia, yang yatim piatu dan miskin, tidak mempunyai tempat tinggal, patut menerima cinta kasih seorang puteri seperti Nirahai?

“Maaf, Nirahai, bukan sekali-kali aku masih menyangsikan perasaan cintamu yang suci. Hanya saja…. yang membuat aku sukar untuk dapat percaya, bagaimana mungkin seorang puteri bangsawan seperti engkau menghancurkan nasib dan masa depanmu sendiri? Sudah tentu aku…. aku akan berbahagia sekali kalau engkau selalu berada di sampingku, akan tetapi hatiku pun akan selalu tertekan dan hancur kalau melihat engkau menjadi sengsara kelak….”

Nirahai menubruk Han Han, merangkulnya dan menutup mulut Han Han dengan jari tangannya yang halus. “Jangan lanjutkan….! Aku cinta padamu, karena hanya engkau satu-satunya pria yang patut menjadi suamiku! Kita sudah dijodohkan oleh kedua orang guru kita, dan kita sudah saling mencinta. Itu sudah cukup! Aku pun tidak ingin perjodohan kita dirayakan besar-besaran, bahkan tidak peduli kalau tidak dirayakan oleh kita berdua! Tentang kedudukan dan kemuliaan? Dengan kepandaian kita, apa sukarnya mendapatkan itu?”

“Tapi, Nirahai…. demi menjaga namamu, semestinya kalau pernikahan kita dirayakan, disyahkan! Ohhh, dua bulan lagi Lulu akan menikah, bagaimana kalau kita rayakan bersama-sama dan….”

“Hussshhhhh….! Mengapa meributkan soal tetek-bengek seperti itu sedangkan aku berada di dekatmu? Apa kau lupa bahwa aku lelah, bahkan aku lapar, bahwa aku….”

Han Han tertawa dan menutup mulut Nirahai dengan ciuman untuk menghentikan celaannya, kemudian ia memondong tubuh kekasihnya itu, dibawa berloncatan ke dalam pondok di sebelah kiri telaga di mana ia pernah tinggal bersama Koai-lojin.

Han Han adalah seorang pemuda yang telah dewasa, seorang pria yang selama hidupnya belum pernah terjun ke dalam lautan cinta asmara seorang wanita. Dia telah berkali-kali menerima cinta kasih wanita, cinta kasih murni yang dibuktikan dengan pengorbanan-pengorbanan. Kim Cu yang mencintanya berkorban menjadi nikouw, Soan Li tewas karena hendak menolongnya dan dara itu pun mengaku mencintanya. Demikian pula Tan Hian Ceng dan Lauw Sin Liam, mereka itu mencintanya dan tewas ketika bendak menolongnya. Betapapun juga, tidak pernah dia bermain cinta dengan seorang di antara mereka, apalagi karena di lubuk hatinya, ia tidak menemukan cinta kasih terhadap mereka. Kini, hatinya roboh di bawah kaki Nirahai. Dia mencinta puteri kaisar ini, bahkan Nirahai juga mencintanya, dan mereka telah dijodohkan oleh kedua orang guru mereka. Adapun Nirahai adalah seorang dara bangsawan yang tinggi hati. Belum pernah ia tertarik kepada pria, apalagi jatuh cinta. Memang pernah ia dikabarkan akan dijodohkan dengan Ouwyang-kongcu puteri Pangeran Ouwyang Cin Kok, akan tetapi di dalam batinnya ia tidak mengandung perasaan apa-apa terhadap pemuda itu. Kini, begitu bertemu dengan Han Han, menyaksikan sepak terjang pemuda buntung itu dan terutama sekali setelah dia merasa kalah pibu menghadapi pemuda ini, dia tertarik dan sekaligus tunduk dan jatuh cinta. Apalagi setelah Nenek Maya mengambil keputusan menjodohkannya dengah Han Han, sudah bulatlah tekad di hati Nirahai untuk menjadi isteri Han Han! Dia memiliki kekerasa hati yang luar biasa, maka untuk memenuhi keputusan ini, dia sanggup menempuh rintangan apa pun juga!

Kedua orang muda itu sudah sama dewasa, sama mencinta dan cinta kasih mereka makin mesra dan mendalam karena peristiwa di istana sehingga mereka merasa bersatu hati, sehidup semati. Tempat di mana mereka bersembunyi, di pinggir telaga itu merupakan tempat yang sunyi, tenang, indah dan romantis. Tiada sesuatu yang menjadi penghalang di antara cinta kasih mereka, bahkan Nirahai tidak lagi peduli akan upacara perjodohan, menganggap bahwa dia sudah menjadi isteri Han Han semenjak ia minggat dari istana. Tidaklah mungkin menyalahkan mereka ini kalau keduanya sebagai orang-orang muda yang saling tergila-gila, saling mencinta dan saling menderita, kini menumpahkan semua perasaan cinta kasih mereka di tempat sunyi itu. Bagi keduanya, hal ini merupakan pengalaman pertama sehingga membuat mereka lupa akan segala dan mabuk oleh manisnya madu asmara, terlupa masa lalu tak peduli masa depan, yang teringat hanyalah perpaduan kasih, di dalam pondok, di tepi telaga, di antara bunga-bunga yang tumbuh di hutan kecil pinggir telaga. Mereka bersendau-gurau, saling menggoda, saling memanja, saling menyayang, tiada ubahnya seperti sepasang pengantin baru yang sedang berbulan madu!

Betapapun besarnya badai dan ombak, akhirnya akan mereda juga. Gelombang nafsu asmara yang lebih besar dan dahsyat daripada badai dan ombak pun akhirnya akan mereda juga. Selama satu bulan, Han Han dan Nirahai seolah-olah lupa segala, tidak peduli akan masa lalu dan masa depan, ingatnya hanya berlumba merenggut madu asmara yang makin direguk makin mendatangkan dahaga. Setelah lewat sebulan, cinta kasih mereka yang menyala-nyala terbakar nafsu berahi, mulai mereda dan mulailah mereka berdua sadar bahwa cinta kasih bukanlah cinta berahi semata, dan mulailah keduanya merenungkan masa depan mereka!

Bagaikan dua orang yang mengaso tenang setelah diombang-ambingkan gelombang dahsyat, selama sebulan lebih, pada pagi hari itu mereka duduk di tepi telaga. Han Han duduk bersandar batu hitam yang dulu sering kali dijadikan tempat duduk Koai-lojin di waktu “memancing”. Nirahai duduk di depannya, setengah dipangkunya dan merebahkan kepala dengan rambut terurai lepas itu di atas dada Han Han. Sampai berjam-jam keduanya duduk seperti itu, tak bergerak dan penuh dengan kebahagiaan, dengan kepuasan, saling menikmati kehadiran kekasih masing-masing yang hanya terasa oleh detik jantung dan alunan nafas.

Angin semilir dari tengah telaga datang, bertiup membuat rambut yang hitam berikal melambai dan menggelitik leher Han Han, menyadarkan pemuda ini dari lamunan nikmat yang membuatnya tenggelam. Ia menggerakkan lehernya mengusir rasa gatal dan geli, kemudian melanjutkan gerakan jari-jari tangannya dengan mengelus rambut halus di atas dadanya itu penuh kasih sayang dan mesra. “Nirahai, isteriku tercinta….”

Nirahai bergerak, menengadah dan tersenyum memandang wajah Han Han. “Dan engkau suamiku….”

Han Han menunduk dan memberi hadiah ciuman mesra untuk sebutan yang menggetarkan perasaannya itu. Biasanya, selama sebulan ini, sebuah ciuman saja sudah cukup membuat keduanya tenggelam dalam lautan asmara, tidak ingat lagi akan hal lain, menghapus semua niat yang hendak dibicarakan, karena semua kemauan sudah lumpuh dan kalah oleh gelombang asmara yang menghanyutkan. Akan tetapi kini Han Han dapat menahan diri dan ia berbisik.

“Nirahai, aku teringat bahwa sebulan lagi Lulu akan menikah. Aku harus hadir dan menyusulnya ke Kwan-teng. Marilah kita pergi ke sana….”

Sepasang mata Nirahai yang selama sebulan ini selalu dalam keadaan seperti orang mengantuk, kini mulai menemukan kembali sinarnya ketika mendengar ucapan Han Han itu. Sudah sebulan mereka berdua tidak pernah mengucapkan kata-kata yang lain daripada cumbu rayu sehingga kini seperti baru sadar dari mimpi. Sadar bahwa di sana masih terdapat banyak hal lain di samping urusan cinta kasih mereka! Matanya mulai bersinar, perlahan ia bangkit dari dada suaminya, lalu duduk di atas tanah bertilam rumput, memutar tubuh berhadapan dengan Han Han. Kedua tangannya mulai memilin-milin rambutnya yang selama ini dibiarkan terurai lepas untuk dibelai dan dipermainkan jari-jari tangan Han Han yang penuh cinta kasih.

Baru saat itulah keduanya saling pandang dalam keadaan sadar, dan otomatis timbul kerut-kerut kecil di wajah mereka, Han Han pada dahinya, Nirahai di antara kedua matanya.

“Han Han, engkau tahu bahwa tidak mungkin bagi aku untuk pergi ke Kwan-teng atau ke manapun juga. Aku telah menjadi seorang pelarian, dan aku merasa malu untuk bertemu dengan tokoh-tokoh kang-ouw kalau mereka mendengar bahwa aku adalah seorang puteri pelarian.”

“Mengapa tidak mungkin, isteriku?” Han Han menggenggam tangan Nirahai. “Mengapa tidak mungkin pergi ke sana? Apa yang ditakuti? Andaikata engkau dikejar, apakah kita tidak mampu melawan? Dan mengapa pula malu kepada orang lain? Siapa yang akan berani menghinamu? Akan kuhancurkan mulut yang berani mengejekmu.”

Nirahai menggeleng kepalanya, lalu berkata, suaranya tegas, “Tidak, suamiku. Aku tidak mau pergi ke Kwan-teng atau ke mana saja. Aku sudah mempunyai rencana matang yang sudah berhari-hari ini kupikirkan dan baru sekarang akan kusampaikan kepadamu.”

Berdebar jantung Han Han, seolah-olah ada firasat tidak enak terasa olehnya. Ia menatap wajah Nirahai dan dengan hati kecut ia mendapat kenyataan betapa wajah yang cantik itu diselubungi kekerasan hati yang sukar ditembus. Diam-diam ia menjadi gelisah, akan tetapi ia menekan hatinya dan bertanya halus.

“Nirahai, bagaimanakah rencanamu itu?”

“Di selatan ini aku yang telah membuat jasa besar telah dimusuhi oleh kerajaan. Karena itu, jalan satu-satunya bagiku adalah kembali ke utara! Di Khitan aku akan lebih dihargai, dan aku mempunyai seorang paman, adik Ibuku, yang kini menjadi seorang panglima besar dari suku bangsa Mongol. Aku hendak menyusulnya ke sana dan engkau…. kuharap saja suka pergi ke sana bersamaku, Han Han.”

Sejenak kedua orang yang selama sebulan lebih mabuk dan tenggelam dalam lautan asmara itu, kini saling berpandangan penuh kesadaran dan penuh kekhawatiran menyaksikan jalan pikiran dan cita-cita mereka yang saling bertentangan.

“Aku harus mengurus pernikahan adikku….” Han Han membantah lemah, berpegang kepada alasan ini untuk menarik Nirahai yang dicintanya itu dari cita-citanya akan pergi ke utara di luar tembok besar.

Nirahai mengangguk-angguk, tersenyum lalu merangkul Han Han, menciumnya mesra yang dibalas Han Han sepenuh hatinya. Akan tetapi, kedua orang ini merasa betapa dalam ciuman mereka terdapat sesuatu yang mengganjal, tidak seperti yang sudah-sudah dan keduanya menjadi gelisah.

“Aku tahu, Han Han. Memang seharusnya engkau menghadiri pernikahan Lulu. Pergilah ke Kwan-teng dan uruslah pernikahan adik kita itu. Aku akan menantimu di sini dan kalau engkau sudah kembali ke sini dari Kwan-teng, kita berdua baru pergi ke utara.”

Han Han mengerutkan keningnya dengan jantung berdebar tegang. Ke utara? Mau apa ke sana? Hidup di antara suku bangsa Mongol yang sama sekali asing baginya? Teringat akan sejarah betapa bangsa Mongol pernah menjadi penjajah bangsanya, dia tahu bahwa tentu dirinya akan terlibat urusan politik dan pemerintahan lagi di utara yang asing itu dan ia maklum bahwa dia tidak akan merasa bahagia di sana. Ia seolah-olah dapat merasa betapa bahaya besar bagi kebahagiaan dia dan Nirahai menunggunya di utara!

Cepat ia memegang kedua pundak Nirahai, memaksa kekasihnya itu menghadapnya dan memandang wajah yang jelita itu penuh selidik. “Nirahai, kekasihku, pujaan hatiku! Engkau adalah isteriku, dan aku akan hidup sengsara tanpa engkau di sampingku! Marilah engkau ikut bersamaku, ke Kwan-teng, kemudian merantau ke mana saja, berdua, hidup penuh bahagia, jangan kita melibatkan diri lagi dengan urusan kerajaan. Aku…. aku mendapat firasat buruk, kalau kita pergi ke utara…. tentu kita akan terlibat dan terseret lagi dalam urusan kerajaan, politik dan perang! Aku ingin kita berdua hidup merantau, bebas lepas tidak terikat urusan duniawi, seperti sepasang burung dara di angkasa…. marilah, Nirahai sebelum terlambat.”

Han Han yang merasa gelisah itu menjadi terharu dan hendak memeluk isterinya, akan tetapi tiba-tiba Nirahai melepaskan diri dari pelukan Han Han, mundur tiga langkah dan menatap wajah Han Han dengan sinar mata tajam dan wajah diliputi sikap dingin murung.

“Han Han, sudah kukhawatirkan hal ini akan terjadi semenjak malam pertama aku terlena dalam belai rayumu. Engkau lupa bahwa aku adalah seorang puteri! Bahwa tak mungkin bagiku hidup seperti seorang petualangan yang tak tentu tempat tinggalnya! Engkau lupa bahwa di dalam tubuhku mengalir darah pahlawan, yang semenjak nenek moyangku dahulu rela mengorbankan jiwa raga demi untuk negara dan bangsa! Biarpun kini kerajaan menganggap aku seorang pelarian, namun aku tetap harus bersetia kepada kerajaan Ayahku.”

Han Han menjadi pucat wajahnya dan ia membantah lemah, “Nirahai, akan tetapi engkau isteriku yang tercinta!”

Nirahai tersenyum pahit. “Memang, aku isterimu yang mencintamu, Han Han. Aku cinta kepadamu, demi Tuhan aku cinta padamu, tapi….”

“Tapi engkau lebih cinta kepada bangsamu?” Han Han berseru penasaran dan hatinya berduka sekali. Sadarlah ia kini bahwa ia lupa akan sebuah hal yang membuat Nirahai amat jauh bedanya dengan Lulu. Memang wajah mereka mirip sekali, mempunyai segi-segi keindahan yang sama, akan tetapi ia lupa bahwa Nirahai tidak mungkin bisa memiliki jiwa seperti Lulu yang lebih polos dan jujur, yang menganggap sama antara bangsa-bangsa sehingga Lulu tidak menaruh dendam terhadap bangsa pribumi, bahkan telah mengambil tindakan mengagumkan dengan mengangkat Lauw-pangcu, pembunuh orang tuanya, sebagai ayah angkat! Nirahai juga tidak mempunyai permusuhan pribadi dengan kaum pejuang, akan tetapi Nirahai ini adalah seorang pejuang sampai ke sumsum-sumsumnya, seorang yang lebih mencinta negara dan bangsa melebihi apa pun juga!

Mendengar tuduhan Han Han itu, Nirahai tersenyum dan mengangguk, “Memang betul, Han Han. Aku mencintamu, akan tetapi aku lebih cinta kepada bangsaku yang melebihi cintaku kepada diriku sendiri. Engkau adalah seorang yang berpengetahuan luas, tentu mengerti akan watak keturunan pahlawan. Betapapun juga, aku cinta kepadamu, suamiku, ahhh, betapa cintaku kepadamu. Karena itu, kau kasihilah aku, sebelum terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan dan yang akan menghancurkan kebahagiaan kita berdua, marilah sekarang saja kita pergi ke utara dan melupakan segala! Marilah, Han Han, demi cinta kasih kita….!”

Suara Nirahai makin melemah dan akhirnya ia terisak perlahan. Han Han terkejut dan makin terharu. Isterinya, kekasihnya yang berhati baja itu, kini ternyata telah menderita tekanan batin hebat sekali!

Ia segera memeluknya dan mereka berciuman penuh kemesraan. Sesaat pertentangan faham yang timbul dari percakapan tadi terlupa dan lenyap, tenggelam oleh rasa cinta kasih mereka. Akan tetapi badai kecil asmara ini pun lewat dan mereka kembali sadar dan teringat akan urusan penting yang mereka hadapi dan yang tak mungkin mereka hindari.

“Han Han, kau sendiri mengatakan bahwa Lulu telah mendapatkan jodoh yang amat baik, yang boleh dipercaya, aku pun percaya bahwa Wan Sin Kiat adalah seorang pemuda yang baik sekali, gagah perkasa dan bertanggung jawab. Karena itu, mengapa engkau masih mengkhawatirkan keadaan Lulu? Marilah kita pergi ke utara sekarang juga.”

Han Han menggeleng kepala. “Tidak mungkin aku pergi jauh sebelum aku menyaksikan pernikahan adikku, Nirahai.”

“Kalau begitu, pergilah cepat dan kembalilah cepat pula. Aku akan menantimu di sini, suamiku.”

Han Han termenung, keningnya berkerut dan wajahnya muram. Tak disangkanya sama sekali bahwa dia harus menghadapi keputusan yang begitu sukar dan yang akan menghancurkan hidupnya! Dia membayangkan masa depannya bersama Nirahai di utara, di antara bangsa Mongol yang asing baginya sama sekali! Dia membayangkan Nirahai menjadi seorang pahlawan puteri di antara bangsa Mongol dan dia sendiri…. dia hanyalah suami sang puteri yang bagaimanapun juga tidak mungkin dapat menjadi pahlawan bangsa itu, dan dia hanya akan “membonceng” kemuliaan isterinya! Dia akan merasa terhina, seorang suami bangsa asing, yang buntung pula. Han Han bergidik ngeri.

“Tidak, Nirahai. Aku akan pergi ke Kwan-teng dan engkau harus ikut bersamaku! Setelah aku merayakan pernikahan Lulu, kita berdua akan pergi, ke mana saja, asal bebas dari ikatan. Ke utara pun boleh, akan tetapi dengan janji bahwa kita berdua tidak akan mengikatkan diri dengan urusan negara!”

Sepasang alis itu berkerut, sepasang mata itu bersinar merah dan Han Han terkejut, maklum bahwa datangnya badai yang lain lagi daripada badai asmara yang memabukkan. Setelah berulang kali menarik napas panjang sampai terdengar nyata, Nirahai berkata, “Sudah kukhawatirkan akan menjadi begini….! Jodoh takkan dapat kekal hanya didasari cinta berahi saja! Yang penting adalah kesesuaian faham dan cita-cita! Ahhh, Han Han, tak mungkin aku dapat memenuhi permintaanmu itu. Kalau engkau memang mencintaku, engkau harus memenuhi permintaanku ikut dengan aku sekarang juga ke utara.”

“Engkau yang tidak sungguh-sungguh mencintaku, Nirahai. Engkau lebih mencinta cita-citamu!”

“Dan engkau, Han Han, engkau seperti telah buta. Engkau memang mencintaku, cinta nafsu, cinta berahi, padahal sesungguhnya engkau mencinta…. Lulu!”

Han Han meloncat kaget dan memandang Nirahai dengan mata terbelalak.

“Apa…. apa kau bilang….?”

Nirahai tertawa pahit dan anehnya, dua titik air mata membasahi kedua pipinya. Ia tertawa akan tetapi menangis, amat mengharukan ketika suaranya yang gemetar berkata, “Kuketahui setelah terlambat! Baru pada akhir-akhir ini…. engkau mencumbu dan merayu, mencinta tubuhku, akan tetapi hatimu lari mencari Lulu. Tanpa kausadari, mulutmu yang menciumi bibirku membisikkan nama Lulu! Saat itulah aku tahu bahwa sesungguhnya engkau telah jatuh cinta kepada Lulu! Akan tetapi, sudah terlanjur! Dan kini aku teringat akan sikap dan kata-kata Lulu. Adikmu itu, adik angkatmu itu, dia pun mencintamu, Han Han. Mencintamu dengan sepenuh jiwa raganya, mungkin cintanya terhadapmu jauh lebih murni daripada cintaku kepadamu. Mungkin dia akan melakukan apa saja yang kaukehendaki. Akan tetapi, semua itu telah lewat, tiada gunanya lagi disesalkan, kita telah menjadi suami isteri! Kita tidak boleh berpisah lagi karena hal itu akan berarti menghancurkan kebahagiaan kita. Aku mencintamu dan engkau mencintaku. Sungguhpun mungkin cinta kasih di antara kita lebih disuburkan oleh nafsu berahi karena kita saling mengagumi, namun kita dapat menikmati cinta kasih kita bersama. Sekarang belum terlambat, marilah kita pergi ke utara.”

Han Han menjadi pucat sekali wajahnya, matanya kehilangan sinarnya. Pukulan batin yang dideritanya sekali ini terlalu berat baginya. Kenyataan yang dibuka secara terang-terangan oleh Nirahai merobek-robek hatinya dan ia harus mengakui kebenaran ucapan Nirahai. Betapa bodohnya! Lululah yang dia cinta! Bahkan mungkin sekali karena kemiripan wajah Nirahai dengan Lulu maka dia tergila-gila kepada puteri ini! Dan sekarang sudah terlanjur!

“Nirahai, terima kasih. Engkau hebat dan jujur, aku amat menghargai keterusteranganmu. Maafkan aku, Nirahai, kalau tanpa kusengaja aku menyakiti hatimu. Sudah semestinya kalau aku menebus dosa-dosaku dengan menuruti kehendakmu. Akan tetapi, engkau bersabarlah. Aku akan pergi ke Kwan-teng lebih dulu, merayakan pernikahan adikku, baru kita bicara lagi tentang ke utara.”
Nirahai membanting kakinya. Dia sudah marah sekali dan sudah habis kesabarannya. “Tidak! Sekarang juga kita harus dapat mengambil keputusan! Han Han, kita bukanlah anak-anak kecil lagi! Kita bukan orang-orang yang lemah dan ragu-ragu dalam mengambil keputusan. Kita harus dapat menentukan nasib sendiri karena hal ini menyangkut masa depan dan kehidupan kita. Dengarlah keputusan yang tak dapat diubah-ubah lagi, Han Han. Aku cinta padamu, dan akan bersedia melayanimu sebagai seorang isteri yang mencintannu sampai kematian memisahkan kita. Akan tetapi, di samping itu aku harus pergi ke Mongol dan aku harus mengabdikan diriku untuk nusa bangsaku, biarpun dengan cara lain daripada yang sudah-sudah. Aku hanya minta engkau tidak menghalangi cita-citaku itu dan aku bersumpah bahwa cintaku kepadamu takkan berubah!”

Sementara itu, biarpun amat berduka, Han Han sudah pula berpikir masak-masak, maka ia menjawab, “Aku pun sudah mengambil keputusan, Nirahai. Aku cinta padamu dan aku akan mencintamu selamanya, akan tetapi aku tidak mau terikat dengan urusan pemerintah. Aku harus menikahkan Lulu lebih dulu, kemudian aku akan mengikutimu ke manapun engkau pergi, akan tetapi aku hanya minta engkau tidak mencampuri urusan negara yang hanya akan merenggangkan hubungan kita suami isteri.”

Sejenak sunyi dan mereka berpandangan. Akhirnya Nirahai bertanya nyaring. “Sudah tetapkah keputusan hatimu itu?”

Han Han mengangguk tanpa mengalihkan pandang matanya yang bertaut dengan pandang mata Nirahai. Tiba-tiba Nirahai tertawa nyaring dan terkekeh-kekeh.

“Nirahai….!” Han Han maju hendak merangkul. Ia ngeri melihat Nirahai tertawa seperti itu, dengan muka pucat, dengan air mata bercucuran, dengan mulut tertarik seperti orang menangis, seperti mayat tertawa!

“Jangan dekati!” Nirahai membentak, kemudian ia berkata lirih bercampur isak, “Kalau begitu keputusan kita, kita harus berpisah, sekarang juga, lebih cepat lebih baik. Nah, selamat tinggal, Han Han. Engkau kekasihku, engkau suamiku, akan tetapi juga musuhku! Engkau kucinta, akan tetapi juga kubenci!” Setelah berkata demikian, puteri jelita itu meloncat dan lari pergi secepat kilat.“Nirahai….!” Han Han menjerit, hanya lirih keluar dari mulut, akan tetapi amat nyaring keluar dari hatinya yang berdarah. Ia berdiri termenung memandang sampai bayangan Nirahai lenyap, berdiri seperti patung, agak terbongkok seolah-olah terlampau berat beban yang menimpa punggungnya, bersandar pada tongkatnya dan diam tak bergerak. Hanya air matanya saja yang jatuh satu-satu tak dihiraukannya.

 “Nirahai…. Nirahai….!” Hatinya menjerit-jerit.

“Nirahai….! Lulu….! Lulu….!” Ia menjadi bingung, pukulan batin yang dideritanya membuat ia seolah-olah menjadi batu.

Kalau saja Nirahai tidak sedemikian keras hatinya. Kalau saja ia meragu dan kembali ke tempat itu, tentu hati wanita ini akan hancur luluh dan mencair melihat keadaan Han Han. Sampai tiga hari tiga malam Han Han masih berdiri di tempat itu, bersandar pada tongkatnya, tak pernah bergerak kecuali untuk membisikkan nama Nirahai dan Lulu! Dan yang amat mengharukan adalah rambutnya. Rambut yang gemuk dan panjang, yang biasanya berwarna hitam mengkilap itu kini telah menjadi putih semua! Putih seperti benang-benang perak, seperti rambut seorang kakek berusia seratus tahun! Selama tiga hari tiga malam ini, terjadi perubahan hebat pada dirinya. Badannya menjadi semakin kurus, mukanya kuyu pucat tidak ada cahayanya, seperti muka orang yang kehilangan semangat dan kegairahan hidup. Tiada sepercik pun sinar kegembiraan terlukis di mukanya. Dan memang selama tiga hari tiga malam itu Han Han hanya memikirkan nasibnya. Hidup semenjak kecil baginya hanya merupakan serangkaian kesengsaraan yang tidak ada putus-putusnya. Makin diingat makin menghimpit perasaan.

Teringat ia akan wejangan-wejangan Koai-lojin yang dia tahu juga banyak mengalami duka nestapa dalam hidupnya, mengalami kekecewaan-kecewaan besar. Sayup sampai bergema di telinganya wejangan kakek sakti itu sebelum meninggalkannya, “Hidup itu menderita duka? Hidup itu menikmati suka? Tidak benar semua itu. Hidup adalah hidup, adapun suka atau duka adalah urusan hati, tidak ada sangkut-pautnya dengan hidup. Peristiwa yang menimpa kita tak lepas dari perbuatan kita sendiri. Seni yang amat indah dan besarlah cara penerimaan kita terhadap segala peristiwa. Penerimaan, sekali lagi penerimaan! Kalau engkau sudah dapat menguasai nafsu dan hati, sudah pandai menggunakan pikiran sehingga mendapat kesadaran, engkau akan pandai pula menerima segala hal yang menimpa dirimu sehingga engkau bisa saja bersuka dalam duka, dan berduka dalam suka!”

Tiba-tiba Han Han tersenyum setelah ia teringat akan wejangan ini dan mulailah tubuhnya yang kaku membatu itu dapat bergerak lagi. Seolah-olah tubuhnya “hidup” kembali sungguhpun ia merasa betapa hatinya hampa dan kosong. Dia tidak sadar bahwa rambutnya sudah putih semua dan bahwa ada sinar aneh terpancar dari matanya yang biasanya bersinar tajam luar biasa. Dengan langkah terpincang-pincang Han Han meninggalkan tempat itu menuju ke Kwan-teng.

Selagi Han Han berjalan terpincang-pincang menuruni sebuah lereng sambil melamun, tiba-tiba tampak belasan orang hwesio berloncatan keluar dan menghadapinya dengan sikap mengancam. Han Han mengangkat muka memandang dan ia mengenal Ceng San Hwesio dan belasan orang anak murid Siauw-lim-pai, semuanya pendeta-pendeta berkepaia gundul yang tingkatnya sudah tinggi. Han Han merasa heran. Kalau sampai ketua Siauw-lim-pai sendiri keluar dari Siauw-lim-si, tentulah ada urusan yang amat penting. Biasanya yang mewakili ketua Siauw-lim-pai ini adalah Ceng To Hwesio, sute dari Ceng San Hwesio. Akan tetapi ia teringat bahwa Ceng To Hwesio telah tewas dalam pertandingan melawan Kang-thouw-kwi Gak Liat.

Han Han menjura dengan hormat kepada ketua Siauw-lim-pai itu dan berkata, “Kiranya locianpwe dan para losuhu dari Siauw-lim-pai yang bertemu dengan saya di tempat sunyi ini, dan agaknya menghadang perjalanan saya. Tidak tahu ada kepentingan apakah?”

“Hemmm, orang muda tidak tahu malu! Dahulu engkau membikin kacau Siauw-lim-si, hal itu telah pinceng lupakan dan dianggap habis. Sekarang engkau yang tadinya telah membuat nama di Se-cuan, secara tidak tahu malu sekali bersekongkol dengan Nirahai perempuan iblis itu….!”

“Maaf, locianpwe. Nirahai adalah isteriku, bukan iblis. Aku melarang siapa saja menghina dan memaki isteriku! Apakah kesalahan Nirahai? Bukankah di puncak Tai-hang-san telah diadakan perdamaian?”

“Hemmm, perdamaian? Engkau kini menjadi suami Nirahai? Bagus, seperti yang telah pinceng duga, engkau seorang yang tak tahu malu! Kau bicara tentang perdamaian atas nama Nirahai? Perdamaian yang mengorbankan nyawa Sute Ceng To Hwesio dan engkau yang telah ditolong murid kami Lauw Sin Lian sampai dia mengorbankan nyawa, engkau…. malah menjadi suami pembunuhnya? Suma Han, pinceng telah mendengar keturunan siapakah engkau ini, maka pinceng tidak merasa heran bahwa engkau hanyalah seorang rendah budi yang tak patut dinilai sepak-terjangnya!”

Han Han merasa heran sekali mengapa hatinya tidak marah seujung rambut pun mendengar penghinaan yang luar biasa itu. Entah bagaimana, hatinya seperti kosong melompong, tidak dapat diusik lagi oleh perasaan apa pun. Mestinya ia marah mendengar kata-kata yang menghina itu, akan tetapi ia malah tersenyum! Bukan dibuat-buat, melainkan senyum wajar karena ia merasa geli menyaksikan kebodohan seorang kakek yang sudah menganggap diri pendeta dan menjadi ketua partai besar.

“Locianpwe, harap jangan salah sangka. Mendiang Ceng To Hwesio tewas dalam sebuah pertandingan perorangan melawan Kang-thouw-kwi Gak Liat, sama sekali bukan kesalahan Nirahai. Adapun kematian Sin Lian…. hemmm, semoga Thian memberi tempat yang penuh damai bagi arwahnya, kematiannya pun di luar kesalahan Nirahai karena yang melakukannya adalah Ouwyang-kongcu dan para pembantunya.”

“Pinceng tidak sudi melayani percakapan seorang yang tak boleh dipercaya seperti engkau. Sekarang, lebih baik engkau menebus semua kesalahanmu dengan dua hal. Pertama mengembalikan anak Bhok Khim, dan ke dua, memberi tahu di mana adanya iblis betina Nirahai!”

Kembali Han Han tersenyum sambil menghela napas panjang. “Locianpwe, ketika Bhok Khim Toanio hendak menghembuskan napas terakhir, dia minta tolong kepada kedua orang suhengnya, akan tetapi kedua orang suhengnya memandang rendah sehingga akhirnya Bhok-toanio menyerahkan puteranya kepada saya. Sekarang locianpwe memintanya, untuk apa?”

“Untuk apa, kau tidak perlu tahu. Anak itu adalah anak Bhok Khim seorang murid kami, kamilah yang berhak atas dirinya.”

“Saya sendiri belum menemukan anak itu, locianpwe, maka tidak dapat saya serahkan, dan kalau locianpwe hendak mencarinya, silakan mencari sendiri. Adapun tentang Nirahai, saya tidak dapat memberi tahu kepada siapa juga ke mana perginya karena saya harus melindungi isteri saya.”

“Omitohud! Bicara berbelit-belit, padahal maksudnya hanya menentang dan menolak! Suma Han, apakah terpaksa pinceng harus turun tangan memaksamu?” Ceng San Hwesio membentak.

Boycott Trend Micro

2 Comments »

  1. kit see chau said,

    December 11, 2007 at 11:09 am

    bagus skali crtnya,ak adlh pengemar serial kho ping ho

  2. minal said,

    November 11, 2009 at 9:52 pm

    certa yang cukup berbobot

Leave a Comment