06.23.05

bu-kek-sian-su bagian 151

Posted in Bu Kek Sian Su at 1:06 pm by riza

Ketika mereka memandang dengan mata terbelalak kepada Sin Liong, mereka melihat pemuda itu masih tersenyum-senyum, masih berdiri tegak dengan kedua lengan bersilang di depan dada, hanya bedanya, kini pakaiannya robek-robek dan penuh lobang.
Read the rest of this entry »

bu-kek-sian-su bagian 150

Posted in Bu Kek Sian Su at 12:47 pm by riza

Sin Liong tersenyum. "Terima kasih, Locianpwe. Akan tetapi, menghindari mereka berarti membuat mereka terus merasa penasaran. Sebaiknya malah kalau kami berdua menemui mereka dan membereskan persoalan seketika juga."
Read the rest of this entry »

bu-kek-sian-su bagian 149

Posted in Bu Kek Sian Su at 12:42 pm by riza

"Cu-wi Locianpwe jauh-jauh datang ke sini, harap suka memaklumi bahwa pusaka-pusaka ini telah kembali ke pemiliknya dan akan dikembalikan ke Pulau Es. Maka kami berdua mengharap sudilah Su-wi tidak mengganggu lagi Hoa-san-pai dan suka meninggalkan tempat ini." "Kami harus mendapatkan pusaka itu!"
Read the rest of this entry »

bu-kek-sian-su bagian 148

Posted in Bu Kek Sian Su at 12:37 pm by riza

"Pinto mengaku bahwa urusan pusaka Pulau Es itu sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan Hoa-san-pai dan Hoa-san-pai pun tidak mengetahuinya. Maka sebagai Ketua Hoa-san-pai, pinto hendak bertanya dulu kepada murid Liem Toan Ki. Ini adalah urusan dalam dari Hoa-san-pai, kiranya Cu-wi tidak akan mencampurinya!" Terdengar teriakan-teriakan, "Silahkan! Silahkan, tapi cepat dan serahkan mereka kepada kami!"
Read the rest of this entry »

bu-kek-sian-su bagian 147

Posted in Bu Kek Sian Su at 12:32 pm by riza

Pek Sim Tojin yang berambut putih dan bersikap tenang itu melihat seorang kakek tinggi besar bermuka tengkorak yang menyeramkan maju ke depan, maka melihat bahwa belum juga ada yang mau menjawab, dia lalu berkata ditujukan kepada kakek tinggi besar bermuka tengkorak itu. "Kalau pinto tidak salah mengenal orang, Sicu adalah Thian-tok Bhong Sek Bin. Sicu adalah seorang yang amat terkenal di dunia kang-ouw dan mengingat bahwa kedatangan Sicu pasti mempunyai kepentingan besar, maka pinti harap Sicu suka berterus terang mengatakan apa keperluan itu."
Read the rest of this entry »

bu-kek-sian-su bagian 146

Posted in Bu Kek Sian Su at 12:28 pm by riza

"Suheng, telah dua tahun pusaka itu berada di tangan mereka. Aku telah mencari ke mana-mana, hanya ke Hoa-san-pai yang belum. Kurasa mereka itu tidak jujur, dan agaknya tentu mereka telah menyembunyikan pusaka itu. Kalau tidak demikian mengapa mereka tidak pergi menanti aku di Puncak Awan Merah seperti yang kupesankan? Memang hati manusia tidak atau jarang sekali ada yang jujur. Sekali saja melihat sesuatu yang dapat menguntungkan diri pribadi, maka terlupalah semua pelajaran tentang kegagahan dan kebaikan. Aku ingin mencari dan menghajar mereka itu!"
Read the rest of this entry »

bu-kek-sian-su bagian 145

Posted in Bu Kek Sian Su at 12:15 pm by riza

Sampai dua tahun suami isteri yang saling mencinta dan berbahagia ini hidup di Hoa-san-pai, menjadi anggota-anggota dan anak murid Hoa-san-pai yang tekun berlatih dan rajin bekrja. Akan tetapi mereka gelisah sekalli karena sampai selama ini, Han Swat Hong atau lain tokoh Pulau Es tidak ada yang muncul bahkan gadis luar biasa dari Pulau Neraka, Ouw Soan Cu, juga tidak muncul. Tentu saja hati mereka akan menjadi lebih lega dan bebas dari kekhawatiran kalau saja pusaka-pusaka Pulau Es itu sudah diambil oleh yang berhak dan tidak menjadi tanggung jawab mereka..
Read the rest of this entry »

« Previous entries ·