09.22.05

Cinta Bernoda Darah bagian 95

Posted in Cinta Bernoda Darah at 1:42 pm by riza

Dua iblis tua bangka mengeroyok gadis remaja, sungguh tak tahu malu! tiba-tiba terdengar bentakan keras.

Lin-moi, jangan takut, aku datang membantumu! terdengar suara lain.
Kiranya yang muncul adalah empat orang, yaitu Kauw Bian Cinjin, Suling Emas, Bu Sin, dan Liu Hwee! Begitu tiba, Suling Emas cepat menyambar de­ngan sulingnya menangkis sinar perak yang mengancam nyawa Lin Lin. Ter­dengar suara keras dan sinar perak itu runtuh ke bawah, ternyata itu adalah sebutir batu putih yang dingin. Sementara itu, Kauw Bian Cinjin sudah memutar pecutnya yang menyambar sambil menge­luarkan suara keras mengancam kepala Lam-kek Sian-ong!

Bagus, bagus! Makin banyak lawan tangguh, makin menggembirakan! Lam-­kek Sian-ong si muka merah tertawa­-tawa dan terpaksa ia melepaskan Lin Lin yang cepat menggerakkan Pedang Besi Kuning membantu Kauw Bian Cinjin men­desak kakek sakti itu. Liu Hwee juga tidak mau tinggal diam. Cepat ia me­mutar senjatanya berupa joan-pian ber­ujung bola baja, mengeroyok Lam-kek Sian-ong setelah memesan kepada tu­nangannya Bu Sin, agar tidak ikut me­ngeroyok kakek sakti itu karena terlam­pau berbahaya mengingat bahwa tingkat kepandaian Bu Sin masih belum tinggi benar.
Sementara itu, Suling Emas sudah menghantam melawan kakek muka putih, Pak-kek Sian-ong. Pertempuran yang sunyi, tidak bersuara, namun hebat bukan main. Kakek muka putih ini telah me­megang sebatang pedang yang putih pula, berkilauan dan mengeluarkan hawa dingin. Namun suling di tangan Suling Emas bergulung-gulung seperti naga kuning emas bermain di angkasa, sedikit pun tidak mau mengalah terhadap gulungan sinar putih. Memang Suling Emas men­dongkol sekali kepada kedua orang kakek ini, teringat ketika ia dipermainkan, dikeroyok dua dan hampir saja ia binasa. Kini terbuka kesempatan baginya untuk mengadu satu lawan satu, maka ia mengerahkan segenap tenaganya dan main­kan ilmu silatnya yang paling aneh dan hebat, yaitu gabungan dari tiga macam ilmu silat sakti, yaitu Pat-sian Kiam-hoat (Ilmu Pedang Delapan Dewa), Lo-hai-san-hoat (Ilmu Kipas Pengacau Laut­an) dua macam ilmu yang ia warisi dari gurunya, yaitu Kim-mo Taisu, dan di­gabung dengan ilmu sakti yang ia warisi dari Bu Kek Siansu, yaitu Hong-in-bun-hoat (Ilmu Silat Huruf Angin dan Awan). Dengan permainan gabungan yang luar biasa ini, biarpun Pak-kek Sian-su me­rupakan tokoh yang sukar dicari banding­annya pada jaman itu, namun ia menjadi sibuk juga dan akhirnya hanya dapat mempertahankan diri dengan jurus-jurus sakti yang dikerahkan untuk menyelamat­kan diri saja.

Kakek muka merah, Lam-kek Sian-­ong menghadapi pengeroyokan yang berat, yaitu Lin Lin, Liu Hwee, dan Kauw Bian Cinjin. Dua orang tokoh Beng-kauw ini memang memiliki ilmu silat yang cukup tinggi, apalagi Kauw Bian Cinjin. Akan tetapi tingkat mereka berdua sesungguhnya masih kalah kalau dibanding­kan dengan Lam-kek San-ong yang me­mang betul-betul sakti itu, dengan dasar tenaga Yang-kang, sehingga setiap pukulan­nya membawa hawa yang amat panas. Namun, kedua orang tokoh ini menjadi kaget dan terheran-heran bahwa masuknya Lin Lin yang mainkan pedang Besi Kuning itu seakan-akan menjadi pelengkap daripada kekurangan atau kekalahan mereka ter­hadap Lam-kek Sian-ong. Mereka terkejut mengenal dasar gerakan Lin Lin yang sama dengan ilmu silat Beng-kauw, bah­kan gerakan pedang itu demikian hebat­nya sehingga mereka berdua, biarpun bersenjatkan dua macam senjata, se­akan-akan terseret dan terpengaruh oleh gerakan pedang Lin Lin dan membuat mereka terpaksa bergerak menurut gu­lungan sinar pedang itu yang seolah-olah memimpin mereka. Tentu saja mereka menjadi heran dan juga girang, akan tetapi Lam-kek Sian-ong yang menjadi kaget setengah mati! Seperti halnya Pak-­kek Sian-ong yang terdesek oleh Suling Emas, ia sendiri pun terdesak oleh pengeroyokan tiga orang itu dan hanya mampu menangkis saja!

Lewat seratus jurus, dua orang kakek sakti itu maklum bahwa tiada harapan lagi bagi mereka, apalagi kalau diingat bahwa di situ terdapat ratusan orang perajurit yang sudah siap untuk melakukan pengeroyokan begitu menerima komando. Lin Lin memang sengaja tidak mau me­ngerahkan pasukan karena maklum bahwa biarpun hal ini akan mendatangkan ke­menangan, namun perajurit-perajurit itu tentu banyak yang akan menjadi korban.

Tiba-tiba kedua orang kakek itu dengan berbareng mengeluarkan bentakan keras sekali, bentakan yang dilakukan dengan pengerahan tenaga khi-kang. Be­berapa orang perajurit terjungkal, bahkan yang terlalu dekat roboh tak dapat bang­kit lagi! Suling Emas mengeluarkan bunyi melengking tinggi dan memperhebat de­sakannya, akan tetapi Kauw Bian Cinjin tampak terhuyung mundur karena Lam­-kek Sian-ong sengaja melakukan pukulan hebat yang khusus ia tujukan kepada kakek Beng-kauw ini. Melihat Kauw Bian Cinjin terhuyung, Lin Lin menerjang dengan jurus ampuh dari ilmu Cap-sha-­sin-kun, pedangnya tertangkis pedang merah di tangan Lam-kek Sian-ong, namun masih dapat menyerempet pundak kakek itu.

Twako, mari pergi….! Lam-kek Sin-ong berseru, tubuhnya melesat den sekaligus ia menerjang Suling Emas yang mendesak saudaranya. Tentu saja Suling Emas maklum betapa bahayanya dikero­yok dua orang kakek ini. Baru seorang Pak-kek Sian-ong saja ia hanya mampu mendesak belum mampu mengalahkan, apalagi kalau Lam-kek Sian-ong datang mengeroyok. Terpaksa ia melompat mun­dur sambil memutar sulingnya. Kesem­paaen baik ini dipergunakan oleh kedua orang kakek sakti untuk berkelebat pergi dari tempat itu.
Dalam kemarahannya, Lin Lin yang tidak kenal takut itu meloncat pula melakukan pengejaran. Akan tetapi tiba­-tiba ia berhenti, tangannya ada yang memegang. Ketika ia cepat menoleh, kira­nya yang memegang pergelangan tangganya adalah Suling Emas!

Lin-moi, jangan mengejar mereka, berbahaya sekali. Biarlah aku membantumu….
Lin Lin mengibaskan tangannya terlepas dari pegangan Suling Emas. Mata­nya terbelalak penuh kemarahan karena munculnya pendekar ini mengingatkan ia akan segala pengalamannya yang pahit dan mematahkan hatinya, terutama sekali ketika Suling Emas membela Suma Ceng. Tak tertahankan lagi tangan kirinya bergerak menampar pipi kanan Suling Emas yang tidak mengelak dan hanya meman­dang dengan mata sedih. Plakkk! Ta­ngan kiri Lin Lin meninggalkan tapak tangan kemerahan pada pipi Suling Emas.
Lin Lin! Gila engkau? Bu Sin membentak marah sambil lari menghampiri.
Pergi….! Pergi….! Lin Lin berteriak-teriak sambil melarikan diri air matanya mulai bercucuran membasahi pipinya.
Lin Lin, tunggu….! Bu Sin mengejar, sedangkan Suling Emas setelah berdiri dengan muka pucat dan seperti kehilang­an semangat, akhirnya ikut pula mengejar di belakang Bu Sin.

Lin Lin berlari secepatnya ke arah utara, tidak peduli betapa daerah ini makin sukar dilalui, merupakan padang rumput yang makin lama makin jarang pohonnya, hanya rumput-rumput belaka dan di sana ­sini mulai tertutup pasir. Karena tempat ini terbuka, mulailah terasa angin bertiup keras dari arah depan, menyesakkan na­pas. Namun Lin Lin tidak merasakan ini semua dan berlari terus mendaki bagian yang menanjak. Ah, mengapa dia datang? Mengapa aku mesti berjumpa kembali dengan dia? Aku benci dia! Ah, aku benci dia….! Keluhnya sambil menangis, karena betapa ia mengeraskan hati memaksa diri mengaku benci, perasaannya tahu bahwa ia membohongi dirinya sen­diri. Ia mencinta Suling Emas, demikian mencintanya sehingga ia menjadi benci karena Suling Emas tidak membalas cinta kasihnya!

Lin-moi, tunggu! Kembali Bu Sin berteriak keras dengan napas terengah-engah karena ia harus mengerahkan se­luruh kepandaiannya untuk dapat menge­jar Lin Lin yang lari seperti terbang, apalagi angin mulai mengamuk di padang rumput itu, membawa terbang butiran-­butiran pasir, Lin-moi, mari kita bicara! Inilah Kakak Bu Song yang kita cari­-cari! Berhentilah dulu!

Mendengar ini, makin deras air mata Lin Lin mengucur di sepanjang pipinya, dan makin cepat pula kedua kakinya ber­lari menjauhi dua orang itu. Bukan kakak­ku, pikirnya sedih, bukan karena aku adiknya. Apa artinya adik angkat, lain ibu lain ayah? Aku orang lain. Hanya karena dia…. dia mencintai wanita yang sudah punya suami dan anak-anak! Ah, alangkah benciku!

Sementara itu, Suling Emas sudah memegang lengan Bu Sin dari belakang. Sin-te (Adik Sin), kau kembalilah. Biar­kan aku membereskan urusan ini. Percayalah kepadaku!

Karena memang merasa tidak sanggup menyusul Lin Lin dan juga merasa ragu apakah ia akan dapat mengatasi watak adik angkatnya yang kukoai (luar biasa) itu, Bu Sin berhenti dan tidak mengejar lagi. Suling Emas lalu mengerahkan kepandaiannya dan bagaikan terbang ia lari mengejar, mendaki jalan tanjakan. Angin makin hebat bertiup, merontokkan daun-­daun beberapa batang pohon yang sudah setengah gundul. Rumput tebal yang tinggi bergerak-gerak menyabet kaki seperti lecutan cambuk.
Akhirnya Suling Emas dapat menyusul Lin Lin di puncak bukit itu, puncak yang gundul tidak ada pohonnya sama sekali sehingga angin bertiup kencang membuat mereka sukar bernapas, membuat pakaian mereka berkibar-kibar.

Lin Lin, untuk terakhir kali, mari kita bicara. Kalau kemudian kau masih penasaran kau boleh bunuh aku di sini juga! Suling Emas menangkap lengan Lin Lin dan tidak mau melepaskannya lagi.
Gadis itu membalikkan tubuh, tangan­nya meraba gagang pedang, mukanya penuh air mata. Sejenak mereka bertemu pandang, kemudian dengan terisak Lin Lin merangkul pinggang dan membenamkan mukanya di dada Suling Emas! Pen­dekar ini menahan napas, berdongak sambil meramkan mata. Tak terasa lagi pendekar sakti yang berhati baja ini menitikkan dua butir air mata.

Baju di bagian dada Suling Emas sudah basah oleh air mata Lin Lin dan rambut gadis itu tertiup angin melambai-­lambai dan menyapu-nyapu muka pen­dekar itu. Suling Emas memeluk pundak­nya dan membelai rambutnya.
Lin Lin, dengarlah baik-baik. Tiada guna kita lanjutkan semua ini. Kau tahu bahwa tidak mungkin kita berjodoh….

Lin Lin mengangkat mukanya yang basah. Kenapa tidak mungkin….? Kita…. kita saling mencinta. Katakanlah bahwa kau tidak mencintaku! Katakanlah! Kalau kau tidak mencintaiku, baru aku menerima nasib, akan tahu diri….!

Suling Emas menggeleng-geleng ke­palanya. Tentu saja mudah bagi mulutnya untuk mengatakan hal ini, akan tetapi kalau ia katakan bahwa ia tidak men­cinta Lin Lin maka itu berarti bahwa ia membohong, membohongi Lin Lin dan membohongi diri sendiri! Lin-moi, kau tahu bahwa aku pun mencintamu, adikku. Aku mencintaimu walaupun cinta kasihku ini tidak ada harganya. Sudah terlampau banyak aku menimbulkah peristiwa duka oleh cintaku. Cinta kasihku bernoda da­rah, Lin-moi. Aku tidak mau menyeretmu ke dalam kutukan ini, karena…. karena besarnya cintaku kepadamu. Aku tahu bahwa kau tidak peduli tentang usia, dan aku tahu bahwa cintamu kepadaku murni. Namun…. betapapun besar aku mencintamu, aku tetap tak dapat menerimanya, adikku. Dunia kong-ouw memusuhiku, hidupku selalu terancam bahaya, dan mereka semua sudah tahu bahwa kau adalah Kam Lin, adik angkat­ku. Mana mungkin kakak mengawini adik angkat sendiri? Alangkah akan hinanya nama kita, nama keluarga kita. Kau akan sengsara lahir batin kalau menjadi jodoh­ku. Selain itu, kau pun harus ingat. Kau seorang puteri mahkota, bahkan kau calon ratu Khitan. Kau harus ingat akan tugas suci ini, ingat akan bangsamu. Jauh lebih mulia bagi seorang manusia untuk berbakti kepada bangsanya dari­pada menuruti nafsu hatinya.

Biarpun angin menderu keras, namun karena Suling Emas mempergunakan khikang dalam suaranya, Lin Lin dapat mendengar jelas. Ia makin terharu. Semua kata-kata itu menikam ulu hatinya dan mau tak mau ia harus mengakui kebenarannya. Matanya serasa terbuka oleh kata-kata itu, mata hati yang selama ini seperti buta oleh cinta. Akan tetapi, teringat akan Suma Ceng ia masih meragu.

Apakah…. apakah semua itu bukan hanya kaugunakan untuk menghiburku? Apakah tidak tepat kalau kau…. tak dapat menerima persembahan hatiku karena kau sudah mencinta orang lain, mencintai Suma Ceng?

Suling Emas memegang dagu gadis itu, diangkatnya mukanya agar menentang mukanya sendiri. Kaupandanglah mataku, Lin-moi. Adakah mataku mem­bayangkan kebohongan? Memang, dahulu aku pernah mencintai Suma Ceng, akan tetapi cinta itu tercabut akarnya meninggalkan luka di hati setelah ia me­nikah dengan orang lain. Banyak sudah hatiku terluka karena cinta gagal, dan aku tidak mau mengorbankan dirimu hanya untuk mengobati hatiku. Aku…. aku amat mencintamu, adikku, karena itulah, aku rela berkorban patah hati sekali lagi dan kali ini yang paling pa­rah. Dengarlah, aku bersumpah takkan menikah dengan gadis lain, aku ingin mengikuti jejak mendiang suhu Kim-mo Taisu dan jejak locianpwe Bu Kek Siansu. Aku hanya memujikan semoga engkau mendapatkan seorang jodoh yang baik, adikku.
Ah…. Suling Emas…. aku mencintamu aku tidak akan menikah dengan orang lain aku bersump….

Tiba-tiba Suling Emas menutup bibir yang akan bersumpah itu dengan tangan­nya, kemudian ia tersenyum dan men­cium dahi Lin Lin dengan mesra dan penuh kasih sayang. Tak perlu bersum­pah, adikku. Dan aku percaya akan cintamu seperti engkau percaya pula akan cintaku. Biarlah perasaan kita ini menjadi rahasia kita dan membahagiakan kita bahwa betapapun juga, kita saling men­cinta. Nah, keringkanlah air matamu, adikku, dan bersiaplah engkau memimpin bangsamu. Lihat, mereka datang men­jemputmu.

Sekali lagi Suling Emas mencium gadis itu lalu melepaskan pelukannya. Lin Lin terisak dan menengok. Betul saja, dari bawah tampak rombongan pasukan Khitan yang dipimpin oleh Kayabu. Me­reka itu berkuda, kelihatan keren dan garang. Tampak pula Kauw Bian Cinjin, Liu Hwee dan Bu Sin di antara rombong­an ini. Lin Lin merasa bangga hatinya dan diam-diam ia menghapus air mata­nya, lalu bergandengan tangan dengan Suling Emas menuruni puncak bukit. Ke­tika mereka saling lirik, keduanya ter­senyum dan di dalam kerling mata mere­ka terbayang haru dan bahagia.
Kayabu segera meloncat turun dari kudanya, diikuti semua pasukan dan me­reka memberi hormat dengan membungkuk di depan Lin Lin. Hamba melapor bahwa pasukan kita berhasil menang dan menduduki Istana. Kini para panglima menanti Paduka untuk menerima perintah selanjutnya.
Lin Lin mengangguk dengan sikap agung, lalu meloncat ke atas kuda yang sengaja dibawa untuknya. Suling Emas juga mendapatkan seekor kuda. Beramai-­ramai mereka menuruni bukit itu. Lin Lin di depan bersama Suling Emas, Bu Sin dan Liu Hwee. Kauw Bian Cinjin agak di belakang. Di tengah perjalanan, Lin Lin bercakap-cakap dengan Bu Sin tentang Sian Eng. Ternyata, Sian Eng menghilang tanpa meninggalkan jejak. Tak seorang pun tahu ke mana perginya gadis itu yang sudah berubah menjadi seorang yang aneh.

Pengangkatan Puteri Yalina sebagai Ratu Khitan dilakukan dengan suasana meriah sekali. Suling Emas, Bu Sin, Liu Hwee, dan Kam Bian Cinjin merupakan tamu-tamu agung yang menghadiri pera­yaan ini. Ratu Yalina mengangkat Kaya­bu sebagai panglima tertinggi, menggantikan kedudukan Pek-bin-ciangkun yang tewas dalam pertempuran. Atas petunjuk Kayabu, Yalina mengangkat pula banyak panglima-panglima Khitan, diberi kedudukan sesuai dengan kepandaian ma­sing-masing. Sekali lagi, Khitan menjadi bangsa yang kuat di bawah pimpinan seorang ratu yang bijaksana dan men­cinta bangsanya, terlepas dari kekejaman dan kelaliman seorang raja murka seperti Kubakan yang ternyata tewas oleh Pak-­kek Sian-ong dan Lam-kek Sian-ong.

Setelah upacara pengangkatan selesai, para tamu agung minta diri. Kauw Bian Cinjin mendapatkan kembali tongkat Beng-kauw. Tentang isi tongkat, yaitu rahasia peninggalan Pat-jiu Sin-ong, tidak disebut-sebut. Rahasia ini hanya diketahui oleh Lin Lin dan Suling Emas belaka, karena catatan-catatan itu sudah ter­lanjur dimusnahkan Lin Lin.
Dengan menahan keharuan hatinya, Lin Lin mengantar keberangkatan para tamu agung itu. Ketika pandang matanya bertemu dengan pandang mata Suling Emas, tak terasa lagi bulu matanya men­jadi basah oleh air mata. Akan tetapi bibirnya tersenyum membayangkan kebahagiaan akan rahasia yang tersimpan di dalam hatinya dan hati Suling Emas, bahwa mereka saling mencinta dengan kasih sayang yang murni, dengan pengor­banan.

Lin Lin yang kini menjadi Ratu Ya­lina dengan pakaian indah dan Pedang Besi Kuning menghias pinggangnya, ber­diri mengantar tamunya sampai derap kaki kuda mereka tak terdengar lagi setelah lama bayangan mereka tak tam­pak. Kemudian ia membalikkan tubuhnya dan dengan bangga melihat pasukannya berdiri siap di depannya, siap menanti setiap perintahnya. Ia berjanji akan me­mimpin bangsanya ke arah kemuliaan dan kebesaran.

Demikianlah, kisah CINTA BERNODA DARAH ini berakhir sampai di sini de­ngan catatan bahwa di antara tiga saudara yang turun dari Cin-ling-san, hanya Kam Bu Sin seoranglah yang berhasil dalam perjodohannya. Beberapa bulan kemudian, Kam Bu Sin melangsungkan pernikahannya dengan Liu Hwee puteri ketua Beng-kauw, dilakukan dengan upacara yang amat meriah. Hanya sayangnya bagi Bu Sin, di antara saudaranya, hanya Suling Emas saja yang menghadiri perayaan itu. Sian Eng tetap tak pernah muncul, sedangkan Lin Lin yang sibuk dengan tugasnya yang baru, hanya mengi­rim barang-barang berharga sebagai sum­bangan.
Setelah Bu Sin menikah, Suling Emas juga melenyapkan diri dari dunia ramai. Hanya kadang-kadang saja ia muncul di Nan-cao, akan tetapi sebentar saja lalu pergi lagi tanpa ada yang tahu ke mana perginya dan di mana tempat tinggalnya yang tetap.

Apakah hanya berakhir sampai di sini saja riwayat tokoh-tokoh seperti Lin Lin, Suling Emas, dan Sian Eng? Berakhir dengan menyedihkan karena mereka gagal dalam asmara dan menderita? Pembaca budiman, selama manusia ini masih berada di atas tanah, belum masuk ke da­lam tanah, takkan pernah peristiwa berhenti mengejarnya. Cerita mengenai diri manusia, selama manusia itu masih hidup, takkan pernah habis dan barulah riwayat manusia benar-benar tamat kalau dia sudah masuk ke dalam tanah. Oleh kare­na itu, riwayat tentang diri Suling Emas, tentang diri Lin Lin, tentang Sian Eng dan juga Lie Bok Liong, sekali waktu akan dapat anda nikmati pula apabila pengarangnya telah siap dengan rangkaian cerita lain yang merupakan sambungan daripada cerita CINTA BERNODA DA­RAH. Tunggulah saatnya, dan anda pasti akan berjumpa pula denaen mereka dan…. dalam keadaan yang lebih menyenangkan!

Mengapa Suling Emas menjadi nekat merusak kebahagiaannya sendiri, padahal kebahagiaan itu sudah berada di depan mata, sudah menggapainya dalam bentuk cinta kasih timbal balik dengan Lin Lin? Mengapa ia menolak uluran tangan ke­bahagiaan cinta kasih? Hal ini akan ter­jawab apabila anda membaca cerita SU­LING EMAS, di mana anda akan menjum­pai Suling Emas atau Kam Bu Song semenjak kecilnya, menjumpai pula pengalaman-pengalaman hebat dengan asmara berliku-liku dari ibunya, yaitu Tok-siauw-kui Liu Lu Sian yang cantik jelita, gagah perkasa dan genit. Anda akan bertemu dengan tokoh-tokoh hebat seperti guru Suling Emas yang berjuluk Kim-mo Tai­su, bertemu dengan ayah Suling Emas yang tampan perkasa, Jenderal Kam Si Ek yang menjadi perebutan antara gadis-­gadis cantik dengan tokoh-tokoh kang-­ouw yang terlibat urusan ruwet dengan Tok-siauw-kui sehingga terjadi permusuhan yang akhirnya menimpa diri Suling Emas. Dalam cerita SULING EMAS ini akan diceritakan pula tentang masa muda­nya Hek-giam‑lo, It-gan Kai-ong, Tok­-sim Lo-tong, Toat-beng Koai-jin, Siang-mou Sin-ni, dan Cui-beng‑kui, pendeknya keenam Thian-te Liok-koai akan muncul di masa mudanya!
Akhirnya, anda akan menikmati kisah asmara antara Suling Emas dengan cinta pertamanya, kemudian dengan Suma-Ceng. Tak ketinggalan kisah menarik dari ibu Lin Lin, yaitu Puteri Tayami.

Demikianlah, semoga cerita CINTA BERNODA DARAH berhasil dalam menghidangkan cerita hiburan sehat bagi para pembaca budiman. Sampai jumpa di lain cerita!

T A M A T

Solo, awal Oktober 1968

Cinta Bernoda Darah bagian 94

Posted in Cinta Bernoda Darah at 1:30 pm by riza

Jumlah pasukan pengawal yang ber­pihak Hek-giam-lo sebetulnya lebih besar. Maklum karena memang tadinya semua pasukan Khitan merupakan anak buah Hek-giam-lo, suka atau pun tidak. Akan tetapi ketika pasukan itu melihat bahwa pemberontak itu dipimpin oleh Pek-bin-ciangkun dan Kayabu, dua orang to­koh yang mereka hormati, mereka menjadi ragu-ragu. Tak seorang pun diantara mereka yang suka kepada Hek-giam-lo, kecuali beberapa orang perwira dan pa­sukan yang memang dipergunakan oleh Hek-giam-lo dan yang mengenyam pula hasil kejahatan dan kekejaman iblis ini. Oleh karena itu, timbullah kekacauan yang hebat ketika sebagian dari tentara ini membalik dan malah membantu ge­rakan Pek-bin-ciangkun. Lebih-lebih se­telah mereka menyaksikan sepak terjang Lin Lin yang mereka dengar adalah Pu­teri Mahkota Yalina yang sejak kecil lenyap dan disangka mati. Sepak terjang Lin Lin yang hebat itu selain mendatang­kan rasa gentar juga mendatangkan rasa kagum dan suka karena ternyata bahwa tak seorang pun yang roboh di bawah tangan gadis ini tewas.
Melihat keadaan berbalik untuk ke­untungan fihaknya, Lin Lin segera ter­ingat kepada Hek-giam-lo yang masih bertanding melawan pengeroyokan Gan-lopek dan Bok Liong. Hampir gadis ini menjerit ketika memandang ke arah per­tempuran itu. Terjadi perubahan hebat dan pertandingan itu kini menjadi per­gulatan mati-matian. Kiranya dengan gerakan yang hebat bukan main Hek-giam-lo yang cerdik itu telah mendesak Bok Liong, berniat merobohkan dulu lawan yang lebih lemah ini agar ia dapat memusatkan kepandaian dan tenaganya untuk mengalahkan Gan-lopek.

Pada saat Bok Liong menangkis sebuah sambaran maut sabit, pedang pemuda yang bersinar kuning itu bertemu sabit dan…. terus menempel lekat tak dapat ditarik kembali. Bok Liong merasa tiba-tiba lengannya panas dan kejang. Terpaksa ia hendak melepaskan gagang pedangnya, namun alangkah kagetnya ketika ia mendapatkan kenyataan bahwa hal ini pun tidak mungkin. Telapak tangannya seakan-akan sudah lekat pula dengan gagang pedangnya, seakan-akan gagang pedang itu sudah berakar ke dalam tangannya. Rasa panas dan sakit makin menghebat sehingga pemuda itu mengeluh.

Melihat ini, Gan-lopek kaget sekali. Ia maklum bahwa iblis hitam itu lihai bukan main, memiliki hawa sakti yang telah dilatih dengan racun sehingga setiap serangannya kalau mengenai sasaran merupakan tangan maut. Ia maklum bah­wa muridnya terancam bahaya maut dan terlambat sedikit saja usaha pertolongan, tentu takkan tertolong lagi. Oleh karena itu, sejenak ia melupakan Hek-giam-lo dan cepat ia memindahkan mouw-pit putih ke tangan kanan, tangan kirinya yang kosong memegang pangkal lengan muridnya sambil mengerahkan sin-kang untuk melawan penyaluran hawa serangan Hek-giam-lo, sedangkan tangan kanan yang memegang sepasang pena bulu itu ia hantamkan ke arah sabit.

Cringgggg…. Plakkk….! Peristiwa itu terjadi hanya beberapa detik saja. Dengan bantuan tenaga sin-kang suhunya, Bok Liong berhasil melepaskan gagang pedangnya dan terlepas dari bahaya maut. Adapun hantaman sepasang pena bulu itu tepat mengenai sabit, demikian hebatnya sehingga baik sepasang pena bulu maupun senjata sabit itu patah-patah. Akan te­tapi agaknya Hek-giam-lo yang cerdik menggunakan saat yang tepat itu untuk menggerakkan tangan kirinya, mengerahkan tenaga yang mengandung penuh Hek-­in-tok (Racun Uap Hitam) memukul pung­gung Gan-lopek dengan telapak tangan. Pada saat tepukan itu mengenai punggung, dari dalam lengan bajunya yang kiri melayang sebatang hui-to (pisau ter­bang) yang menancap sampai ke gagang­nya di punggung Gan-lopek pula!
Gan-lopek kelihatan terkejut, ter­huyung dan memandang Hek-giam-lo, lalu tertawa bergelak dan roboh terguling!

Iblis keparat! Lin Lin menerjang maju, menyesal mengapa tidak sejak tadi ia turun tangan. Adapun Bok Liong yang menyaksikan gurunya roboh, cepat memungut pedangnya dan menerjang lagi dengan nekat.
Biarpun ia telah berhasil merobohkan Gan-lopek, Hek-giam-lo harus menebus­nya dengan mahal. Ia menderita luka dalam yang hebat, kini ia harus menge­rahkan tenaga sin-kang dari dalam tubuh­nya yang membutuhkan pengerahan se­kuatnya, maka luka di dalam dadanya menjadi menghebat, membuat ia merasa darah naik ke dalam kerongkongannya dan tak tertahankan lagi ia muntah darah. Pada saat itu, Lin Lin datang menerjangnya. Karena Hek-giam-lo sudah bertangan kosong, cepat ia menggerakkan lengan kiri. Belasan batang hui-to atau pisau terbang menyambar ke depan, sebagian besar ke arah Lin Lin dan beberapa buah ke arah Bok Liong. Namun semua dapat dipukul runtuh oleh kedua orang muda itu.

Sinar kuning bergulung-gulung me­nyambarnya. Hek-giam-lo yang sudah lemah dan berkunang-kunang matanya itu mengangkat lengan kanan menangkis.

Crakkk! Putuslah lengan itu dan darah menyembur dari pangkal lengan yang putus. Lin Lin mendesak terus. Kembali Hek-giam-lo menangkis dengan tangan kiri, dan sekali lagi putuslah le­ngan kirinya. Ia mendengus-dengus aneh, akan tetapi tak seorang pun tahu apa yang ia ucapkan karena pada saat itu gulungan sinar pedang kuning emas sudah membabatnya dan robohlah Hek-giam-­lo dengan dua tusukan di dadanya dan sebuah babatan pada lehernya membuat leher itu hampir putus pula!
Para perajurit yang dipimpin Pek-bin-ciangkun bersorak gembira. Adapun para perajurit yang menjadi anak buah Hek-giam-lo menjadi kecil hati dan me­lawan sambil mundur. Saat itulah diper­gunakan Pek-bin-ciangkun untuk berseru lantang.

Orang-orang gagah bangsa Khitan, dengarlah baik-baik! Yang mampus itu, Hek-giam-lo si iblis kejam adalah peng­khianat yang puluhan tahun kita benci dan kita cari-cari, kita sangka sudah binasa. Dia adalah Bayisan! Bersama Kubakan, dia membunuh sri baginda tua Kulukan dan merampas kedudukan se­bagai raja. Kalau kalian membelanya berarti kalian membela pengkhianat bang­sa. Sudah semestinya kita membantu Puteri Mahkota Yalina untuk menumbang­kan kekuasaan jahat membangun Keraja­an Khitan yang kuat dan besar, seperti dahulu!

Ucapan yang nyaring ini ternyata besar sekali pengaruhnya. Banyak di an­tara para pasukan itu yang segera membuang senjata dan menggabungkan diri. Memang ada yang masih setia kepada Raja Kubakan, namun kekuatan mereka tidak ada artinya lagi dan pertempuran dilanjutkan dalam keadaan berat sebelah.
Lin Lin untuk sejenak tidak mem­pedulikan semua itu. Bersama Bok Liong ia berlutut di dekat tubuh Gan-lopek yang sudah payah. Muka kakek ini per­lahan-lahan sudah berubah kehitaman, akan tetapi kakek sakti ini masih dapat tersenyum-senyum.

Bok Liong pendekar muda yang gagah itu kali ini tak dapat menahan diri me­nangisi gurunya karena ia maklum bahwa tak mungkin suhunya tertolong lagi. De­ngan lengan kiri menyangga leher suhu­nya, ia hanya dapat berbisik-bisik me­nyebut nama suhunya dengan putus harapan.
Eh, mengapa kau menangis, muridku? Apa kaukira kelak kau sendiri takkan mati juga? Kalau kau menangisi orang mati, berarti kau menangisi dirimu sen­diri. Eh, Lin Lin bocah nakal! Kau benar-­benar tidak percuma hidup, sudah banyak menimbulkan geger. Sebelum aku mati, kau bilanglah dulu secara jujur, apakah kau suka dan sayang kepada muridku Bok Liong ini?

Lin Lin juga berlinang air mata. Mendengar pertanyaan ini, tanpa ragu-ragu ia menjawab, Tentu saja aku sayang dan suka kepada Liong-twako!
Ha-ha-ha! Nah, apa kataku, Bok Liong? Dia suka padamu! Gan-lopek ter­batuk-batuk karena ketika tertawa tadi dadanya terasa sesak sekali, kemudian ia menggigit bibir menahan rasa nyeri yang secara mendadak terasa di seluruh tubuh­nya. Tadi ia dapat menahan rasa nyeri karena ia mengerahkan sin-kangnya, akan tetapi setelah bicara, ia lupa akan ini dan serentak pengaruh racun membuat ia kesakitan.

Tapi…. tapi…. Bok Liong kebingungan, sebagian karena kata-kata itu, sebagian pula karena melihat keadaan suhunya.
Heh…. Gan-lopek menghela napas. Kau masih penasaran? Lin…. Lin…. jawab lagi…., apakah…. apakah kau…. suka menjadi…. isteri muridku ini….? Gan-lopek tak dapat bicara dengan baik lagi, sudah tersendat-sendat dan sukar.

Bukan main kagetnya hati Lin Lin mendengar pertanyaan ini. Tak disangka­nya sama sekali bahwa kakek ini akan bertanya tentang perjodohan. Tentu Bok Liong sudah bercerita kepada gurunya tentang penolakannya. Sebetulnya ia me­rasa tidak tega terhadap Gan-lopek yang sudah mendekati kematiannya ini, tidak tega mengecewakan hatinya. Akan tetapi, tidak mungkin ia dapat berbohong dalam menjawab tentang perjodohan, apalagi Bok Liong sendiri berada di situ. Pemuda itu menundukkan mukanya yang pucat seperti orang terdakwa menanti dijatuh­kannya keputusan hukuman. Ia harus berterus terang sehingga urusan yang tidak menyenangkan ini segera selesai.
Tidak, Empek Gan, aku tidak suka menjadi isterinya karena kuanggap Liong-­twako seperti kakakku sendiri.

Bok Liong tidak heran mendengar ini, akan tetapi sepasang mata Gan-lopek yang tadinya sudah meram itu mendadak terbuka lagi dan memandang dengan melotot lebar. Apa….? Kau…. kau tidak mau….? Kau nakal…. sebelum aku mati…. hayo bilang laki-laki mana yang kauharapkan menjadi suamimu….?

Sambil menundukkan mukanya Lin Lin menjawab, perlahan akan tetapi cukup jelas untuk Gan-lopek, bahkan merupakan halilintar menyambar ke dalam telinga Bok Liong, Suling Emas….!
Suhu…. Suhu….! Bok Liong tiba-tiba memeluk gurunya yang sudah putus napasnya dengan mata masih terbelalak lebar. Lin Lin menahan isaknya, hatinya terharu dan penuh iba. Akan tetapi apa­kah yang dapat ia lakukan?
Liong-twako, dia sudah meninggal, biar kusuruh atur pemakamannya…. katanya perlahan.

Akan tetapi Bok Liong menggeleng-geleng kepala, membungkuk dan memon­dong jenazah gurunya, bangkit berdiri, memandang sejenak kepada Lin Lin de­ngan air mata bercucuran, kemudian ia membalikkan tubuh dan melangkah pergi. Gadis itu pun memandang dengan air mata berlinang akan tetapi ia menguat­kan hati dan tidak menahan karena mak­lum bahwa inilah yang terbaik. Ia merasa kasihan sekali kepada Bok Liong dan berjanji dalam hatinya bahwa selamanya ia akan menganggap Bok Liong sebagai kakaknya sendiri. Ia hanya mengharapkan mudah-mudahan kelak akan tiba saat dan kesempatan baginya untuk membalas budi kebaikan Bok Liong terhadap dirinya.

Sementara itu pertempuran sudah selesai. Sebagian besar pasukan istana menyerah dan takluk, sebagian pula me­larikan diri. Lin Lin segera mengumpul­kan pasukannya, kemudian memerintahkan kepada Pek-bin-ciangkun untuk melakukan penyerbuan ke istana.
Kalau Paman tiriku mau menyerah dengan baik-baik, jangan ganggu dia. Aku akan memberi kesempatan kepadanya untuk memilih, pergi dari Khitan atau menjadi seorang tahanan selamanya de­ngan perlakuan baik. Akan tetapi kalau dia melawan, kita gempur!

Dengan sorak gemuruh pasukan pen­dukung Lin Lin berangkat menuju istana dan di sepanjang jalan, pasukan ini ber­tambah besar jumlahnya karena pasukan lain yang mendengar tentang pemberon­takan ini dan tentang tewasnya Hek-­giam-lo yang ternyata adalah pengkhianat Bayisan, ikut bergabung. Apalagi pasukan di bawah perwira-perwira tua yang mengenal Bayisan, tentu saja ber­simpati kepada Puteri Yalina, anak dari Puteri Tayami yang mereka kagumi.

Tidak ada perlawanan berarti di sepanjang jalan. Baru setelah pasukan tiba di depan istana, dari halaman istana para pasukan pengawal mengadakan perlawanan. Segera terjadi pertempuran hebat, namun tidak lama pula jalannya pertem­puran karena hanya beberapa orang saja fihak musuh yang melakukan perlawanan sungguh-sungguh, yaitu mereka yang ma­sin terhitung keluarga raja sendiri. Ada­pun para perwira lain juga hanya se­tengah hati saja melakukan perlawanan.

Tiba-tiba terdengar suara ketawa menyeramkan dan barisan depan menjadi kacau. Barisan tengah mendesak ke bela­kang dan kelihatan beberapa orang perajurit dengan muka pucat melarikan diri. Ada setan….! terdengar teriakan. Iblis sendiri membantu sri baginda, kita cela­ka! disusul teriakan lain.

Lin Lin kaget sekali. Selagi ia hendak berlari ke depan, tiba-tiba ia terhenti dan terbelalak memandang ke depan, Kayabu datang sambil memondong tubuh ayahnya. Pek-bin-ciangkun telah terluka hebat sekali. Dari mata, hidung, mulut, telinga keluar darah segar!

Ahhh, siapa melukainya? teriak Lin Lin terkejut.
Tuan Puteri, kita terjebak! kata Kayabu gelisah. Sri baginda mendatang­kan bala bantuan dua orang iblis yang luar biasa sekali kepandaiannya. Dari jauh mereka memukul-mukul dan barisan kita kocar-kacir. Ayah sendiri terkena pukulan jarak jauh dan beginilah akibat­nya.

Dengan pedang di tangan Lin Lin berseru keras dan tubuhnya sudah berkelebat lenyap karena secepat kilat ia sudah berlari ke depan. Ia melihat baris­annya sudah mundur ketakutan sehingga halaman istana itu kosong kembali, ke­cuali barisan pengawal yang berjaga di kiri, sedangkan di tengah terbuka tidak terjaga. Ketika Lin Lin berlari dekat, ia melihat bahwa di bagian tengah ini ber­diri dua orang kakek. Dapat dibayangkan betapa kaget hatinya ketika mengenal mereka. Bukan lain mereka ini adalah Pak-kek Sian-ong dan Lam-kek Sian-ong, dua orang kakek sakti yang belum lama ini juga telah mendatangkan geger di puncak Thai-san!
Lin Lin adalah seorang gadis yang tidak mengenal takut. Ia tahu betul bah­wa dua orang kakek itu adalah orang—orang sakti yang sukar dikalahkan. Di puncak Thai-san, hanya setelah Bu Kek Siansu muncul saja dua orang kakek ini dapat diusir. Akan tetapi, mengingat betapa dua orang kakek ini hampir saja menewaskan Suling Emas, ia menjadi marah dan memandang penuh kebencian.

Kailan iblis tua bangka! bentaknya sambil menudingkan pedang. Mau apa kalian muncul di Khitan? Apakah kau sudah menjadi kaki tangan paman tiriku si pengkhianat?

Lam-kek Sian-ong si muka merah tertawa. Ha-ha-ha, kita bertemu lagi dengan si gadis liar yang berilmu aneh, Pek-bin Twako (Kakak Muka Putih)!
Hemmm, menyebalkan sekali, Ang-­bin-siauwte (Adik Muka Merah), bereskan saja bocah itu!

Ha-ha-hah, jangan, Twako. Sayang! Lihat, alangkah cantik dan agungnya. Siapa kira, dia berdarah Raja Khitan! Kalau kita menjadi sepasang raja di sini, dan dia menjadi pelayan kita, bukankah hebat?

Lin Lin tak dapat menahan kemarah­annya lagi. Kalian ini dua iblis tua bang­ka bermulut kotor, lekas pergi dari sini sebelum pedangku bicara dan sebelum kukerahkan barisanku untuk membasmi kalian!

Akan tetapi baru saja Lin Lin ber­henti bicara, dari dalam istana berlari-lari keluar pengawal raja sendiri sambil membawa senjata dan langsung mereka ini menerjang dua orang kakek itu sambil berteriak-teriak. Pembunuh raja! Kepung…., tangkap….! Dua orang kakek itu saling pandang, lalu tertawa dan sekali mereka menggerakkan kedua le­ngan, para pengawal raja itu terlempar dan roboh tak dapat bangun lagi. Bagaikan nyamuk menyerbu api, para pengawal itu roboh bergelimpangan dan tumpang-­tindih. Dua orang kakek itu dengan sikap acuh tak acuh merobohkan mereka dan dengan kaki, mereka itu menendangi mayat-mayat itu ke arah halaman depan.

Lin Lin terkejut dan heran. Tadinya ia menyangka bahwa paman tirinya mempergunaken dua orang kakek sakti ini. Siapa kira, paman tirinya malah agaknya sudah terbunuh oleh mereka. Jelas se­karang bahwa mereka ini hendak meram­pas kedudukan raja di Khitan! Kemarah­annya meluap di hati Lin Lin dan dengan gerakan cepat ia nekat menyerbu ke depan sambil berteriak, Iblis-iblis busuk, mampuslah!

Akan tetapi tiba-tiba tubuhnya yang berpusing dengan jurus Soan-hong-ci-thian itu tahu-tahu tertahan oleh dorongan tenaga sakti dari Lam-kek Sian-ong yang menggerakkan kedua tangannya ke depan dada, kemudian kakek itu membuat ge­rakan memutar dengan kedua lengannya dan tubuh Lin Lin ikut pula terputar-putar seperti kitiran angin! Gadis yang kurang pengalaman itu ternyata ter­lambat melihat sehingga ia membiarkan dirinya terlibat hawa pukulan yang luar biasa itu.

Ang-bin-siauwte, mengapa main-main dengan dia? Habiskan saja agar lekas beres! Si Muka Putih mencela.
Ha-ha-ha, tidak, Twako. Aku sayang kepadanya!
Apa….? Setua kau ini masih….
Ah, tidak, Twako. Jangan salah sang­ka. Aku hanya suka melihat dia ini, pa­tut menjadi muridku, murid kita. Begitu garang, begitu galak dan tabah!
Kau takkan menurunkan kepandaian kepada orang lain. Biar kuhabiskan dia! bentak si muka putih dan ketika tangannya bergerak, sinar putih seperti perak yang berhawa dingin sekali menyambar ke arah tubuh Lin Lin yang masih berputar-putar di bawah pengaruh kekuatan tangan si muka merah.

Cinta Bernoda Darah bagian 93

Posted in Cinta Bernoda Darah at 1:14 pm by riza

Jurus ke dua….! kembali Lin Lin berseru dan kembali Kayabu menjadi geli karena jurus ke dua ini dimainkan dengan amat lambat sehingga Pedang Besi Kuning itu jelas sekali bergerak menusuk ke arah pundak kirinya. Kayabu biarpun merasa geli menyaksikan jurus-jurus yang lucu dan tidak ada bahayanya sama se­kali ini, tidak mau memandang rendah. Dia seorang pemuda yang cukup hati-hati dan banyak pengalamannya dalam pertandingan, maka menghadapi tusukan lambat ke arah pundaknya ini ia cepat menggerakkan golok besarnya. Tentu saja mudah baginya untuk mengelak. Akan tetapi menurut pengalamannya, biasanya serangan yang lambat itu hanyalah me­rupakan pancingan dan serangan sesungguhnya baru akan datang setelah yang diserang mengelak. Inilah sebabnya se­ngaja Kayabu tidak mau mengelak, me­lainkan ia menggerakkan goloknya untuk menangkis sambil mengerahkan seluruh tenaganya karena ia berniat mengakhiri pertempuran tak seimbang ini dengan memukul runtuh pedang gadis itu.

Cringgg….!
Kayabu mengeluh dan meloncat ke belakang. Sabetan goloknya tadi keras sekali, akan tetapi ia merasa betapa telapak tangannya seperti dibeset kulit­nya oleh gagang goloknya sendiri. Kira­nya dengan sin-kang yang mujijat, gadis itu telah membuat Pedang Besi Kuning yang ditusukkan dengan lambat itu ter­getar amat kuat dan halus sehingga tidak tampak. Maka begitu golok lawan mem­bentur pedangnya, getaran kuat ini men­jalar melalui golok dan sampai ke ga­gang, membuat telapak tangan lawan menjadi panas dan sakit-sakit. Makin keras Kayabu menangkis, makin keras pula telapak tangannya terkena getaran. Pemuda Khitan itu cepat mengatur keseimbangan tubuhnya dan siap-siap meng­hadapi serangan selanjutnya. Kini ia ti­dak berani memandang ringan sama se­kali, bahkan timbul rasa ngeri dan khawatir di hatinya.

Awas jurus ke tiga….! Lin Lin berseru dan pandang mata Kayabu ber­kunang-kunang karena tiba-tiba gadis itu lenyap sama sekali, terbungkus oleh gu­lungan sinar pedang kuning yang men­datangkan angin berpusing-pusing. Gadis itu seakan-akan telah berubah menjadi angin puyuh yang berputar-putar makin mendekatinya! Kayabu tidak tahu bahwa Lin Lin telah mengeluarkan jurus yang amat hebat dari ilmu sakti Cap-sha Sin-kun, yaitu jurus yang disebut Soan-hong-ci-tian (Angin Puyuh Keluarkan Kilat). Karena tidak tahu harus bagaimana meng­hadapi gulungan sinar kuning yang ber­pusing itu, Kayabu lalu mengeluarkan seruan keras goloknya berkelebat mem­bacok ke depan.

Wesss…. wesss….! Aneh sekali, sinar goloknya membabat gulungan sinar, seakan-akan membabat bayangan saja, tidak mengenai apa-apa. Dan tiba-tiba dari dalam gulungan sinar kuning itu menyambar ujung Pedang Besi Kuning seakan-akan kilat cepatnya.

Aiiihhhhh! Kayabu menjerit dan goloknya terlepas karena kulit tangannya tergores pedang dan sebelum ia tahu apa yang terjadi, lutut kakinya terkena to­tokan ujung sepatu Lin Lin dan tak ter­tahankan lagi ia roboh tertelungkup!

Pek-bin-ciangkun dan para perwira lainnya memandang dengan bengong. Kejadian itu bagi mereka teramat aneh. Para perajurit yang merasa simpati ke­pada Lin Lin bersorak gemuruh, sedang­kan Kayabu bangkit berdiri dengan muka merah.
Bagaimana, Kayabu? Sudah puaskah kau ataukah kau hendak melanjutkan percobaanmu?

Aku bukanlah seorang yang buta dan nekat. Aku tahu bahwa kepandaian Nona amat tinggi dan aku bukan lawan Nona. Setelah aku kalah, silakan Nona gerakkan pedang itu membunuhku!
Tidak, Kayabu. Aku tidak akan membunuhmu, malah aku minta sukalah kau membantuku menumbangkan kedudukan paman tiriku yang dibantu oleh iblis Hek-giam-lo untuk melepaskan bangsa kita daripada penindasan si lalim.

Sepasang mata pemuda itu seakan-akan mengeluarkan kilat. Aku adalah seorang perajurit sejati, bagiku tidak ada pilihan lain, mati dalam perjuangan atau menang. Tak perlu kau membujukku, setelah kalah, mati bukan apa-apa bagi­ku! Sambil berkata demikian, pemuda ini menggerakkan goloknya ke arah lehernya sendiri.

Kayabu….! Pek-bin-ciangkun memekik penuh kekhawatiran. Sebagai se­orang pendekar gagah, ia tidak khawatir atau ngeri melihat putera tunggalnya menghadapi maut, akan tetapi ia benar-benar akan merasa hancur hatinya kalau puteranya itu tewas membunuh diri, suatu perbuatan yang dianggap pengecut dan rendah. Sama sekali ia tidak menyangka puteranya akan melakukan perbuatan itu sehingga tidak ada kesempatan lagi bagi Pek-bin-ciangkun untuk mencegahnya. Akan tetapi, sinar kuning menyambar dari tangan Lin Lin, terdengar suara keras dan golok di tangan Kayabu patah-patah dan terlempar sampai jauh. Pe­muda itu mencelat mundur dengan muka pucat.

Pek-bin-ciangkun melangkah maju dan melayangkan tangannya menampar pipi puteranya dua kali sehingga pipi itu men­jadi merah dan dari ujung bibirnya keluar sedikit darah.

Huh, anak durhaka! Apakah kau hen­dak meninggalkan aib pada ayahmu de­ngan cara pengecut? Membunuh diri? Ihhh, Kayabu, sampai hatikah kau me­lakukan hal itu di depan ayahmu? Suara orang tua ini menjadi serak dan dari matanya yang melotot lebar itu keluar beberapa butir air mata.
Kayabu menjatuhkan dirinya berlutut di depan kaki ayahnya. Ayah, ampunkan anakmu yang lupa dan gila karena ke­kecewaan. Bukan hanya kecewa karena anak tidak dapat memenuhi tugas sebagaimana mestinya, melainkan terutama melihat ayah sebagai junjungan dan pujaan­ku ternyata hendak menjadi pengkhianat dan membantu pemberontak. Ayah, di manakah kegagahan kita dan bagaimana kita kelak dapat mempertanggungjawab­kannya di depan nenek moyang kita?
Pek-bin-ciangkun memegang pundak anaknya dan ditariknya berdiri. Mereka berhadapan muka, ayah dan anak yang sama tingginya ini, saling bertentang pandang sampai beberapa lama, kemudian si ayah berkata, Kau keliru, yang kau­tuduhkan itu sesungguhnya kebalikan daripada kenyataan. Sekarang ini ayahmu bukan berdiri di fihak pemberontak atau pengkhianat, bahkan sebaliknya daripada itu. Ketahuilah, Kayabu, yang selama ini kita bela, sesungguhnya adalah fihak pengkhianat. Kita terpaksa membela pengkhianat karena dia yang berhak te­lah melenyapkan diri. Dan sekarang, Tuan Puteri Mahkota Yalina yang berhak akan tahta kerajaan, telah muncul kem­bali. Aku dahulu adalah panglima dari kakeknya, kemudian ibunya, setelah kedudukan terampas oleh paman tirinya dan dia sendiri lenyap, terpaksa aku mem­bantu pengkhianat. Sekarang tiba waktu­nya untuk membasmi para pengkhianat. Selanjutnya panglima tua itu mencerita­kan puteranya tentang semua peristiwa yang terjadi belasan tahun yang lalu, juga tentang Hek-giam-lo yang sesungguh­nya adalah Bayisan, panglima pengkhianat yang melarikan diri (baca ceritaSuling Emas).

Terbukalah mata Kayabu. Mulai ia dapat melihat siapa sesungguhnya gadis cantik jelita yang berpakaian seperti gadis Han, yang memiliki kesaktian yang luar biasa itu. Tahulah ia sekarang meng­apa Panglima Khitan yang paling dipercaya oleh raja, yang merupakan orang terkuat dan boleh dibilang paiing ber­kuasa di Khitan, dijadikan pembantu oleh raja padahal orang itu terkenal sebagai seorang iblis yang jahat. Hek-giam-lo berlaku sewenang-wenang dan kejam ter­hadap bangsanya sendiri, akan tetapi maklum betapa saktinya Hek-giam-lo, dia tak dapat berbuat sesuatu selain mengadu kepada ayahnya yang hanya meng­geleng kepala, bahkan melarangnya menentang Hek-giam-lo yang sakti dan ja­hat.

Pemuda yang dapat berpikir panjang ini segera menjatuhkan diri berlutut di depan Lin Lin sambil berkata, Maafkan hamba yang tidak mau melihat kenyataan dan telah bersikap tidak pantas terhadap Tuan Puteri….
Awasss….! Tiba-tiba kaki Lin Lin menendang pundak Kayabu, membuat pemuda itu terlempar bergulingan sampai enam meter lebih jauhnya. Semua orang kaget sekali, terutama Kayabu sendiri dan juga Pek-bin-ciangkun. Mereka ter­kejut dan kecewa, mengira bahwa Lin Lin tiada bedanya dengan Hek-giam-lo, yang berwatak ganas dan kejam, tak dapat memberi ampun kepada orang lain. Akan tetapi, keraguan dan kekecewaan ini segera lenyap terganti kekaguman dan kegirangan ketika Lin Lin membungkuk dan memungut tiga batang benda hitam yang menancap di atas tanah, tepat di mana tadi Kayabu berlutut. Ternyata itu adalah tiga buah pisau hitam yang entah bagaimana tahu-tahu telah berada di situ tanpa terlihat orang lain, kecuali Lin Lin tentu saja, yang telah berhasil menyela­matkan Kayabu.

Kebetulan sekali, belum dicari sudah datang! Hek-giam-lo iblis busuk, keluarlah terima binasa! teriak Lin Lin sam­bil melompat ke kiri dengan pedang di tangan dan tangan kirinya bergerak me­nyambitkan tiga batang pisau hitam tadi ke semak-semak. Akan tetapi tiga batang pisau itu lenyap ke dalam semak-semak tanpa mendatangkan akibat apa-apa. Hek-giam-lo memang hebat. Baru saja ia menyambitkan pisau-pisaunya dari semak-semak itu untuk membunuh Kayabu, tahu-tahu ia sudah lenyap dari situ dan tiba-tiba keadaan sebelah kanan menjadi ribut. Ketika Lin Lin meloncat ke bagian ini, wajahnya menjadi merah saking ma­rahnya karena tanpa ada yang tahu apa yang menjadi sebab, dua belas orang perajurit telah menggeletak mati dengan muka hitam seluruhnya, tanda terkena racun yang amat jahat!

Keparat Hek-giam-lo! Pengecut kau! Hayo keluar dan bertanding seribu jurus melawanku!
Akan tetapi terpaksa Lin Lin cepat memutar pedangnya ketika telinganya menangkap desir angin senjata rahasia dari arah belakang. Terdengar bunyi ting-ting-ting ketika pedangnya berhasil me­nyampok pergi belasan batang jarum hitam, akan tetapi kembali ada enam orang perajurit terjungkal roboh dan mati seketika!

Lin Lin makin marah. Gadis ini ber­kelebatan ke sana ke mari untuk mencari tempat persembunyian musuhnya, namun Hek-giam-lo benar-benar jahat dan licin. Agaknya iblis ini sengaja hendak mem­permainkan Lin Lin dan para pengikut­nya. Berturut-turut roboh para perajurit dan sebagian daripada para perwira. Setiap kali roboh tentu enam orang dan dalam waktu beberapa menit saja sudah tiga puluh enam orang roboh binasa dalam keadaan mengerikan!

Berpencar….! Masing-masing berlindung….! Kayabu berteriak nyaring dan bersama ayahnya yang banyak pengalaman dalam pertempuran, pemuda ini mengatur sisa orang-orangnya. Dalam sekejap mata saja para perajurit yang tadinya kebingungan dan kacau-balau kehilangan pimpinan itu, berserabutan dan lenyap dari pandangan mata, berlindung dan bersembunyi di balik pohon-pohon dan semak-semak. Tinggai Lin Lin seorang diri yang masih tinggal berdiri tegak di situ sambil memaki-maki dan menantang-nantang. Tiba-tiba dari arah depan terdengar deru angin senjata rahasia dan cepat gadis ini memutar pedangnya. Hujan senjata rahasia berupa pisau-pisau dan jarum-jarum beracun itu dengan gencar menyambar datang, namun semua dapat ditangkis oleh gulungan sinar kuning yang merupakan benteng sinar yang melindungi tubuh Lin Lin. Sambil menangkis, Lin Lin memaki-maki.

Hek-giam-lo iblis jahanam! Hayo keluarlah kau kalau memang laki-laki! Inilah anak tunggal Puteri Tayami. Aku Puteri Mahkota Yalina, hayo kaulawanlah kalau memang gagah. Jangan main sembunyi dan melepas senjata rahasia seperti seorang pengecut rendah!

Akan tetapi tidak pernah ada jawaban dan hujan senjata rahasia pun berhenti. Tiba-tiba kesunyian itu terpecah oleh lengking tinggi dan kagetlah Lin Lin karena pendengarannya yang tajam me­nangkap suara angin pukulan. Desir angin pukulan seperti itu hanya dapat terde­ngar kalau ada tokoh-tokoh sakti meng­adu kepandaian. Cepat gadis ini melom­pat dari tempat itu menuju ke arah su­ara. Benar saja dugaannya, tak jauh dari situ, terhalang oleh pohon-pohon rindang, tampak tiga orang tengah bertanding hebat. Dan Lin Lin kaget bukan main ketika mengenal mereka. Yang sedang bertanding hebat itu bukan lain adalah Hek-giam-lo yang dikeroyok oleh dua orang, Gan-lopek dan Lie Bok Liong!

Hek-giam-lo memang hebat sekali. Sebetulnya iblis ini masih belum sembuh dari lukanya yang hebat ketika ia ber­tanding menghadapi Suling Emas di pun­cak Thai-san. Luka akibat pukulan Suling Emas yang bagi lain orang tentu akan mengakibatkan maut itu, bagi Hek-giam-lo hanya mendatangkan luka sebelah dalam yang amat hebat dan membutuh­kan pengobatan dan istirahat lama. Na­mun, keadaannya yang terluka hebat ini tidak mengurangi keganasannya sehingga ketika ia mendengar tentang maksud pemberontakan orang-orang Khitan yang di­pimpin oleh Lin Lin, iblis ini segera keluar dan turun tangan, berhasil dengan jarum-jarum hitamnya membunuh sampai tiga puluh enam orang banyaknya.
Bahkan ketika dia menghujankan sen­jata rahasia kepada Lin Lin dan tiba-tiba muncul Gan-lopek dan Lie Bok Liong yang menyerangnya, iblis ini masih sang­gup untuk melakukan perlawanan yang hebat. Gan-lopek tokoh kang-ouw kawak­an yang selalu bergembira dan lucu itu, sebagaimana diceritakan di bagian depan, berpisah dari Lin Lin ketika mereka tiba di pucak Thai-san karena Lin Lin mem­bantu Suling Emas dan bertemu dengan saudara-saudaranya. Merasa bahwa dia adalah orang luar, kakek ini menjauh­kan diri. Akan tetapi kemudian ia berjumpa dengan muridnya, Lie Bok Liong, dan alangkah kecewa dan menyesal hati­nya ketika melihat muridnya yang ter­kasih itu menderita batin. Apalagi ketika ia mendengar pengakuan Lie Bok Liong tentang penolakan kasih sayang Lin Lin, kakek ini tidak mau mengerti.

Ah, tak mungkin! bantahnya. Lin Lin suka kepadamu, ini aku tahu benar!
Suka tidak sama dengan cinta, Su­hu….
Apa bedanya? Dari suka menjadi cinta. Hayo, mana dia? Mana gadis liar itu?
Teecu (murid) khawatir bahwa dia sudah berangkat ke Khitan, Lin-moi me­miliki hasrat besar untuk menuntut kem­bali haknya atas mahkota Kerajaan Khi­tan.
Wah-wah, bocah lancang dia! Mana dia mampu menghadapi Hek-giam-lo dan orang-orang Khitan seorang diri? Dia bisa celaka. Hayo, Bok Liong, kita harus menyusulnya.

Demikianlah, guru dan murid ini mun­cul di Khitan. Kebetulan sekali pada hari itu mereka menyaksikan Hek-giam-lo secara pengecut menyerang Lin Lin dari tempat sembunyi dengan senjata-senjata rahasia. Tanpa banyak cakap lagi Gan-lopek lalu menerjang iblis itu dengan senjatanya yang istimewa, yaitu Hek-pek-mou-pit (Pensil Bulu Hitam dan Pu­tih). Terjadilah pertandingan hebat dan mati-matian antara dua orang sakti. Hek-giam-lo memang menderita luka dalam, namun ketika menyambut terjang­an Gan-lopek, gerakannya masih hebat, senjatanya yang mengerikan, sabit tajam panjang itu, menyambar-nyambar seperti seekor naga siluman mengamuk di ang­kasa raya. Menyaksikan kehebatan iblis ini, Bok Liong tidak mau tinggal diam, lalu mencabut Gwat-kong-kiam dan menyerbu dengan hebat. Karena maklum akan keganasan dan kelihaian si iblis hitam, apalagi karena ia maklum pula akan isi hati Bok Liong yang tidak mau ketinggalan dalam usaha membantu dan menolong Lin Lin, maka Gan-lopek tidak melarangnya melakukan pengeroyokan terhadap Hek-giam-lo.

Melihat Bok Liong, Lin Lin merasa tertusuk hatinya. Terharu sekali ia melihat pemuda ini, yang pernah secara terus terang menyatakan cinta kasihnya kepadanya, dan dengan tegas ia menolak­nya. Entah berapa kali sudah pemuda gagah perkasa ini menolongnya, membelanya, membantunya tanpa menghirau­kan keselamatannya sendiri. Betapa mulia­nya hati pemuda ini, betapa gagahnya sehingga tidak takut-takut menghadapi Hek-giam-lo dan anak buahnya untuk menolongnya, sungguhpun pemuda itu cukup maklum bahwa kepandaiannya ti­dak akan mampu dipakai menghadapi Hek-giam-lo. Cinta kasih murni yang amat mengharukan hatinya. Dan kini pemuda itu muncul lagi, membelanya lagi, malah bersama gurunya.

Lin Lin berdiri terbelalak kagum. Tak tahu ia bagaimana ia harus berbuat. Ia maklum bahwa Gan-lopek adalah seorang tokoh sakti dan kini menghadapi Hek-giam-lo dengan bantuan muridnya sendiri. Apakah ia harus pula bantu mengeroyok? Pengalamannya selama merantau dan bergalang-gulung dengan para tokoh kang-ouw yang sakti mendatangkan pengertian bahwa membantu seorang tokoh sakti bertanding dapat diartikan menghinanya!

Pertandingan itu hebat sekali. Hek-giam-lo agaknya mengerahkan seluruh tenaganya, terbukti dari bunyi lengking yang panjang bersambung-sambung dari kerongkongannya, sedangkan senjata sabitnya menyambar-nyambar cepat sekali dan mengeluarkan angin bercuitan. Akan tetapi permainan sepasang pena bulu di tangan Gan-lopek amat kokoh kuat dan tenang, sungguhpun sinar senjata sabit yang gilang-gemilang itu seakan-akan mengurung dan menyelimutinya, bahkan menekannya. Bok Liong juga mainkan pedangnya dengan sekuat tenaga dan mengeluarkan seluruh kepandaiannya. Mengagumkan sekali betapa guru dan murid ini dapat main bersama. Gerakan mereka begitu mirip dan biarpun senjata mereka berbeda, namun kerja sama mereka amat baik, isi mengisi, bantu-membantu.

Hek-giam-lo memang amat sakti. Andaikata ia tidak menderita luka dalam, apalagi kalau Bok Liong tidak membantu, agaknya Gan-lopek sendiri tak dapat bertahan melawannya. Kini, keadaannya yang terluka dan ditambah pengeroyokan Bok Liong yang sudah memiliki kepandai­an tinggi, membuat pertandingan itu menjadi seimbang, malah boleh dikata Hek-giam-lo banyak tertekan sungguhpun sabitnya kelihatan garang dan amat berbahaya.

Melihat ini, Lin Lin menjadi tidak sabar. Ia ingin terjun ke dalam gelang­gang pertandingan, ingin ia dengan ta­ngannya sendiri membunuh iblis yang dahulu pernah membunuh kakeknya, meng­hina ibunya dan mencemarkan nama baik bangsa Khitan. Akan tetapi sebelum ia sempat bergerak, tiba-tiba terdengar bunyi terompet dan disusul sorakan keras.
Basmi pemberontak! Hancurkan pem­berontak! Dari arah utara muncullah banyak sekali pasukan Khitan dengan senjata di tangan menyerbu.

Pasukan siaaaaappp! Dengan darah dan jiwa kita bela Puteri Yalina, keturunan langsung Raja Besar Kulukan! Basmi pengkhianat Bayisan dan Kubakan! demikian terdengar teriakan-teriakan keluar dari mulut Kayabu dan ayahnya, Pek-bin-ciangkun yang sudah mempersiap­kan pasukannya pula. Terjadilah perang tanding hebat antara mereka. Melihat ini, Lin Lin tidak jadi membantu Gan-lopek, melainkan ia sendiri memimpin para pendukungnya menghadapi penyerbu­an tentara pengawal kerajaan. Hebat sepak terjang gadis ini. Tubuhnya lenyap terbungkus sinar kuning emas dan ke manapun juga sinar ini menyambar, ter­dengar teriakan-teriakan dan senjata terlempar dari tangan disusul robohnya tentara musuh yang terluka tangan atau kakinya. Akan tetapi tak seorang pun yang tewas di tangan Lin Lin, karena gadis ini merasa tidak tega membunuhi tentara bangsanya sendiri.

Cinta Bernoda Darah bagian 92

Posted in Cinta Bernoda Darah at 1:04 pm by riza

Lin Lin mendengarkan dengan penuh perhatian dan merasa tidak sabar ketika panglima itu berhenti sebentar untuk mengingat-ingat peristiwa yang telah puluhan tahun terjadi itu (baca ceritaSuling Emas).

Sementara itu, bangsa kita selalu mengadakan perang dengan Kerajaan Hou-han, dan yang menjadi calon ratu bukan lain adalah Puteri Mahkota Tayami. Akan tetapi, ibunda Paduka tewas di medan pertempuran secara aneh karena anak panah yang membunuhnya kami kenal sebagai anak panah yang biasa dipergunakan oleh Bayisan yang meng­hilang! Dan beberapa tahun kemudian, setelah paman tiri Paduka, Kubakan men­jadi raja, muncullah Hek-giam-lo yang kami sebut lo-ciangkun, menjadi panglima tertinggi yang amat berkuasa. Karena dia sakti, dan raja amat percaya kepadanya, maka kami tidak berani bertanya-tanya siapa adanya Hek-giam-lo. Siapa kira, dia adalah Bayisan yang berkhianat! Pek-bin-ciangkun tampak marah sekali.

Akan tetapi lebih hebat adalah ke­marahan Lin Lin. Kiranya Hek-giam-lo adalah pembunuh ibunya! Makin besarlah hasrat hatinya hendak membasmi Hek-giam-lo dan merampas tahta Kerajaan Khitan, Hemmm, bagus sekali! Kalau begitu mari kita serbu kerajaan dan bu­nuh Hek-giam-lo si pengkhianat!
Sabarlah, Tuan Puteri. Hek-giam-lo amat sakti. Bagaimana kita mampu melawannya?

Jangan takut, percayalah kepadaku. Aku mampu menandinginya, dan andai­kata aku kalah dan tewas, berarti aku sudah berjasa, mati untuk bangsaku da­lam usaha membasmi pengkhianat! jawab Lin Lin dengan gagah.

Pada saat itu terdengar suara terom­pet dan gaduh. Ternyata muncul serom­bongan pasukan yang dipimpin oleh seorang pemuda yang bermuka putih, pe­muda yang tampan dan gagah sekali. Begitu dekat, pemuda yang membawa golok besar ini dari atas kudanya berseru, Hei, kaum pemberontak. Menyerah­lah kalian sebelum aku terpaksa meng­gunakan kekerasan atas nama sri baginda!

Semua orang terkejut, lebih-lebih Pek-bin-ciangkun yang melihat bahwa pemuda itu bukan lain adalah Kayabu, puteranya dan juga anak tunggalnya. Ka­yabu ini juga memakai nama bangsa Han, dan ia memilih nama Liao yang kelak menjadi nama Kerajaan Khitan. Liao Kayabu ini seorang pemuda berusia dua puluh lima tahun, gagah perkasa dan tampan, ahli main golok dan anak panah, semenjak muda digembleng ayahnya, malah dalam perantauannya ia belajar ilmu silat tinggi dari para pertapa di sepanjang pegunungan utara.

Kayabu, apa artinya ini? Tak tahu­kah kau bahwa ayahmu berada di sini? bentak Pek-bin-ciangkun dengan suara lantang.
Pemuda gagah itu sejenak memandang ayahnya, kemudian ia melompat turun dari atas kudanya, berlari menghampiri Pek-bin-ciangkun dan menjatuhkan diri berlutut. Ayah, sebagai anakmu, aku menghormat dan menjunjung tinggi pada­mu. Sebagai anakmu, aku harap hendak­nya Ayah suka sadar dan insyaf, bahwa Ayah telah terseret oleh bujukan orang untuk turun berkhianat. Ayah, semenjak kecil aku mendapat didikan Ayah yang terutama menekankan agar supaya aku menjadi seorang gagah yang selalu men­cinta bangsa dan setia kepada rajanya. Pelajaran Ayah ini sudah berakar di da­lam hatiku. Untuk membela bangsaku dan bersetia kepada bangsaku, aku siap me­nerima kematian, siap mengorbankan apa pun juga. Akan tetapi, hari ini aku men­dengar laporan bahwa Ayah berkumpul dengan orang-orang yang hendak mem­berontak, yang berarti mengkhianati bang­sa dan raja. Ayah, sekali lagi, sebagai puteramu, aku mohon Ayah suka sadar dan menarik diri keluar dari persekutuan jahat ini!
Muka Pek-bin-ciangkun sebentar pucat sebentar merah, sedangkan Lin Lin me­mandang dengan hati tegang.

Kayabu, kau tidak mengerti. Ayahmu tetap seorang yang selalu setia terhadap bangsa dan kerajaan. Ketahuilah bahwa gerakan yang akan diadakan oleh ayahmu adalah justeru gerakan membasmi peng­khianat yang semenjak puluhan tahun merajalela dan baru sekarang diketahui dan akan diberantas. Ketahuilah, bahwa lo-ciangkun sebetulnya adalah si peng­khianat Bayisan, dan sri baginda yang sekarang ini malah mempergunakan tenaganya. Karena itu, tak dapat diragukan lagi bahwa kematian sri baginda tua maupun Puteri Tayami adalah hasil peng­khianatannya yang dibantu oleh Bayisan.
Para perajurit dalam pasukan yang baru datang, menjadi gaduh mendengar ini, pasukan tak dapat diatur lagi dan mereka saling bicara sendiri dengan ra­mai. Liao Kayabu bangkit berdiri dan suaranya nyaring mengatasi suara gaduh lainnya.

Pek-bin-ciangkun! Aku sekarang bicara sebagai seorang hamba Kerajaan Khitan yang setia! Aku tidak tahu dan tidak ambil peduli akan dongeng tentang pengkhianatan jaman dahulu, akan tetapi kenyataannya sekarang, au bekerja sebagai panglima di dalam Kerajaan Khi­tan, karena itu aku harus setia kepada raja dan bangsa. Siapapun juga yang mempunyai niat memberontak, dia adalah musuhku. Pemberontakan berarti pengkhianatan, baik terhadap raja maupun terhadap bangsa, karena itu, sudah men­jadi kewajibanku untuk membasminya dengan taruhan nyawa!
Dengan golok melintang di depan dada, Kayabu berdiri tegak menentang pandang mata ayahnya dan juga Lin Lin. Gadis ini diam-diam kagum sekali. Pe­muda ini benar-benar gagah perkasa, pikirnya, dan kesetiaannya terhadap Ku­bakan bukanlah kesetiaan karena dorong­an perasaan pribadi, bukan pula dengan pamrih mencari kemuliaan duniawi, me­lainkan kesetiaan yang jujur dan bersih dari seorang panglima yang gagah per­kasa terhadap negara dan bangsanya. Akan tetapi, Pek-bin-ciangkun marah sekali.

Anak durhaka! Kau hendak melawan ayahmu sendiri? Orang tua ini sudah melangkah maju dan mencabut pedangnya yang panjang. Sejak kau kecil aku men­didik dan membangunmu, biarlah seka­rang aku sendiri yang membasmimu!

Ciangkun, tahan dulu! tiba-tiba Lin Lin berseru dan sekali tubuhnya berkele­bat ia sudah melewati Panglima Muka Putih ini dan berkata, Puteramu ini seorang panglima sejati yang gagah, ha­rus dihadapi dengan kegagahan pula. Biarlah aku yang menghadapinya. Setuju­kah kau?
Pek-bin-ciangkun mengerutkan kening­nya, akan tetapi karena ia menganggap Lin Lin sebagai junjungan baru calon ratu di Khitan, tentu saja ia merasa tidak enak kalau membantah. Ia menun­duk dan menjawab, Terserah kepada kebijaksanaan Tuan Puteri. Akan tetapi harap Paduka berhati-hati karena bocah ini kepandaiannya cukup tinggi sehingga hamba sendiri pun belum tentu dapat mengalahkannya.
Biarpun dalam ucapan ini Pek-bin-ciangkun memberi peringatan agar jun­jungannya berhati-hati, namun mengan­dung pula kebanggaan seorang ayah terhadap puteranya.
Lin Lin mengangguk, tersenyum manis. Aku mengerti. Kemudian ia membalik­kan tubuhnya menghadapi Kayabu yang masih berdiri tegak dengan sikap menan­tang.

Kayabu, kau seorang panglima yang dipercaya dan setia kepada Sri Baginda Kubakan agaknya. Apakah ini berarti bahwa kau adalah kaki tangan Hek-giam-lo si iblis busuk?
Aku seorang perajurit, seorang ksa­tria, tidak ada sangkut-pautnya dengan lo-ciangkun, melainkan mengabdi kepada negara dan bangsa!
Bagus! Karena kalau kau kaki tangan Hek-giam-lo, biarpun dengan hati me­nyesal karena kau putera Pek-bin-ciang­kun, tentu kau akan kubunuh. Ketahuilah, aku adalah Puteri Mahkota Yalina, dan sri baginda yang sekarang adalah paman tiriku yang merampas tahta kerajaan dengan cara yang curang dan jahat. Akan tetapi kau tentu tidak peduli akan hal itu semua. Sekarang, sebagai musuh, melihat ayahmu berada di fihakku, apakah kau tidak mau menakluk?
Aku seorang perajurit sejati. Sebelum kalah atau mati takkan menakluk!
Lin Lin tersenyum. Hemmm, bagaimana seandainya aku mengalahkan kau dan golokmu itu?

Pemuda itu nampak terkejut, lalu menggelengkan kepala. Tak mungkin! Lalu ia menyambung. Di antura kalian semua, kiranya hanya ayahku yang akan mampu menandingi aku. Nona, lebih baik kau pergilah jauh-jauh dari Khitan dan hentikan semua niat memberontak ini agar ayahku jangan terseret-seret.
Haiii…. Kayabu, kau benar-benar memandang rendah kepadaku! Majulah, kutanggung paling lama tiga belas jurus aku akan mampu mengalahkan kau!

Terbelalak mata Kayabu dan ributlah semua perajurit mendengar ini. Kayabu terkenal sebagai seorang ahli golok yang pandai. Biarpun kepandaiannya tidak sehebat Hek-giam-lo, namun ia terhitung Panglima Khitan yang pilihan dan mengalahkan panglima ini dalam waktu tiga belas jurus sama sukarnya dengan merobohkan sebuah gunung agaknya. Diam-diam Pek-bin-ciangkun sendiri me­ngerutkan keningnya. Ia bersimpati ke­pada Puteri Yalina dan mau membantu karena ingin pula menumpas Bayisan yang menjadi Hek-giam-lo serta mengakhiri pengkhianatan Kubakan. Akan te­tapi kalau yang ia bela adalah seorang puteri muda yang begini sombong, yang bersumbar akan mengalahkan puteranya dalam waktu tiga belas jurus, benar-benar keterlaluan dan kelak gadis ini tentu akan menjadi seorang ratu yang sembrono sekali.
Melihat puteranya sambil tersenyum-senyum melangkah maju menghadapi Lin Lin dengan sikap hendak bersungguh-sung­guh, panglima tua ini berseru, Kayabu, jangan kurang ajar kau terhadap Sang Puteri Yalina!

Aku ditantang, dan memang musuh­nya. Mengapa kurang ajar? Sudah se­mestinya musuh saling menantang dan siapa kalah harus tunduk. Nona, agaknya kaulah yang mengepalai pemberontakan ini, dan kau pula yang mempengaruhi ayahku dan teman-teman untuk mem­berontak. Setelah sekarang menantangku, hendak merobohkan aku dalam waktu tiga belas jurus, marilah kita membuat janji. Kalau betul kau mampu mengalah­kan aku dalam waktu tiga belas jurus, aku akan menyerah tanpa syarat! Akan tetapi, bagaimana kalau dalam waktu itu kau tidak mampu mengalahkan aku?

Kalau aku tidak manipu, akulah yang akan menyerah tanpa syarat dan akan menghentikan niatku membasmi Hek-giam-lo dan Kubakan!
Tuan Puteri….! Pek-bin-ciangkun berseru kaget, Hebat janji yang keluar dari mulut Lin Lin itu, karena sekali berjanji, kalau betul tidak mampu me­ngalahkan Kayabu dalam tiga belas jurus, akan hancurlah semua cita-cita tadi. Kayabu mundur kau! Kalau kau lanjutkan, aku takkan mengakuimu sebagai anak lagi! Saking khawatirnya, Pek-bin-ciangkun berkata demikian.

Ciangkun, biarkanlah. Pula, kalau kau dan teman-teman yang lain tidak menyaksikan kepandaianku, mana kalian bisa percaya atas bimbinganku?
Tidak, Tuan Puteri. Biarlah hamba yang menghadapi anak hamba yang dur­haka ini! Kalau dia kalah, akan hamba bunuh, dan kalau hamba yang kalah, hamba rela mati dalam tangan anak kandung yang durhaka, Kayabu, hayo lawan bapakmu sendiri! Pek-bin-ciangkun sudah meloncat ke depan akan tetapi tiba-tiba, entah bagaimana, tubuhnya itu mundur sendiri seakan-akan ada tenaga tak tampak yang menariknya dari bela­kang. Ia menoleh dan melihat Lin Lin tersenyum. Kiranya gadis itu yang tadi menariknya dengan penggunaan tenaga jarak jauh yang amat hebat!

Ciangkun, tak tahukah kau bahwa majuku ini karena aku sayang kalau kali­an ayah dan anak saling gempur? Anak­mu seorang gagah perkasa, tidak semesti­nya dimusnahkan. Minggirlah!

Mendengar kata-kata ini dan melihat bukti betapa lihainya Lin Lin yang men­demonstrasikan tenaga saktinya tadi, terpaksa Pek-bin-ciangkun mengundurkan diri dan menonton dari samping dengan hati cemas.
Kayabu, kau majulah dan hitunglah jurus-jurus yang kupergunakan. Awas seranganku! Lin Lin merasa yakin akan dapat mengalahkan lawannya dalam tiga belas jurus. Tentu saja yang ia maksud­kan dengan tiga belas jurus itu adalah jurus-jurus sakti yang ia warisi dari Pat-jiu Sin-ong! Kalau ia mengandalkan ilmu silat biasa, tentu saja tiga belas jurus merupakan waktu yang terlampau sedikit untuk mengalahkan seorang panglima muda yang kelihatannya begitu gagah perkasa. Namun, ia amat percaya akan keampuhan tiga belas jurus sakti pening­gaian Pat-jiu Sin-ong, maka ia sengaja menantang untuk memperlihatkan kelihai­annya sehingga para pengikutnya akan percaya kepadanya. Apalagi kalau diingat bahwa dia tadi sudah menyatakan sanggup menghancurkan Hek-giam-lo si iblis sakti, kalau ia tidak mendemonstrasikan kepandaian yang sakti, tentu mereka itu takkan mau percaya.

Aku sudah siap! jawab Kayabu de­ngan suara lantang. Pemuda ini merasa penasaran dan juga marah. Kalau saja ia tidak menghadapi pemberontakan yang serius dan yang harus diberantasnya de­ngan segera, tentu ia tidak sudi meneri­ma tantangan yang amat menghina ini. Dia, Liao Kayabu, seorang jagoan besar di Khitan, hanya di hargai semahal tiga belas jurus saja oleh seorang gadis muda jelita? Benar-benar penghinaan yang amat hebat! Kali ini baginya juga merupakan ujian. Ia harus memperlihatkan kepandai­annya terhadap gadis yang amat cantik jelita ini, yang agaknya adalah puteri keponakan sri baginda sendiri yang baru muncul sekarang. Bukankah kalau ia sang­gup bertahan sampai tiga belas jurus, pemberontakan itu sekaligus dapat dipadamkan tanpa pertumpahan darah lagi? Ia harus dapat bertahan, tidak saja bertahan sampai tiga belas jurus, bahkan ia harus berbalik dapat menangkap gadis cantik ini.

Awas serangan pertama….! Lin Lin berseru sambil menggerakkan Pedang Besi Kuning yang berubah menjadi gulungan sinar keemasan. Hampir saja Kayabu tertawa menyaksikan serangan ju­rus pertama itu. Itu sama sekali bukan merupakan serangan, mengapa dimasuk­kan sebagai jurus serangan? Ia melihat gadis itu menggerakkan pedang ke depan dada dan tangan kiri merangkap tangan kanan merupakan sembah di depan dada, kemudian kedua lengan dikembangkan ke atas kepala dengan pedang dibalik masuk ke belakang lengan kanan, seperti ge­rakan orang yang menengadah dan me­mohon berkah dari Thian Yang Maha Kuasa. Inikah jurus serangan? Akan te­tapi sesunggqhnyalah, inilah jurus per­tama atau jurus pembukaan dari tiga belas jurus ilmu sakti yang oleh Lin Lin disebut Co-sha Sin-kun.
Tiba-tiba Kayabu berseru keras dan terkejut bukan main. Cepat-cepat ia mengubah kedudukan kakinya dan memasang kuda-kuda yang amat kuat ka­rena dari arah Lin Lin datang hawa pu­kulan yang seperti angin gunung bertiup perlahan. Bukan merupakan serangan langsung, akan tetapi karena hawa pu­kulan atau angin ini timbul hanya karena gadis itu menggerakkan lengan ke atas, benar-benar mengejutkan sekali. Baru bergerak seperti itu saja sudah mengan­dung hawa pukulan yang terasa dalam jarak tiga meter, apalagi kalau dipergu­nakan untuk memukul! Kayabu sama se­kali tidak tahu bahwa jurus pertama ini memang bukan jurus serangan, melainkan jurus untuk mengumpulkan hawa murni dan mengerahkan sin-kang!

Cinta Bernoda Darah bagian 91

Posted in Cinta Bernoda Darah at 12:21 pm by riza

Mari kita masuk, dan jangan cerita­kan kepada siapapun juga tentang peris­tiwa tadi, akhirnya Suma Ceng berkata, kemudian ketika berada di dalam kamarnya, tak tertahankan lagi nyonya ini menjatuhkari diri di atas pembaringan dan menelungkup sambil menangis.

Lin Lin, tunggu….! Suling Emas berteriak dan mempercepat pengejaran­nya. Lin Lin seperti orang gila, berlari cepat sekali karena ia mengerahkan ilmu lari berdasarkan tenaga yang ia peroleh dari latihan ilmunya yang baru di bawah petunjuk Empek Gan. Betapapun juga, latihannya yang masih belum masak itu tidak memungkinkan ia dapat melarikan diri daripada pengejaran Suling Emas. Akhirnya, jauh di luar kota raja, ia da­pat disusul oleh Suling Eruas yang mendahuluinya dan membalik, menghadang di tengah jalan.

Lin-moi, berhenti sebentar, mari kita bicara baik-baik….
Dengan air mata membasahi pipinya, Lin Lin melintangkan pedangnya di depan dada dan matanya yang tajam menatap wajah pendekar itu sambil berkata ketus, Bicara apa lagi? Kau sudah puas meng­hinaku dua kali! Kau menyusul aku apa­kah hendak menghina lagi dan melihat aku mampus? air matanya makin deras bercucuran.

Dengan suara sedih Suling Emas berkata, Lin Lin…. Lin-moi, mengapa kau berkata demikian? Tidak sekali-kali aku berani menghinamu. Ah, Lin Lin, tidak tahukah kau betapa hancur hatiku meng­hadapi semua ini? Kau agaknya tahu sekarang, bahwa…. bahwa aku adalah kakakmu sendiri. Tidak saja aku jauh lebih tua darimu, tapi juga aku…. aku adalah kakakmu, Lin Lin. Aku tidak menghina….

Cukup! Lin Lin membentak di an­tara isak tangisnya, Katakanlah bahwa kau memandang aku sebagai seorang gadis yang tak tahu malu, seorang gadis yang rendah! Kau bukan kakakku, ini kau pun tahu jelas. Aku seorang puteri Khi­tan, aku hanya anak pungut ayahmu, aku bukan she Kam! Kita bukan sedarah da­daging, bukan seketurunan. Tentang usia…. sudahlah, tentu saja kau mengang­gap aku seorang gadis tak berharga! Kau…. kau mencinta Suma Ceng yang sudah bersuami dan mempunyai anak. Ah, mengapa kau tidak bunuh saja aku? Kembali Lin Lin menangis.
Suling Emas menarik napas panjang. Kau betul. Memang aku pernah men­cintanya, mencintanya sebelum ia me­nikah dengan Pangeran Kiang. Namun kami tidak beruntung, dan dia sudah bahagia di samping suaminya, aku…. aku sudah melupakan perhubungan kami yang lalu. Karena inilah Lin-moi…. karena aku merasa bahwa aku sudah pernah mencinta orang lain, ditambah lagi kenyataan bahwa kau sejak kecil menjadi puteri ayahku, diperkuat dengan kenyata­an bahwa aku jauh lebih tua daripadamu, bagaimanapun juga…. tak mungkin aku mau merusak hidupmu. Kau masih muda, jelita, dan perkasa, lagi pula kau Puteri Khitan. Banyak di dunia ini pria yang jauh melebihi aku segala-galanya, menantimu….

Cukup! Kau hendak menambah luka di hatiku? Kau sengaja menghancurkan hatiku yang sudah sakit ini? Alangkah kejamnya kau! Alangkah bencinya aku kepadamu! Lin Lin menggerakkan pe­dangnya dengan ancaman hendak me­nusukkan senjata ini di dada Suling Emas.
Bagus begitu…. kau tusuklah dada ini! Lebih baik begitu, Lin-moi. Untuk apa aku hidup lebih lama lagi kalau hi­dupku hanya mendatangkan sengsara bagi banyak orang? Suling Emas berhenti sejenak, meramkan matanya membayangkan wajah Suma Ceng, juga wajah Tan Lian yang menjadi korban asmara, ke­mudian ia membuka lagi matanya. Sudah kupenuhi kewajibanku mewakili ibu meng­hadapi Thian-te Liok-koai, sudah kupenuhi kewajibanku bertemu dengan adik-adikku seperti pesan ayah. Kautusuklah dadaku!

Karena Lin Lin memegang pedangnya dengan gerakan menusuk, maka ketika Suling Emas menubruk ke depan, tak dapat dicegah lagi pedangnya menusuk dada Suling Emas. Lin Lin terkejut dan membuang muka sambil menutupinya dengan tangan kiri. Tangannya yang me­megang pedang gemetar sehingga pedang itu menyeleweng, menggores kulit dada kemudian ujung pedang menancap di pundak kanan Suling Emas!
Ketika merasa betapa pedangnya me­nusuk daging, Lin Lin menjerit kecil dan menarik pedangnya, berdiri terbelalak dengan muka pucat. Suling Emas masih berdiri, mulutnya tersenyum sedih, darah mengucur keluar membasahi bajunya.

Mengapa kepalang tanggung, adikku? Tusuklah lagi, yang tepat…. ini dadaku, aku rela mati untuk membebaskanmu dari derita….
Makin besar mata Lin Lin terbelalak, kemudian ia menjerit lagi dan terisak lari meninggalkan tempat itu. Suling Emas terhuyung-huyung kemudian roboh pingsan.

Berhenti! Menyerahlah untuk menjadi tawanan kami! terdengar bentakan keras dan belasan orang berloncatan keluar dari balik pohon dan segera mereka me­ngurung Lin Lin yang berdiri tenang. Sekali pandang tahulah Lin Lin bahwa ia dikurung oleh para perajurit Khitan, bah­kan di antaranya ada yang ia kenal se­bagai perwira-perwira yang pernah ikut rombongan ke Nan-cao menghadiri pe­rayaan Beng-kauw. Dan di belakang be­lasan orang ini muncul pula rombongan yang merupakan pasukan berjumlah lima puluh orang lebih, lengkap dengan senjata tajam. Sikap mereka rata-rata galak dan tangkas, dan memang suku bangsa Khitan terkenal sebagai orang-orang yang berjiwa gagah perkasa, sudah biasa akan kesulitan hidup yang membuat mereka kuat lahir batin.

Namun menghadapi pengurungan ba­nyak orang itu Lin Lin tidak menjadi gentar. Di dalam hatinya timbul perasaan bahwa mereka ini adalah orang-orangnya, bukan musuh. Maka sambil berdiri tegak dan bertolak pinggang ia menghardik.

Kalian ini mau apa? Mengapa hendak menawan aku? Tidak tahukah siapa aku? Aku adalah Puteri Yalina, puteri mah­kota yang berhak akan mahkota Kerajaan Khitan!

Sikapnya yang agung dan kata-katanya yang mantap ini meragukan para perajurit. Akan tetapi seorang komandan ber­kata keras, biarpun kata-katanya tidak kasar. Kami hanya menerima perintah dari Lo-ciangkun, bahwa apabila Nona muncul di wilayah ini, kami harus me­nawan Nona.

Lin Lin tahu siapa yang dimaksudkan dengan Lo-ciangkun (panglima tua) itu. Ia tersenyum mengejek. Hemmm, siapa takut iblis Hek-giam-lo? Kalian ini bangsa Khitan yang terkenal gagah perkasa, yang sejak dahulu setia kepada nenek moyangku, menjadi abdi-abdi setia dari kakekku, raja besar Kulukan, mengapa sekarang bersikap pengecut, tunduk ke­pada perintah seorang iblis seperti Hek-giam-lo?

Kami bukan pengecut! bantah komandan itu dengan muka merah. Akan tetapi kami harus tunduk terhadap perintah Lo-ciangkun yang menjadi keper­cayaan sri baginda. Kalau kami tidak melakukan perintah, tentu kami dihukum mati. Sudah banyak contohnya pembang­kang yang dihukum mati secara mengeri­kan. Oleh karena itu selain kami takut dihukum, juga kami sayangkan kalau sampai Nona menerima hukuman dari Lo-ciangkun.
Hemmm, siapa takut? Kalian tahu betapa kejamnya iblis Hek-giam-lo, kejam dan menjadi tokoh penjahat di dunia yang hanya menodai nama besar Khitan! Apakah dahulu kakekku, raja besar Ku­lukan sekejam itu? Baru sekarang, se­telah paman tiriku Kubakan menjadi raja dan dibantu Hek-giam-lo, terjadi ke­kejaman-kekejaman. Hek-giam-lo adalah pengkhianat. Dahulu juga seorang panglima kakekku, akan tetapi karena berdosa kepada mendiang ibuku, maka mukanya menjadi seperti iblis, dan dia membantu paman tiriku yang tidak berhak akan kedudukan raja. Lihat, kalau aku yang me­warisi mahkota yang menjadi hakku, aku tidak akan berlaku kejam. Kalian sudah menghinaku, hendak menawanku, akan tetapi aku tidak akan membunuh kalian.

Mau tidak mau komandan itu ter­senyum. Nona, Lo-ciangkun mengandalkan kepandaiannya yang setinggi langit. Nona hendak mengandalkan apa untuk melakukan kekejaman?
Eh, kau memandang rendah? Keparat! Lihat baik-baik! Dengan kecepatan kilat Lin Lin menggerakkan tubuhnya, melaku­kan jurus sakti memukul dan menendang ke depan. Terdengar teriakan-teriakan kaget dan…. enam orang Khitan berikut komandan tadi berjungkir-balik dan jatuh tumpang tindih, tanpa mereka ketahui mengapa mereka dapat jatuh bangun seperti itu!

Nah, kaukira aku tidak dapat menyiksa kalian dan membunuh kalian se­cara kejam kalau kukehendaki? Akan tetapi biarpun kalian keterlaluan, aku tetap memaafkan kalian karena kalian adalah bangsaku dan orang-orangku. Ba­ngunlah!

Enam orang itu meringis-ringis dan bangun, akan tetapi kesetiakawanan me­reka membuat pasukan itu bergerak dan merapatkan pengepungan. Melihat enam orang kawan mereka dirobohkan Lin Lin, mereka yang tidak mendengar kata-kata Lin Lin tadi kini maju mendesak dan siap untuk mengeroyok gadis itu dalam kepungan itu. Melihat ini Lin Lin mem­bentak.
Mundur kalian! Benar-benarkah kalian ini akan melupakan darah nenek moyang­ku dan membantu pengkhianat? Belum cukupkah bukti tadi bahwa aku cukup kuat akan tetapi tidak mau membunuh kalian yang kusayang sebagai rakyatku? Awas, kalau memang kalian ini hanya terdiri dari orang-orang yang hanya tun­duk kalau diperlakukan kejam, jangan salahkan aku terpaksa menggunakan ke­kerasan!

Akan tetapi orang-orang Khitan itu tidak mengenal takut. Mereka mendesak makin dekat dan sikap mereka meng­ancam. Tiba-tiba mata mereka menjadi silau oleh sinar kuning terang yang ber­gulung-gulung ketika Lin Lin mencabut pedangnya dan menggerak-gerakkannya dengan cepat di atas kepalanya.

Mundur! Kalian tidak melihat ini? Pedang pusaka Besi Kuning, pedang men­diang ibuku Puteri Tayami, siapa berani melawan ini? Hayo maju, siapa maju akan kupenggal kepalanya!

Semua orang Khitan mengenal belaka pedang ini. Mereka yang masih muda dan belum pernah menyaksikan pedang ini, setidaknya pernah mendengar dongeng bermacam-macam tentang pedang ini yang katanya dahulu adalah pemberian raja dewa kepada nenek moyang Raja Khitan. Mereka serentak mundur dan muka mereka menjadi pucat.

Kalian tahu, hanya pedang pusaka inilah yang menjadi tanda. Siapa meme­gangnya dialah yang patut menjadi raja di Khitan. Dahulu pedang ini terlepas dari tangan Kubakan, terampas oleh Kaisar Sung. Raja macam apa dia itu se­hingga melepaskan pusaka kerajaan? Dia tidak patut menjadi raja dan dia hanya­lah anak dari selir kakek Kulukan. Ibu­kulah puteri mahkota, dan karena aku anaknya, maka akulah keturunan langsung dari kakek Kulukan, dan aku, Puteri Yalina, yang berhak memakai mahkota Kerajaan Khitan. Hayo, siapa berdiri di fihakku dan siapa berani menentangku? Sambil berkata Lin Lin mengacungkan pedangnya ke atas, berdiri tegak dan sikapnya gagah dan agung. Anehnya biar­pun belum banyak ia mempelajari bahasa Khitan ketika ia ditawan Hek-giam-lo, namun kini dia dapat bicara dengan lan­car dalam bahasa itu. Memang panggilan darah agaknya yang membuat ia merasa tidak asing dengan suku bangsa dan bahasa Khitan. Apalagi ia adalah keturunan dari orang-orang yang berdarah Kerajaan Khitan.

Pada saat orang-orang Khitan itu ragu-ragu dan tidak tahu harus bersikap bagaimana terhadap gadis ini, tiba-tiba di bagian kiri orang-orang itu bergerak minggir, memberi jalan kepada rombongan yang datang. Di antara mereka ada yang berkata dengan suara membayangkan kelegaan hati.
Bagus, Pek-bin-ciangkun tiba! Hanya dialah yang dapat memberi keputusan, kita ini perajurit biasa yang tunduk pe­rintah!

Lin Lin cepat menengok dan ia melihat bahwa yang datang betul adalah Panglima Khitan yang terkenal itu, yang dahulu mewakili Kerajaan Khitan ketika datang pada pesta Beng-kauw. Panglima yang berwajah putih ini datang bersama belasan orang perwira pembantunya dan mereka semua memandang ke arah Lin Lin dengan pandang mata penuh selidik dan wajah keren. Namun Lin Lin tidak menjadi gentar dan ia cepat menghadapi Pek-bin-ciangkun dengan sikap agung dan gagah. Sengaja ia tidak mengucapkan kata-kata seakan-akan sikap seorang puteri yang menerima laporan dari pang­limanya!

Pek-bin-ciangkun tentu saja mengenal siapa Lin Lin dan panglima ini sudah pula mendengar tentang asal-usul gadis ini. Maka ia bersikap hormat sungguhpun ia tidak merendahkan diri. Tadi ia sudah menerima laporan lengkap, bahkan ucap­an Lin Lin yang terakhir tadi didengarnya pula. Hal ini mengejutkan hatinya. Terang bahwa gadis keturunan langsung dari raja lama ini menuntut haknya dan kalau gadis ini berhasil menghasut, pasti akan terjadi perang saudara!

Nona, kami sudah mendengar semua laporan dan mendengar pula ucapan Nona yang amat berbahaya. Ketahuilah, Nona. Kami hanya menjalankan tugas kami, taat kepada perintah raja besar kami. Lebih baik Nona menurut saja kami bawa menghadap raja dan percuma membujuk kami yang semenjak dahulu merupakan perajurit-perajurit setia sampai mati terhadap junjungan kami. Ucapan yang bersemangat dan gagah ini berhasil menggugah semangat para perajurit dan meng­hilangkan keraguan mereka.
Lin Lin melihat hal ini menjadi ge­mas. Dengan sinar mata tajam ia me­nentang wajah Pek-bin-ciangkun dan ber­kata lantang. Pek-bin-ciangkun! Melihat usiamu yang sudah lanjut, tentu kau dahulu pernah mengenal ibuku. Tahukah kau siapa mendiang ibuku?
Sambil menunduk hormat panglima itu menjawab. Ibunda Nona yang mulia ada­lah mendiang Puteri Mahkota Tayami yang gagah perkasa.
Dan kau tentu tahu pula siapakah kakekku, ayah dari ibuku?
Kembali panglima itu membungkuk lebih hormat lagi, Beliau adalah men­diang raja terbesar kami yang amat mu­lia, yaitu mendiang Kulukan yang besar!

Hemmm, agaknya ingatanmu masih baik. Dan kau tahu, rajamu yang seka­rang itu, Raja Kubakan, dia itu terhitung apa dengan aku….?
Dengan Nona, beliau terhitung paman tiri, karena sri baginda adalah putera mendiang Maha Raja Kulukan dari se­orang selir.
Hemmm, paman tiri, namun masih ada hubungan darah, masih sama-sama keturunan kakek Raja Kulukan, sungguh­pun ibuku puteri permaisuri dan dia ha­nya putera selir. Akan retapi tahukah kalian semua apa maksud hati paman tiriku itu hendak menangkapku? Aku hendak dipaksanya menjadi isterinya! Bukankah amat gila ini? Tidakkah jelas menunjukkan betapa bejat moral Kuba­kan yang kini menjadi raja kalian, raja yang tak berhak?

Kami tidak mau mencampuri urusan pribadi orang lain, apalagi urusan pribadi raja kami yang kami junjung tinggi, bantah Pek-bin-ciangkun sambil mengerutkan keningnya.
Bagus! Lin Lin berseru marah sambil melintangkan pedangnya. Kau juga tidak memandang pedang pusaka ini?

Pek-bin-ciangkun menghela napas panjang. Tentu saja, kami menaruh hor­mat kepada pedang pusaka yang sudah banyak berjasa terhadap bangsa kita itu. Akan tetapi, sebagai kepala pasukan pengawal raja, kami harus mentaati pe­rintah yang diberikan atasan kami, yaitu yang terhormat Lo-ciangkun. Menyerahlah Nona, kami akan memperlakukanmu de­ngan hormat dan baik.

Lin Lin mengedikkan kepalanya, matanya bersinar-sinar marah. Kalau kalian tunduk dan menjadi kaki tangan Hek-giam-lo si iblis jahanam, biarlah sekarang mengeroyok dan membunuhku. Aku tidak takut!

Ah, Nona Muda. Sesungguhnya kami bukan tidak tahu bahwa kau adalah tuan puteri, keturunan langsung dari Yang Mulia Kulukan. Kami merasa sayang dan segan untuk memusuhimu. Akan tetapi apakah daya seorang anak perempuan muda seperti kau ini? Apakah artinya melawan dengan kekerasan? Siapa tidak tahu bahwa Lo-ciangkun memiliki kesakti­an yang tak terlawan? Kuharap saja kau dapat menyadari hal ini dan mari ikut kami menghadap raja. Mungkin hubungan darah kekeluargaan akan menyelamatkan dirimu.

Aku tidak takut terhadap Hek-giam-lo si iblis! Aku tidak takut kepada si muka buruk Bayisan itu, seorang perwira yang berani menghina mendiang ibuku. Suruh dia datang, biar kami mengadu nyawa di sini! teriaknya nekat.
Bayisan….? Apa maksudmu, Nona? tanya Pek-bin-ciangkun dengan sua­ra kaget.

Siapa lagi kalau bukan Hek-giam-lo? Dia adalah Bayisan, apakah kalian masih pura-pura tidak tahu bahwa Hek-giam-lo adalah Bayisan, dahulu perwira kakek Raja Kulukan yang berani menghina ibuku?

Aaahhh….! Jelas sekali kelihatan Pek-bin-ciangkun kaget bukan main, wa­jahnya yang putih itu mendadak menjadi merah dan matanya terbelalak tak percaya. Bukan panglima ini saja yang ter­kejut, juga semua perwira yang mengi­ringkannya kelihatan kaget dan para perajurit juga ribut mendengar ucapan Lin Lin itu. Suasana menjadi gaduh ka­rena mereka kini saling bicara sendiri dan keadaan baru tenang kembali setelah Pek-bin-ciangkun membentak, menyuruh mereka diam. Kemudian panglima ini menghadapi Lin Lin dan bertanya.

Nona, semenjak kecil Nona terpisah dari lingkungan kami, bagaimana Nona bisa mengatakan bahwa lo-ciangkun adalah…. Bayisan? Panglima yang sudah banyak pengalaman ini tidak mau per­caya begitu saja.
Sebaliknya, menyaksikan sikap mereka yang kaget dan mendengar pertanyaan Pek-bin-ciangkun yang demikian sungguh-sungguh, diam-diam Lin Lin menjadi heran tak mengerti. Mengapa mereka semua tidak tahu bahwa Hek-giam-lo adalah Bayisan seperti yang ia dengar dari iblis itu sendiri, dan mengapa pula hal itu membuat mereka kaget? Tentu ada rahasia yang hebat, yang ia tidak ketahui. Dengan hati berdebar penuh harapan Lin Lin bergantung kepada ke­sempatan ini, lalu ia bercerita dengan suara sungguh-sungguh.

Pek-bin-ciangkun, memang tadinya aku sendiri tidak tahu. Akan tetapi ketika aku menjadi tawanan Hek-giam-lo dan kutanya mengapa dia begitu mem­benciku, dia membuka kedok iblisnya, memperlihatkan muka yang lebih buruk mengerikan daripada kedoknya sendiri, muka yang rusak sama sekali. Hanya sebentar dia memperlihatkan mukanya yang rusak sambil mengaku bahwa nama­nya Bayisan, dan bahwa di waktu muda­nya dahulu ia jatuh cinta kepada ibuku, akan tetapi ibu menolaknya. Menurut cerita dia, ibu malah menyiram mukanya dengan racun yang membuat mukanya menjadi terbakar dan rusak. Akan tetapi aku dapat menduga bahwa tentu ia ber­maksud hendak kurang ajar terhadap ibu, maka ibuku melakukan hal itu kepada­nya.

Kembali suasana menjadi gaduh. Dan akhirnya Pek-bin-ciangkun berkata, suara­nya berubah lunak dan panggilannya juga berubah, Tuan Puteri Yalina, kami mo­hon maaf atas kekasaran kami tadi dan mulai saat ini, hamba dan sekalian anak buah hamba berdiri di belakang Paduka untuk menggempur pengkhianat Bayisan beserta raja paman tiri Paduka yang ternyata telah menipu kami semua, mem­pergunakan pengkhianat untuk membunuh ayah sendiri dan merampas tahta keraja­an. Setelah berkata demikian, Pek-bin-ciangkun menjatuhkan diri berlutut di depan Lin Lin. Para perwira lainnya juga ikut berlutut, sedangkan para perajurit sambil berteriak, Hidup Tuan Puteri Yalina. Puteri Mahkota Khitan!

Sejenak Lin Lin berdiri tegak. Pedang Besi Kuning di tangan kanan, tangan kiri bertolak pingang, kepala dikedikkan, dada dibusungkan dan matanya menyambar-nyambar ke kanan kiri penuh wibawa. Kemudian ia berkata lantang, Harap kalian suka berdiri. Syukurlah bahwa kalian dapat memilih fihak yang benar untuk bersama menghancurkan fihak yang salah. Aku minta Pek-bin-ciangkun suka mengumpulkan para perwira untuk meng­atur siasat bersamaku.

Pek-bin-ciangkun bangkit berdiri, di­turut oleh semua anak buahnya yang ternyata berjumlah seratus orang lebih. Kini mereka berkumpul dan berdiri di sekeliling tempat itu dengan harapan baru. Sudah terlalu lama mereka bekerja di bawah tekanan yang menakutkan dari Hek-giam-lo yang mempunyai kekuasaan tertinggi, agaknya malah lebih tinggi daripada raja sendiri. Pek-bin-ciangkun mengajak perwira yang semua ada enam belas orang untuk mengadakan perunding­an dengan Lin Lin di bawah pohon-pohon yang rindang daunnya, setelah ia mem­perkenankan para anak buahnya untuk beristirahat sambil berjaga-jaga.

Ciangkun, terus terang saja, aku tidak tahu mengapa setelah Ciangkun dan semua saudara mendengar bahwa Hek-giam-lo adalah Bayisan, Ciangkun lalu tiba-tiba menyatakan mendukung aku? Ada rahasia apakah di balik semua ini?

Pek-bin-ciangkun menarik napas panjang. Tuan Puteri tidak tahu, memang sepantasnya tidak tahu karena hal itu terjadi sewaktu Paduka masih amat kecil dan ibu Paduka belum meninggal dunia. Bayisan dahulunya adalah seorang Panglima Khitan yang terkenal gagah perkasa. Seperti telah ia akui di depan Paduka, dia tergila-gila kepada Puteri Mahkota Tayami, tetapi ditolaknya dan seperti kenyataannya, ibunda Paduka telah me­nikah dengan seorang perwita rendahan yang gagah perkasa. Nah, agaknya ia menaruh dendam, apalagi karena Maha Raja Kulukan sendiri tidak menyetujui niatnya mengawini Puteri Tayami. Diam-diam ia lalu melakukan pengkhianatan dan pada suatu malam, Sri Baginda Ku­lukan meninggal dunia dalam kamarnya. Oleh puteranya, Sri Baginda Kubakan yang sekarang, ketika itu masih seorang pangeran, dikabarkan bahwa sri baginda tua meninggal karena penyakit. Akan tetapi hamba dan para perwira yang tahu akan ilmu silat tinggi, mengerti bahwa meninggalnya sri baginda karena pukulan jarak jauh yang beracun. Kami sudah menduga bahwa hal itu tentu dilakukan oleh Bayisan, akan tetapi ketika kami mencarinya, ia telah lenyap tak mening­gaikan jejak. Kiranya pada malam hari itu juga ia berani mati hendak meng­ganggu Puteri Tayami sehingga disiram racun pada mukanya. Karena itulah kami sekalian mengira bahwa dia pergi takkan kembali lagi, karena malu dan takut akan pembalasan kami.

Cinta Bernoda Darah bagian 90

Posted in Cinta Bernoda Darah at 12:09 pm by riza

Suma Boan berdiri terbelalak. Matanya mencari-cari dan ternyata gua itu kosong sama sekali. Luasnya lima meter persegi. Di depannya kini berdiri dua orang gadis berdampingan dan menutup jalan keluar. Lin Lin dengan pedang ber­sinar kuning di tangannya. Sian Eng de­ngan kedua tangan terbuka, jari tangan­nya menegang, matanya terbelalak penuh kebencian. Diam-diam Suma Boan merasa ngeri juga, akan tetapi karena ia seorang laki-laki yang tabah dan berilmu tinggi, ia dapat menekan perasaannya dan pura-pura tidak dapat menduga kehendak me­reka.

Moi-moi…. adikku Sian Eng yang manis, mengapa tiba-tiba adikmu ini muncul? Dan manakah kitab-kitab yang kaujanjikan?
Suma Boan manusia iblis! Kematian sudah di depan mata, masih pura-pura tidak tahu akan dosa-dosamu? bentak Sian Eng dengan suara gemetar saking menahan kemarahan yang meluap-luap, kemarahan dan kebencian yang selama ini memenuhi dadanya, yang selalu ditahan-tahan dan ditutupi sikap kasih sayang untuk dapat memancing dan me­nipu Suma Boan.

Apa….? Eng-moi…. apakah maksudmu? Bukankah kau juga mencintaku se­perti aku mencintamu? Bukankah tadi…. kau menyerahkan diri sepenuhnya dengan rela dan suka kepadaku?

Tutup mulutmu yang kotor! bentak Sian Eng sambil melangkah maju penuh ancaman. Ooooohhh, betapa bencinya aku! Makin benci mendengar kata-katamu. Suma Boan manusia berhati binatang, perbuatanmu yang biadab terhadap diriku di dalam perahu telah menodai cinta kasihku, telah merobek-robek hatiku, telah mengubah cintaku menjadi benci yang sebesar-besarnya. Aku ingin meng­ganyang jantungmu, ingin kuhirup darah­mu kukeluarkan isi perutmu!

Suma Boan kaget bukan main, merasa ngeri dan gentar. Mulai menyesallah hatinya mengapa ia terburu-buru menodai gadis ini yang ternyata tadinya benar-benar mencintanya. Akan tetapi semua itu telah terlanjur dan melihat bahwa yang menentangnya hanya dua orang gadis ini, tentu ia segera dapat mengusir rasa jerihnya. Ia tersenyum mengejek dan berkata.
Hemmm, Sian Eng. Dengan kepandai­anmu dan dibantu adikmu, apa kaukira akan mudah saja mengalahkan aku? Kau tahu, tingkat ilmu kepandaianku jauh melebihimu. Juga jauh melebihi kepandaian adikmu. Insyaflah akan hal ini dan kalian ini nona-nona manis, sayang se­kali kalau sampai tewas di tanganku. Lebih baik kalian hayo ikut denganku, hidup penuh kesenangan di istanaku sambil memperdalam ilmu silat….

Laki-laki ceriwis….! Lin Lin membentak dan pedangnya berubah menjadi sinar kuning, menyambar ke arah leher Suma Boan. Pemuda ini terkejut. Tak disangkanya gerakan Lin Lin demikian cepatnya maka ia segera mengelak de­ngan meliukkan tubuh ke bawah sambil mendorong dengan tangannya ke arah siku yang memegang pedang ketika pe­dang itu lewat di atas kepalanya. Namun Lin Lin yang bersilat dengan ilmu sakti­nya yang baru, yaitu Cap-sha Sin-kun, segera dapat merubah letak pedangnya yang kini membalik ke bawah, menyam­bar dengan gerakan pergelangan tangan sehingga tangan Suma Boan yang tadinya hendak mencengkeram siku, kini berbalik disambar mata pedang!

Aaaiiihhh! Suma Boan yang sudah menarik lengannya itu kini menjerit sambil melompat ke atas dan berjungkir balik ke belakang karena kembali sinar pedang Lin Lin yang tadi dapat dielakkan­nya itu sudah berubah menjadi segulung­an sinar kuning yang berpusing di sekitar dada dan lehernya! Hanya dengan cara berjungkir balik seperti tadi maka ia selamat.
Bersiaplah menerima hukuman! ben­tak Sian Eng dan kembali Suma Boan terkejut sekali karena tiba-tiba angin menyambar berputaran dari arah Sian Eng ketika gadis itu menerjangnya de­ngan pukulan yang gerakan-gerakannya aneh sekali. Suma Boan baru saja ter­bebas dari ancaman maut pedang Lin Lin, kini ia cepat menggerakkan tubuh­nya miring ke kiri sambil mengibaskan tangannya dengan tenaga sin-kang se­penuhnya untuk menangkis.

Wuuuttt! Wuuuttttt! Angin pukulan kedua fihak yang disertai tenaga sin-kang itu saling sambar dan baiknya Suma Boan adalah seorang jagoan yang terlatih maka biarpun ia merasa tergetar oleh hawa pukulan mujijat dari Sian Eng, namun tidak membuatnya roboh dan tangkisan­nya tadi berhasil.

Singgg….! Kembali sinar kuning pedang Lin Lin menyambar, disusul pu­kulan Sian Eng yang tidak kalah me­ngerikan daripada sambaran pedang. Ke­dua orang gadis itu menerjangnya susul-menyusul dan bertubi-tubi dengan ke­cepatan yang luar biasa dan gerakan yang amat aneh.

Kalian hendak mengadu nyawa? Boleh! Akhirnya Suma Boan memekik marah karena ia tidak melihat jalan keluar lagi. Betapapun juga, dalam hal ilmu silat, ia lebih banyak pengalaman kalau dibandingkan dengan dua orang gadis ini. Maka cepat ia mengerahkan tenaga dan mengeluarkan seluruh kepandaiannya yang ia dapat dari beberapa orang guru pandai, di antaranya terutama sekali It-gan Kai-ong. Bertahun-tahun putera pangeran ini menjagoi daerah An-sui, bahkan namanya terkenal sampai di kota raja, ditakuti orang dan pengaruhnya besar sekali. Sa­king lihainya, ia sampai mendapat juluk­an Lui-kong-sian atau Dewa Geledek karena pukulan tangannya selalu ampuh dan sekali pukul cukup untuk mengantar nyawa lawan ke akherat. Entah berapa banyaknya lawan yang sudah terbunuh oleh pukulannya. Ketenaran namanya dan kehebatan ilmunya inilah yang membuat Suma Boan menjadi manusia sombong, memandang rendah orang lain, dan ke manapun ia pergi, ia tidak pernah mem­bawa senjata karena ia menganggap bah­wa kedua pukulannya sudah cukup untuk mengalahkan musuh yang bagaimanapun juga.

Di antara banyak macam kepandaian­nya menggunakan tangan kosong, yang paling hebat adalah ilmu pukulan yang ia pelajari dari It-gan Kai-ong yaitu yang disebut Ho-tok-ciang (Tangan Racun Api). Pukulan ini kalau dipergunakan, hebatnya bukan kepalang karena dapat membuat badan lawan yang terpukul menjadi ha­ngus! Jarang sekali Suma Boan meng­gunakan ilmu pukulan ini, karena sung­guhpun hebat akibatnya kalau mengenai tubuh lawan, juga merugikan diri sendiri karena pengerahan sin-kang di tubuhnya yang dibarengi dengan penggunaan racun yang panas seperti api, dapat merangsang dirinya sendiri sehingga dapat mendatang­kan luka pada kedua lengannya.

Menghadapi pengeroyokan Lin Lin dan Sian Eng yang mempunyai gerakan-gerakan aneh mujijat itu, mula-mula Suma Boan menggunakan semua ilmu silat yang ada untuk melawan. Namun baru dua puluh jurus lewat saja ujung pedang Lin Lin sudah menggurat pahanya dan pukulan Sian Eng yang ditangkisnya meleset me­ngenai pundak sehingga membuatnya ter­huyung-huyung. Kagetlah Suma Boan dan tahulah ia sekarang bahwa ia berada dalam bahaya. Kiranya dua orang gadis ini bukanlah Lin Lin dan Sian Eng se­tahun yang lalu, jauh selisihnya. Dua orang gadis ini mainkan ilmu silat yang amat aneh, ganas dan selain itu, tenaga mereka secara ajaib telah menjadi ber­puluh kali lebih kuat daripada dahulu.

Hiaaattt! Ketika Sian Eng mener­jang lagi, Suma Boan memekik dan me­loncat ke kanan sampai mepet dinding gua. Secepat kilat pemuda ini mengeluarkan racun dari sakunya dan digosok-gosok­kan kedua telapak tangannya dengan racun bubuk itu sehingga bubuk itu han­cur memasuki telapak tangannya. Ketika ia membuka kedua lengannya, telapak tangan itu kelihatan menyala! Menyala dan mengeluarkan asap seperti arang dibakar. Hawa panas segera memenuhi gua.

Awas tangannya, Enci! Lin Lin ber­seru dengan kaget. Akan tetapi gadis ini tidaklah menjadi gentar sungguhpun la­wan menggunakan ilmu yang begitu aneh. Malah khawatir kalau-kalau Sian Eng celaka oleh tangan api itu, Lin Lin sudah menerjang maju lebih dulu, memutar pedangnya dan sekaligus ia menggunakan jurus Soan-hong-ci-tian (Angin Puyuh Me­ngeluarkan Kilat), sebuah di antara tiga belas jurus ilmu saktinya.

Sian Eng juga mengeluarkan suara melengking tinggi, tubuhnya mencelat ke atas dan dari atas ia menyambar turun dengan kedua tangan terbuka jari-jarinya seperti hendak mencengkeram kepala lawannya.
Di antara kedua orang pengeroyok­nya, Sian Englah yang amat dibuat ngeri oleh Suma Boan. Ia maklum bahwa gadis ini menaruh kebencian besar kepadanya, menaruh dendam yang hanya dapat di­redakan oleh darah dan nyawa. Oleh ka­rena itu, begitu melihat datangnya se­rangan mereka yang demikian dahsyat­nya, Suma Boan segera mendahului meng­gempur Sian Eng yang menyambar turun dari atas dengan dorongan kedua tangan­nya yang mengandung tenaga Ho-tok-ciang. Melihat ini, Sian Eng nekat. Ia segera mengerahkan tenaga menurut ajaran kitab-kitab yang ia temukan di gua rahasia bawah tanah, lalu memekik tinggi. Belum juga kedua pasang tangan itu bertemu, hawanya sudah menyusup ke tulang sumsum. Sian Eng merasa betapa hawa panas memasuki kedua lengannya, sebaliknya Suma Boan kaget sekali kare­na serasa kedua lengannya dingin dengan mendadak.
Tiba-tiba mata Suma Boan menjadi silau oleh cahaya kuning. Ia menjerit dan cepat mempergunakan tangan kiri untuk mencengkeram pedang Lin Lin yang me­nyambar. Kalau tangannya sudah dimasuki tenaga Ho-tok-ciang macam itu, ia tidak takut untuk menangkis atau mencengke­ram senjata tajam.

Gerakan inilah yang mencelakakan Suma Boan. Andaikata ia menggunakan seluruh tenaganya menyambut Sian Eng, tentu gadis itu akan kalah kuat dan cela­ka oleh hebatnya hawa pukulan Ho-tok-ciang. Atau andaikata ia menggunakan kedua tangannya dan mengerahkan selu­ruh tenaga untuk menyambut pedang Lin Lin, tentu pedang itu akan terampas dan Lin Lin akan menemui bahaya maut. Akan tetapi setelah Suma Boan membagi perhatian dan tenaga, juga membagi kedua tangannya, kini berbalik ia yang kalah kuat.

Terdengar jerit mengerikan ketika mereka bertiga itu dalam detik yang sama saling berbenturan. Siang Eng ter­huyung mundur, juga Lin Lin terhuyung mundur, akan tetapi Suma Boan terlem­par ke belakang, dan hanya dapat berdiri sambil bersandar dinding gua. Tangan kanannya lumpuh, tangan kirinya luka berdarah dan hilang dua buah jarinya. Sejenak ia tertegun, akan tetapi tiba-tiba rasa sakit dari kedua tangannya tak tertahankan lagi. Tangan kanannya yang kalah kuat ketika bertemu dengan kedua tangan Sian Eng, membuat tenaga be­racun Ho-tok-ciang membalik dan kini rasa panas berselubung rasa dingin akibat hawa pukulan Sian Eng memasuki dan menjalar perlahan-lahan dalam lengan­nya. Bukan main nyerinya, sampai seperti menusuk-nusuk jantung. Adapun tangan kirinya yang termakan Pedang Besi Ku­ning, juga terasa perih dan gatal. Pedang Besi Kuning adalah pedang pusaka yang tidak beracun, akan tetapi mengandung khasiat anti racun. Karena lengan kiri Suma Boan tadinya penuh hawa beracun, begitu termakan oleh pedang ini, maka hawa yang anti racun itu memerangi racun di tangan itu, maka mendatangkan rasa nyeri yang luar biasa.

Aduh…. aduh…. mati aku…. aduh tanganku….! Suma Boan tidak kuat menahan. Tubuhnya terguling, ia merintih-rintih lalu bergulingan ke sana ke mari seperti cacing kepanasan, mengaduh-aduh dan minta-minta ampun. Pakaiannya ro­bek semua ketika ia bergulingan, muka­nya menjadi kotor dan matanya mendelik mulutnya berbusa.
Lin-moi, pinjam pedangmu!

Lin Lin yang pernah menyaksikan kekejaman hati Sian Eng ketika mereka membunuh It-gan Kai-ong, merasa ngeri dan ragu-ragu untuk memberikan pedang­nya. Akan tetapi mendadak tangan kiri Sian Eng mencengkeram ke arah muka­nya dengan ganas. Lin Lin terkejut se­kali dan mengelak, akan tetapi pada detik selanjutnya Pedang Besi Kuning sudah terampas dari tangannya. Terpaksa ia hanya dapat berdiri memandang dengan hati ngeri.

Eng-moi…. jangan…. ampunkan aku!
Ampun? Hi-hi-hik, ampun kau bi­lang? Pedang itu berkelebat dan crok! crok! dua kali pedang menyambar putus­lah kedua lengan Suma Boan sebatas pundak!

Aduhhh….! Suma Boan menjerit dan bergulingan. Darah bercucuran keluar dari kedua pundaknya yang buntung. Ce­laka baginya, pemuda bangsawan ini te­lah melatih diri sedemikian rupa sehingga daya tahan tubuhnya amat kuat. Lain orang tentu sudah roboh pingsan dan tak­kan merasakan sakit lagi. Akan tetapi dia tidak pingsan dan dapat dibayangkan betapa hebat penderitaan yang ia rasakan.

Hi-hi-hik! Kau jadi buntung! Hayo coba kulihat apakah kau masih mampu berbuat keji kepada wanita! Kembali Sian Eng sambil tertawa-tawa menyeram­kan menggerakkan pedangnya membacok Suma Boan yang ketakutan itu mukanya pucat penuh peluh. Ia masih mampu menggulingkan ke sana ke mari untuk membebaskan diri daripada bacokan pe­dang. Namun pedang itu membayanginya terus dan akhirnya crok! crok! disusul jeritan panjang dari mulut Suma Boan.

Aduh…. ampun…. ampun….! Biarpun kedua kakinya sudah terbacok putus sebatas paha, tubuh Suma Boan masih mampu bergerak-gerak dan sepasang matanya melotot seakan-akan hendak meloncat keluar dari dalam rongga ma­tanya.
Hi-hi-hi-hik! Kau begitu ingin men­jadi jago nomor satu di dunia dan untuk itu kau rela menipuku? Nah, setelah kaki tanganmu buntung, apa kau masih ingin menjadi jagoan?

Eng…. moi…., ampun…. Suma Boan masih dapat mengeluarkan kata-kata dengan suara serak. Akan tetapi agaknya sebutan terhadap dirinya ini menambah keganasan Sian Eng karena kembali pedangnya menyambar dan terbukalah perutnya. Tangan kiri Sian Eng menyusul, cepat membetot keluar jantung yang basah oleh darah sehingga tangan kirinya berlepotan darah. Tubuh Suma Boan berkelojotan sebentar lalu diam terkulai. Sian Eng tertawa-tawa lagi sambil menjilati darah di tangannya ke­mudian ia makan jantung itu. Hi-hik, kuminum darahmu, kuganyang jantungmu….!
Enci Sian Eng….! Lin Lin menjerit penuh kengerian sambil melompat mendekati, tangannya merampas pedang. Enci Eng, apakah kau telah menjadi gila? Kau kejam dan liar!

Jantung itu sudah memasuki perut Sian Eng. Kini ia menunduk, memandang tubuh Suma Boan yang sudah tidak karu­an macamnya, kaki tangan buntung, pe­rut robek dan isinya berceceran keluar. Tiba-tiba Sian Eng menubruk dan me­nangis sambil memeluk Suma Boan.
Suma-koko…. kenapa kau menyia-nyiakan cintaku….? Ia menangis menggerung-gerung, membuat Lin Lin berdiri tertegun dengan bulu roma berdiri. Hati­nya tidak karuan rasanya. Jelas bahwa encinya ini tidak beres lagi otaknya.

Enci Sian Eng, ingatlah! Dia memang jahat, akan tetapi kita sudah berhasil membunuhnya. Mari kita pergi dari sini!
Tiba-tiba Sian Erg mengangkat muka­nya yang basah air mata, lalu memben­tak, Pergi dari sini? Tak tahukah kau bahwa aku tak dapat meninggalkan ke­kasihku? Dialah satu-satunya pria yang kucinta. Kau pergilah, jangan ganggu kami!

Lin Lin menggeleng kepalanya. Watak encinya suaah amat berubah dan kalau ia menggunakan kekerasan tentu encinya akan mengamuk. Ia ngeri memikirkan akibatnya kalau mereka berdua sampai bentrok. Biarpun ia menguasai ilmu silat tinggi, namun encinya juga mewarisi ilmu yang biarpun sama halnya dengan dia sendiri, belum masak latihannya, namun harus ia akui bahwa encinya memiliki ilmu yang aneh mujijat. Pertempuran antara mereka akan hebat sekali akibat­nya. Maka dengan perasaan ngeri, apa boleh buat ia meninggalkan tempat itu, cepat lari menuju ke kota raja. Biarlah, kalau encinya sudah kumat penyakit gilanya, ia akan pergi sendiri mencari Suma Ceng, wanita yang menjadi kekasih Su­ling Emas, yang menghalangi pertalian kasih antara dia dan Suling Emas.
Karena Lin Lin melakukan perjalanan cepat sekali maka pada keesokan harinya pada senja hari ia telah tiba di kota raja. Sungguh pun kini kaisar yang memegang tampuk kerajaan sudah diganti, namun keadaan di kota raja tampaknya biasa saja, tidak ada perubahan. Bahkan Lin Lin melihat bahwa di dalam kota tidak tampak berkeliaran anggauta-ang­gauta pasukan seperti keadaan dulu. Hal ini memang satu-satunya perubahan yang diadakan oleh kaisar yang baru, yaitu Sung Thai Cung. Setelah kalsar baru ini menggantikan kedudukan kakaknya, ia memperkuat keadaan pasukannya dan memperkuat penjagaan tapal batas atau wilayah Kerajaan Sung, mengerahkan seluruh balatentara yang ada untuk men­jaga di perbatasan dan mencegah gang­guan dari kerajaan tetangga.

Malam hari itu, dengan menggunakan ilmunya, Lin Lin berkelebat di atas gen­teng rumah gedung besar Pangeran Kiang, suami Suma Ceng. Mudah saja bagi Lin Lin mendapatkan rumah Pangeran Kiang karena ketika ia bertanya tentang rumah ipar dari Suma Boan, tidak ada orang di kota raja yang tidak tahu. Seperti juga dahulu, rumah gedung ini masih indah dan mewah. Akan tetapi keadaannya sunyi, padahal waktu itu malam baru saja tiba dan bulan hampir penuh menghias angkasa menciptakan malam indah. ­Tiba-tiba Lin Lin yang berada di atas genteng rumah itu mendengar suara anak-anak yang bermain-main sambil tertawa-tawa. Cepat ia melompat ke arah bela­kang dan ternyata dalam sebuah taman tampak tiga orang anak sedang bermain-main, diasuh oleh dua orang pelayan. Adapun di dekat kolam ikan duduk se­orang wanita cantik yang termenung memandang bayangan bulan di dalam air. Hanya kadang-kadang saja wanita ini menoleh ke arah anak-anak yang ber­main-main dengan gembira, akan tetapi segera ia tenggelam pula dalam lamunan­nya.

Dari atas genteng, Lin Lin memper­hatikan wanita itu. Lampu taman yang diselubungi kertas berwarna-warni men­jatuhkan cahayanya pada wajah yang ayu dan tubuh yang bentuknya ramping, gerak gerik yang halus. Makin panas hati Lin Lin. Kalau benar inilah wanita yang bernama Suma Ceng pantas kalau Suling Emas jatuh cinta. Wanita ini cantik dan memiliki sikap agung seperti biasa dimiliki puteri bangsawan. Tentu saja Su­ling Emas memilih wanita ini daripada dia. Dia seorang gadis kang-ouw yang kasar dan liar! Makin dipandang, makin panas hati Lin Lin dan tiba-tiba tubuh­nya sudah melayang turun dan langsung ia lari ke depan wanita itu.

Wanita itu memang betul Suma Ceng adanya. Semenjak peristiwa dengan Suling Emas yang menyerang suaminya dan ia membela suaminya mati-matian, sering kali wanita ini duduk melamun. Kadang-kadang ia menyesali perbuatannya karena sesungguhnya, harus ia akui di dalam hati bahwa cintanya terhadap pendekar itu tak pernah lenyap, tak pernah luntur dari hatinya, maka perlawanannya ter­hadap Suling Emas untuk membela suaminya itu tentu saja menghancurkan hati­nya. Ia maklum bahwa perbuatannya itu tentu merupakan tusukan yang menyakit­kan hati terhadap bekas kekasihnya. Akan tetapi, pikiran ini segera ia usir dengan kesadaran bahwa sesungguhnya hal itu merupakan jalan terbaik baiknya. Lebih baik membiarkan Suling Emas pergi dan membencinya, tidak akan kembali lagi selamanya agar pendekar itu dapat me­lupakannya, tidak tersiksa lagi hatinya. Juga dia sendiri dapat menjaga nama baik sebagai seorang isteri yang setia kepada suaminya. Dan yang jelas, semen­jak peristiwa itu terjadi, suaminya, Pa­ngeran Kiang, bersikap manis dan baik kepadanya.

Ketika Suma Ceng melihat berkelebatnya orang dan secara tiba-tiba melihat seorang gadis berdiri di depannya, ia kaget sekali dan cepat bangkit berdiri. Tadinya ia kaget dan mengira Suling Emas yang datang lagi, akan tetapi se­telah melihat bahwa yang datang seorang gadis, ia terheran-heran. Akan tetapi ketabahannya kembali ketika melihat bahwa yang datang adalah seorang gadis muda yang cantik sekali. Dengan senyum tenang Suma Ceng bertanya.

Siapakah kau dan apa kehendakmu datang secara begini?
Lin Lin meraba gagang pedang, se­jenak ia menentang pandang mata wanita itu sehingga dua pasang mata yang sama jeli dan sama tajam itu saling tatap penuh selidik. Kemudian Lin Lin ber­tanya, suaranya lantang.

Apakah kau yang bernama Suma Ceng?
Suma Ceng mengerutkan keningnya. Sebagai seorang nyonya yang selalu men­junjung tinggi nama suaminya, segera ia menjawab, Aku adalah Nyonya Pangeran Kiang dan siapakah kau?

Tapi dulu sebelum menikah bernama Suma Ceng? Lin Lin mendesak lagi.
Terpaksa Suma Ceng mengangguk. Betul, dahulu aku bernama Suma Ceng, dan kau mau apakah tanya-tanya nama kecil orang lain?
Srettt! Pedang Besi Kuning sudah berada di tangan Lin Lin.
Mau membunuh engkau! bentak Lin Lin dan pedangnya berubah menjadi sinar kuning yang menyambar ke arah leher Suma Ceng. Gerakan ini demikian cepat dan tidak terduga sehingga nyonya muda itu biarpun pandai silat tak sempat untuk menyelamatkan diri lagi, hanya berdiri terkesima dengan mata terbuka lebar. Pedang Besi Kuning menyambar ganas!

Tranggggg! Lin Lin terpental ke belakang berputar-putar sampai lima kali putaran baru ia dapat menghentikan ka­kinya ketika pedangnya bertemu dengan sesuatu yang amat hebat tenaganya, membuat pedangnya itu terpental dam membawa pula dirinya berputaran. Ia kaget dan marah sekali, namun tidak gentar karena ia memang sudah siap untuk bertempur mati-matian dalam usa­hanya membunuh wanita yang dibencinya. Cepat ia meloncat dan membalikkan tubuh, siap dengan pedang di depan dada. Tapi mendadak tubuhnya gemetar, wajah­nya pucat dan tangan yang memegang pedang menggigil. Kiranya yang menang­kis pedangnya, yang kini berdiri tegak di depan Suma Ceng, dengan suling di ta­ngan, yang memandangnya dengan kening berkerut dan mata sayu, adalah…. Suling Emas!

Lin Lin, terlalu sekali engkau…. hendak membunuh orang yang tidak ber­salah apa-apa? Suling Emas menegur sambil menggeleng-geleng kepalanya, wajahnya yang tampan itu kelihatan sedih sekali.
Teguran ini meledakkan gunung berapi kemarahan yang mendesak di hati Lin Lin. Tiba-tiba saja air matanya keluar bercucuran dan ia menudingkan pedangnya ke arah Suling Emas. Kau….! Kau….! Kau yang telah menghinaku…. kini membela dia….! Ah, aku benci padamu! Benci….! Sambil terisak menangis Lin Lin meloncat dan lari pergi secepatnya.

Lin Lin, tunggu….! Suling Emas mengejar. Di taman itu tinggal Suma Ceng yang berdiri terlongong, sedangkan anak-anaknya ketakutan dan dua orang pelayan sibuk menghibur mereka dengan muka pucat karena takut pula.

Cinta Bernoda Darah bagian 89

Posted in Cinta Bernoda Darah at 11:55 am by riza

Tiba-tiba meledak lagi tangis Sian Eng. Betul! Anjing biadab itu! Keparat jahanam Suma Boan, kautunggulah pem­balasanku! Ia berteriak-teriak.
Diam-diam Lin Lin girang. Dia sen­diri bermaksud mencari adik perempuan Suma Boan yang ia anggap telah merampas kekasihnya. Akan tetapi di sam­ping kegirangannya mendapat teman enci­nya pergi ke kota raja, ia pun merasa heran bukan main.

Enci Sian Eng, memang Suma Boan itu bukan manusia baik-baik dan sudah sepatutnya kita membencinya. Akan te­tapi, kausebut-sebut tentang pembalasan. Apakah artinya itu?
Sian Eng merangkul Lin Lin. Pada saat itu, ia telah kembali normal. Lin Lin merapikan rambut encinya, mengatur dan menyanggulkannya kembali.
Lin-moi, dia…. dia…. ah, tadinya aku…. aku telah gila. Aku…. aku mencintanya….
Hemmm….? Tapi Lin Lin menindas keheranannya, Apa anehnya dengan itu? Wajar, Enci. Memang hati ini tidak dapat dikuasai kalau sudah menjatuhkan pilihannya.
Tapi dia menipuku! Dia mengkhianatiku! Ah…. Lin-moi, pilihanku keliru….!

Sambil menangis Sian Eng lalu menceri­takan semua pengalamannya, mulai dia diperalat oleh Suma Boan mencari ilmu warisan Tok-siauw-kui sampai peristiwa di dalam perahu di mana ia dinodai oleh pemuda bangsawan yang berwatak kotor itu.

Berdiri sepasang alis Lin Lin, ia mempertemukan giginya dengan penuh ke­gemasan sambil berkata, Bedebah! Dia patut dibasmi! Mari kubantu kau, Enci Sian Eng. Kita cari dia di kota raja dan kita bunuh anjing itu, setelah itu, kita langsung pergi ke istana karena aku pun harus membunuh adik perempuan Suma Boan.

Kini Sian Eng yang memandangnya dengan mata terbelalak heran. Saking kaget dan herannya, Sian Eng lupa akan tangisnya dan dengan mata merah dan pipi masih basah air mata ia menatap wajah adiknya, bertanya, Suma Ceng? Mengapa kau hendak membunuh Suma Ceng? Aku pernah bertemu dengannya, dia itu biarpun adik dari Suma Boan, namun wataknya baik sekali, berbeda dengan kakaknya. Pula, dia adalah bekas kekasih kakak Kam Bu Song yang sampai sekarang masih mencintanya.

Justeru itulah sebabnya mengapa aku harus membunuhnya!
Apa? Karena ia mencinta kakak Bu Song?
Karena ia berani mencinta Suling Emas!
Eh, Lin-moi. Bagaimana itu? Apa salahnya itu? Mengapa kau marah melihat Suma Ceng mencinta….
Karena aku mencinta Suling Emas! ucapan Lin Lin ini terdengar keras.
Sian Erg melongo dan sejenak tak dapat mengeluarkan kata-kata. Kemudian ia memegang lengan adiknya dan meng­guncang-guncang, seakan-akan ia hendak membangunkan adiknya daripada tidur dan mimpi buruk.

Lin-moi….! Gilakah kau? Suling Emas adalah Kam Bu Song!
Aku tahu! jawabnya dingin.
Sian Eng makin bingung. Kau tahu dan kau bilang mencintanya? Suling Emas atau Kam Bu Song adalah kakakmu….

Bukan! Sekali lagi bukan kakakku! Pertalian apakah yang mengikat persau­daraan kami? Dia itu kakak tiriku, me­mang betul. Kalian seayah lain ibu. Akan tetapi aku? Aku adalah Yalina, Puteri Yalina, Puteri Mahkota Khitan! Dia itu, juga kau, dengan aku adalah orang lain, berlainan darah. Mengapa aku tidak boleh mencinta Suling Emas?

Hening sejenak. Agaknya Sian Eng terpukul mendengar kenyataan yang be­nar-benar mengguncangkan hatinya ini. Sama sekali tak pernah disangkanya akan terjadi keruwetan cinta kasih semacam ini. Tadinya ia mengira bahwa dialah orang paling tidak beruntung di dunia ini, yang menjatuhkan hati secara keliru. Kiranya sekarang terjadi pertalian asma­ra yang lebih aneh pada diri Lin Lin.
Hemmm, begitukah? Kau mencinta Suling Emas. Lalu, mengapa kau hendak membunuh Suma Ceng? Dia sudah bersuami orang lain, sudah mempunyai anak, mengapa diganggu lagi? Bagaimana sikap Suling Emas terhadap cintamu?

Ditanya begini, tiba-tiba Lin Lin me­nangis! Keadaan menjadi terbalik sama sekali. Sekarang Lin Lin yang menangis dan Sian Eng memeluknya, menghiburnya. Kemudian, di antara isak tangisnya, Lin Lin yang menceritakan pengalamannya, betapa secara aneh Suling Emas menolak cintanya dengan alasan sudah tua, alasan yang sama sekali tidak dipercayanya karena ia yakin bahwa kakak angkatnya itu juga mencintanya.

Tentu karena gara-gara Suma Ceng itulah maka ia tidak membalas cintaku, atau lebih tepat ia memaksa diri me­mutuskan pertalian asmara denganku. Enci Sian Eng, biarpun kita bukan sau­dara sedarah, namun semenjak kecil kita berkumpul. Aku akan membantumu mem­bunuh Suma Boan, kemudian kau mem­bantu aku membunuh Suma Ceng. Setelah itu, aku akan pergi ke Khitan untuk merampas kedudukan ratu yang menjadi hakku. Nah, bagaimana? Apakah kau mau ikut denganku? Aku akan tetap menganggapmu sebagai kakakku sendiri. Biarlah kita yang menderita karena asmara ini bersama-sama menghadapi segala hal, sehidup semati.
Sian Eng terharu, merangkulnya dan kedua orang gadis itu bertangisan. Ke­mudian mereka meninggalkan tempat itu tempat yang amat menyeramkan karena di situ terdapat onggokan daging tulang dan darah It-gan Kai-ong yang sudah tidak dapat disebut mayat lagi, dan tak lama setelah kedua orang gadis itu pergi, burung-burung liar beterbangan datang untuk menyantap hidangan yang lezat bagi mereka ini!

Sementara itu, terjadi perubahan be­sar di Kota Raja Kerajaan Sung. Kaisar Sung Thai Cu, Kaisar Kerajaan Sung pertama, telah menyerahkan tahta ke­rajaan kepada adiknya sendiri yang berjuluk Kaisar Sung Thai Cung juga me­lanjutkan politik pemerintahan kakaknya, namun dibandingkan dengan Sung Thai Cu kaisar ke dua ini lebih berhasil kemudian Sung Thai Cung berani mempergunakan tangan besi terhadap para pejabat tinggi yang melakukan penyelewengan, tidak mudah dijilat oleh sikap memuji-muji, dan di samping ini, memperkuat pasukan kerajaan dalam persiapan menggempur kerajaan-kerajaan kecil yang sampai saat itu belum juga mau tunduk dan belum mengakui kekuasaan Kerajaan Sung.
Berbeda dengan jaman kerajaan yang sudah-sudah, terutama di jaman Kerajaan Tang yang sering kali terjadi perebutan kekuasaan dan perang saudara di kala tahta kerajaan berpindah tangan, pemin­dahan kekuasaan dan penggantian kaisar kali ini terjadi dengan aman dan tidak terjadi sesuatu keributan. Hal ini adalah karena kebijaksanaan Kaisar Sung Thai Cu yang dalam hal ini melaksanakan anjuran ibunya, yaitu menyerahkan kekuasaan dan mengangkat adiknya sendiri sebagai penggantinya. Andaikata ia tidak bijaksana dan memaksa untuk mewariskan tahta kerajaan kepada putera-puteranya yang kurang pengalaman, pasti hal ini akan menimbulkan kekeruhan, mendatang­kan perebutan kekuasaan dan perang saudara, seperti yang sudah-sudah.

Kaisar yang baru, Sung Thai Cung, adalah seorang yang luas pandangan dan bijaksana. Namun tindakannya yang per­tama, yaitu membersihkan petugas-petugas negara yang korup dan nyeleweng, sedikit banyak menimbulkan keributan pula dari para pembesar yang melakukan perlawan­an. Betapapun juga, mereka ini semua dapat ditundukkan dan diseret ke dalam penjara, bahkan banyak di antaranya yang diberi hukuman mati. Biarpun peristiwa pembersihan ini melegakan hati rak­yat, namun mengubah suasana di kota raja. Karena terlalu banyak pembesar korup dibunuh, dan juga karena memang hampir semua petugas tadinya menyele­weng, banyak di antara mereka yang melarikan diri sebelum tertangkap, dan mereka yang masih berani tinggal di kota raja dengan harapan takkan diketahui dosa-dosa mereka yang lalu, tidak pernah berani keluar rumah, takut ada jari telunjuk menudingnya. Inilah yang membuat kota raja menjadi sunyi. Tidak ada lagi pembesar, lama maupun baru, yang berani berfoya-foya dan ber­pelesir seperti yang sudah-sudah.
Keadaan di kota raja ini mempenga­ruhi pula keadaan kota-kota besar lain, terutama sekali yang berdekatan dengan kota raja, seperti kota An-sui. Kota ini pun menjadi sepi dan banyak pembesarnya melarikan diri atau ditangkap.

Gedung besar Pangeran Suma Kong tetap berdiri megah dan pangeran tua ini tidak mau melarikan diri. Memang ia dahulu terkenal sebagai seorang pangeran yang korup dan banyak makan uang ne­gara. Akan tetapi sudah bertahun-tahun ia tidak memegang tugas lagi karena dipecat dan tidak diperbolehkan bertempat tinggal di kota raja oleh kaisar pertama. Selain merasa bahwa dia sekarang sudah bersih, juga dengan adanya Suma Boan yang amat terkenal, tentu saja keluarga bangsawan Suma ini tidak merasa takut. Bahkan Suma Boan mengumpulkan anak buahnya, yaitu para buaya dan tukang pukul yang memiliki kepandaian, untuk menjaga gedungnya siang malam. Di luar gedung, di setiap pintu, di atas genteng di sebelah kanan kiri dan belakang, semua terjaga dengan kuat siang malam sehing­ga gedung Pangeran Suma itu seakan-akan berubah menjadi sebuah benteng.
Setiap hari para penjaga yang bertugas menjaga di pekarangan depan yang luas dari gedung itu, melewatkan waktu menganggur dengan latihan-latihan ilmu silat atau olah raga lain yang maksudnya selain untuk berlatih juga sebagai pamer kekuatan untuk membangun ketabahan sendiri dan untuk mengecilkan hati golongan yang hendak memusuhi Pangeran Suma. Di situ terdapat delapan belas macam senjata dan juga besi-besi dan batu-batu besar yang mereka angkat dan lempar-lemparkan ke atas untuk mendemonstrasikan tenaga mereka. Penjagaan yang amat ketat ini dilakukan siang malam sehingga keluarga itu seakan-akan mempunyai barisan sendiri yang terdiri dari seratus orang lebih yang melakukan penjagaan secara bergiliran.

Pada suatu pagi yang cerah, seperti biasa, belasan orang penjaga di pekarang­an depan itu bermain-main di pekarangan, mengangkat besi dan melempar-lempar batu, ada pula yang bermain silat dengan pelbagai senjata. Di antara mereka, yang mempunyai bentuk tubuh kuat dan men­jadi ahli gwa-kang (tenaga luar), sengaja membuka baju untuk memamerkan otot-otot yang besar melingkar-lingkar di tubuh mereka. Kelebatan senjata tajam menyilaukan mata. Para penjaga yang bertugas di atas rumah juga ikut me­nonton sambil bercakap-cakap dan tertawa-tawa.
Munculnya Sian Eng di depan pintu pekarangan itu sekaligus menghentikan semua kegiatan olah raga. Semua mata mengincar keluar dan senyum lebar meng­hias semua mulut para penjaga itu, se­nyum dan pandang mata kurang ajar karena memang pemandangan di pagi hari ini menyedapkan mata. Pakaian Sian Eng yang ringkas membungkus tubuh yang langsing padat, wajah yang cantik jelita dengan hiasan rambut yang hitam halus disanggul ke atas, gerakan yang lemah gemulai, semua ini merupakan daya penarik yang mengagumkan hati semua laki-laki.
Sudah lazim di dunia ini, apabila melihat seorang wanita cantik, timbul kegembiraan di hati pria. Kalau pria itu hanya sendirian, tentu tidak berani ia mengumbar kekurangajarannya dan akan menyimpan kekagumannya dalam pandang mata dan senyum. Kalau pria itu me­mang berwatak bersih, ia hanya akan menyimpan kekagumannya di dalam hati. Akan tetapi kalau banyak laki-laki yang memang wataknya kasar sedang berkum­pul, tentu akan timbul kekurangajaran mereka dan mulailah para penjaga ini tertawa-tawa.
Aduhhhhh…. cantiknya….!

Wahai…. siapakah begitu bahagia memiliki bidadari ini?
Demikian bermacam-macam teriakan yang terdengar dari mulut mereka, bahkan di antara mereka ada yang mulai pula melempar-lempar batu dan meng­angkat-angkat besi berat untuk pamer dan berusaha menarik perhatian gadis cantik ini. Namun Sian Eng tidak peduli­kan itu semua, kakinya langsung melang­kah masuk dengan tenang.
Melihat gadis itu betul-betul memasuki pekarangan, kegembiraan mereka memun­cak dan seorang di antara mereka, ko­mandan jaga, segera melangkah maju bertanya, suaranya digagah-gagahkan, Nona, kau hendak mencari siapakah? Siapa diantara kita yang hendak kau jumpai? Heee, teman-teman! Adakah di antara kalian yang mengenal Nona ini? kata-kata ini diteriakkan si komandan jaga dengan nada tidak percaya.

Aku….!
Aku kenalannya!
Ah, akulah sahabat baiknya!
Heee, jangan mengacau! Dia tentu memilih aku! teriak pula seorang pen­jaga yang bertugas di atas genteng.
Pilihlah aku, Nona. Habis bulan se­mua gajiku akan kuserahkan padamu se­luruhnya! teriak pula seorang yang tubuhnya tinggi besar.
Ha-ha, jangan percaya! Tentu sebagian sudah ia selundupkan ke tangan isteri­nya yang pertama!

Ramailah suara para penjaga, bahkan banyak diantaranya yang mengeluarkan kata-kata kotor dan tidak sopan. Akan tetapi Sian Eng tetap tenang tidak mempedulikan mereka, bahkan tersenyum se­dikit, senyum yang sebenarnya merupa­kan senyum sedih akan tetapi karena memang ia manis sekali kalau tersenyum, maka senyum ini mendatangkan teriakan-teriakan baru yang lebih riuh. Sian Eng menanti sampai hiruk-pikuk itu reda, baru ia berkata.

Aku ingin bertemu dengan Suma Boan.
Semua suara sirap seketika dan semua mata memandang penuh curiga, penuh selidik. Semua penjaga ini mengenal be­laka kongcu mereka dan mengenal pula wanita-wanita yang mempunyai hubungan dengan putera pangeran itu. Akan tetapi mereka belum pernah melihat Sian Eng, oleh karena itu mereka menjadi curiga.

Mengapa mencari Suma-kongcu? Apa­kah kau kenal dia? tanya si komandan matanya memandang penuh selidik.
Sian Eng mengangguk, Aku kenal dia, harap suka panggil dia keluar.
Seorang penjaga yang bertelanjang dada, yang tubuhnya tegap dan kuat, melangkah maju. Nona cantik, mengapa mencari Kongcu? Apakah kita ini tidak cukup hebat? Kau tinggal pilih. Lihatlah aku, hemmm, kalau kau menjadi kekasih­ku, kau akan aman. Lihat betapa kuatnya aku! Ia lalu membungkuk, kedua lengan­nya bergerak mengangkat sebuah batu besar. Otot-otot di tangannya melingkar-lingkar dan menonjol keluar ketika ia melemparkan batu itu ke atas, disambut dan dilemparkan lagi berkali-kali, seakan-akan seorang anak kecil bermain-main dengan sebuah bola karet yang ringan. Akhirnya ia membanting batu seberat seratus kati lebih itu ke atas tanah, ke depan Sian Eng, sambil mengangkat dada dengan penuh kebanggaan.

Sejak tadi sebetulnya hati Sian Eng sudah panas dan marah, akan tetapi ditahan-tahannya. Pikirannya sedang normal maka ia dapat mempergunakan kesabaran­nya, apalagi memang kedatangannya ini sudah ia rencanakan bersama Lin Lin. Mereka sudah beberapa malam mengitari gedung akan tetapi tidak melihat jalan aman untuk memasuki gedung. Demikian ketat penjagaan di situ dan mereka ber­dua maklum bahwa menghadapi Suma Boan saja sudah berat, apalagi kalau dikeroyok banyak penjaga dan siapa tahu di dalam gedung itu bersembunyi pula orang-orang sakti yang membantu Suma Boan. Akan tetapi menyaksikan lagak orang-orang ini, Sian Eng hampir tidak kuat menahan kesabaran hatinya. Ia me­langkah maju mendekati tempat itu, kaki kirinya bergerak dan…. batu besar itu terlempar ke arah penjaga bertelanjang dada yang sedang membusungkan dadanya itu.

Uhhhhh….! Orang itu berseru kaget, terpaksa menerima batu itu, namun ia tidak kuat menahan dan tubuhnya terlempar ke belakang sampai beberapa meter. Untung batu itu segera ia lempar ke samping sehingga tidak menimpa dada­nya, namun hantaman tadi cukup membuat ia terengah-engah dan dari mulut­nya keluar darah!

Ributlah para penjaga itu. Makin curiga mereka karena ternyata bahwa gadis cantik ini memiliki ilmu kepandaian tinggi. Akan tetapi Sian Eng segera ber­kata dengan suara ketus. Aku adalah kenalan baik Suma Boan, apakah kalian masih berani main-main? Tunggu saja kalau Kongcu kalian melihat kekurang­ajaran kalian, aku akan minta dia me­menggal kepala kalian seorang demi seorang!

Kata-kata ini berpengaruh sekali. Mereka segera mundur dengan muka pucat dan komandan jaga segera menge­dipkan mata kepada kawan-kawannya, kemudian ia sendiri berkata, Maaf, ka­rena kami tidak mengenal Nona, maka berani bersikap kasar. Harap Nona tung­gu sebentar, saya akan melaporkan ke­pada Suma-kongcu.

Sian Eng hanya mengangguk, kemudi­an ia menghampiri penjaga yang masih duduk terengah-engah. Kau tidak lekas berlutut? bentaknya.
Penjaga yang sial ini sudah mendengar juga tadi pengakuan gadis lihai ini se­bagai kenalan baik Suma-kongcu, maka dengan menahan rasa sakit dan hati pe­nuh rasa takut akan kemarahan majikan­nya, ia segera berlutut dan mengangguk-anggukkan kepala minta ampun. Tiba-tiba mereka semua, para penjaga itu, menjadi ngeri den merasa serem karena gadis cantik itu tertawa meleking aneh dan terdengar bukan seperti suara ke­tawa manusia. Pergilah! kaki Sian Eng bergerak dan penjaga itu terlempar be­berapa meter jauhnya, bergulingan seperti sebuah bola ditendang. Anehnya, ia me­rasa dadanya tidak sesak lagi, maka cepat ia meloncat berdiri, mengangguk dengan hormat dan mengundurkan diri!

Moi-moi….! Pada saat itu Suma Boan muncul dari pintu samping. Ketika menerima laporan bahwa seorang gadis cantik yang amat lihai datang mencari­nya, Suma Boan menjadi curiga dan mengintai dengan jalan memutar, dari pintu samping. Akan tetapi begitu me­lihat bahwa yang datang adalah Sian Eng, hatinya berdebar keras. Tentu saja ia menjadi curiga dan menyangka buruk. Akan tetapi, karena Sian Eng hanya datang seorang diri, timbul ketabahan hati­nya, dan pula memang ia merasa suka kepada gadis cantik yang ia tahu amat mencintanya ini. Maka dengan hati ber­debar dan sikap waspada, pemuda ini lalu muncul dan memanggil dengan suara penuh kasih sayang, wajah berseri, akan tetapi sinar matanya penuh selidik me­natap wajah yang cantik jelita dan agak pucat itu.

Koko….! Sian Eng juga berseru dengan suara tertahan, seakan-akan ia merasa girang dan terharu, mukanya tiba-tiba menjadi merah seperti orang malu dan jengah. Aku…. aku ingin bicara penting denganmu….!
Berdebar-debar jantung Suma Boan. Akan tetapi pandang matanya masih penuh selidik, ingin ia menjenguk isi hati gadis itu. Ia tahu bahwa Sian Eng men­cintanya, akan tetapi tahu pula bahwa gadis itu bisa mendendam kepadanya dan bisa membenci karena perbuatannya terhadap gadis itu di dalam perahu. Tentu saja ia tidak mencinta dengan setulus dan sejujurnya hati terhadap Sian Eng, melainkan mencintanya karena gadis itu memang cantik jelita. Bagi seorang laki-laki semacam Suma Boan, ia selalu jatuh cinta kepada wanita cantik, berapapun banyaknya, cinta yang berdasarkan nafsu berahi, cinta yang berdasarkan ingin me­nyenangikan diri sendiri. Di samping kecantikan Sian Eng, juga gadis ini telah menemukan kitab-kitab peninggalan Tok-siauw-kui yang amat ia inginkan.

Namun Suma Boan adalah seorang laki-laki yang sudah banyak pengalaman­nya, pula ia terkenal cerdik, maka ia masih saja menaruh curiga. Tentu saja ia cukup percaya akan kepandaian sendiri, tahu bahwa Sian Eng seorang diri saja takkan mampu berbuat buruk terhadapnya, akan tetapi ia sudah membuktikan keadaan aneh gadis ini yang seakan-akan telah menemukan ilmu dan memilikinya secara hebat, sungguhpun belum sempurna benar.

Koko, aku mau bicara tentang…. kitab…. Seketika wajah Suma Boan berseri. Keinginannya mendapatkan kitab-kitab peninggalan Tok-siauw-kui amat besar, apalagi pada waktu sekarang se­telah keadaan pemerintahan di kota raja terjadi perubahan dan ia merasa betapa kedudukan keluarga ayahnya terancam, ia ingin sekali mendapatkan kitab-kitab itu dan mewarisi kepandaian yang akan membuat ia menjadi seorang jagoan no­mor satu yang ditakuti semua lawan.

Moi-moi…., aku girang sekali kau datang. Marilah kita bicara di dalam….! Ia melangkah maju, memegang lengan Sian Eng dan menggandengnya. Sian Eng menurut saja dan berjalanlah mereka bergandengan tangan menuju ke ruangan dalam, melewati pagar penjaga yang ber­diri tegak tanpa berkedip. Suma Boan yang menggandeng dan merapatkan tubuh­nya merasa betapa jantung di dalam dada gadis itu berdebar-debar keras. Diam-diam ia merasa bahagia sekali karena mengira bahwa gadis ini terlalu girang bertemu dengannya.

Setelah mereka memasuki ruangan sebelah dalam, Suma Boan segera me­narik gadis itu ke dalam sebuah kamar tamu yang indah, tiba-tiba ia memeluk Sian Eng dan menciuminya. Sejenak Sian Eng menurut saja, kemudian perlahan ia merenggutkan dirinya, terlepas dari pe­lukan Suma Boan yang makin merasa yakin bahwa gadis ini tidak marah atau benci kepadanya.

Moi-moi, kekasihku yang tercinta, bisik Suma Boan, masih memegangi ke­dua tangan gadis itu, alangkah rinduku kepadamu! Kau datang seperti seorang bidadari dari sorga yang turun ke dunia untuk menghibur hatiku. Moi-moi, aku tidak akan melepaskanmu lagi, jangan kau pergi meninggaikan aku lagi. Mari kita hidup bahagia di rumahku ini!

Suma-koko, kau sudah mengenal hatiku. Perkara itu belum waktunya kita bicarakan. Kedatanganku ini membawa urusan yang amat penting. Lepaskan ta­nganmu dan mari kita bicara baik-baik. Sian Eng menarik tangannya. Suma Boan tersenyum dan sengaja menekan jantung­nya yang berdebar saking girangnya, karena di depan gadis ini ia harus me­nyembunyikan perasaannya bahwa ia jauh lebih cinta pada kitab-kitab pusaka peninggalan Tok-siauw-kui daripada diri gadis ini.

Marilah, Adik Sian Eng, kita duduk di sana. Ia menarik Sian Eng dan kedua­nya lalu duduk di atas dipan yang ter­dapat di kamar itu. Suma Boan tetap tidak melepaskan gadis itu, duduk di sampingnya sambil memeluknya. Sian Eng tidak menolak lagi dan ia berkata perlahan.

Koko, kau tentu maklum akan perasaan seorang gadis. Saking kaget dan duka hatiku, ketika di dalam perahu dahulu…. suaranya tersendat dan kedua pipinya menjadi merah sekali, secara tidak sadar aku menyerangmu dan ke­mudian melarikan diri. Baru kemudian aku merasa betapa…. aku tak dapat hidup terpisah dari padamu, maka…. maka aku datang ke sini….
Girang sekali hati Suma Boan. Ia mengelus-elus rambut kepala gadis itu lalu berkata, Aku tahu, Moi-moi. Aku…. aku lupa daratan waktu itu saking besarnya cintaku kepadamu. Tentang kitab-kitab itu…. eh, bukankah kau tadi bilang mau bicara tentang kitab?

Wajah Sian Eng berseri dan ia tersenyum lebar. Kitab-kitab? Ah, belum kuceritakan kepadamu bahwa setelah aku pergi dari perahu, aku memasuki lagi gua rahasia dan mengambil semua kitab pe­ninggalan Tok-siauw-kui. Kau tahu kitab-kitab apa yang kudapatkan? Kitab raha­sia dari Siauw-lim-pai, kitab ilmu pedang dari Kun-lun, kitab rahasia tentang ilmu kesaktian Beng-kauw, ada pula kitab yang mengajarkan ilmu-ilmu mujijat ten­tang melawan maut, malah ada kubaca sepintas lalu judul sebuah kitab yang mengajarkan ilmu menghilang dan ter­bang!

Seperti seorang kelaparan mendengar cerita tentang makanan-makanan lezat, Suma Boan menelan ludah, akan tetapi sebagai seorang yang cerdik ia menahan gelora hatinya ini dan cepat memeluk Sian Eng. Ah, kekasihku yang baik. Se­sungguhnya, soal kitab itu bagiku hanya soal kecil. Yang penting, yang selalu ku­rindukan, yang selalu kuimpikan, adalah dirimu, Adik Sayang! Akan tetapi aku khawatir sekali karena kau sudah men­dapatkan kitab-kitab itu, tentu kau men­jadi incaran orang-orang dunia kang-ouw. Akan lebih aman kalau kau tinggal bersamaku di sini, beserta kitab-kitab itu yang boleh kita pelajari bersama. Kita kelak akan menjadi suami isteri yang paling hebat di kolong langit! Di mana­kah sekarang kitab-kitab itu? Mari kita ambil dan bawa ke sini, Moi-moi.

Sian Eng tersenyum manis, biarpun hatinya penuh kebencian ketika pemuda yang ia cinta akan tetapi yang menghan­curkan cinta kasihnya dengan pengkhianat­an itu menciuminya mesra. Itulah sebab­nya aku datang, Koko. Kitab-kitab itu kusembunyikan di tempat rahasia. Akan tetapi aku tidak berani mengambilnya sendiri dan membawanya ke sini. Kau benar, kalau sampai ketahuan orang kang-ouw, tentu mereka akan berusaha merampasnya. Marilah kau ikut denganku ke tempat itu, tidak jauh, kita bersama mengambil kitab-kitab itu dan membawanya ke sini. Akan tetapi…. apakah betul kau akan tetap setia kepadaku? Sian Eng pura-pura memandang penuh curiga.

Ah, Sian Eng, kekasihku, apakan kau masih tidak percaya kepadaku? Tiba-tiba pemuda itu berlutut di depan Sian Eng, merangkul kedua kakinya! Sejenak sepasang mata yang bagus itu mengeluar­kan sinar berapi. Alangkah inginnya ia menggerakkan tangan, sekali pukul ubun-ubun kepala yang tunduk di depannya itu ia akan dapat membunuh Suma Boan. Akan tetapi ia teringat akan banyaknya penjaga dan ia tentu akan terkurung dan berada dalam bahaya.

Mari kita pergi sekarang, Koko.
Sekarang? Mengapa tergesa-gesa? Pula, berbahaya sekali mengambilnya di waktu siang. Lebih baik malam nanti kita pergi, Adikku.
Karena tahu bahwa kalau ia men­desak, Suma Boan pasti akan menaruh curiga, gadis itu terpaksa menyetujui.

Pula, memang lebih baik pergi di waktu malam untuk melaksanakan rencananya yang sudah ia atur dengan Lin Lin ini. Ia harus berani berkorban, demi maksud hatinya membalas dendam. Hatinya perih dan makin sakit, akan tetapi Sian Eng rela menjadi permainan Suma Boan sebelum ia mendapat kesempatan meng­hancurkan orang yang telah membasmi kebahagiaan hatinya. Ia terpaksa menuruti kehendak Suma Boan terpaksa ia menye­rah dan menahan-nahan kemuakan hati­nya ketika Suma Boan membuktikan cin­ta kasihnya, yang sesungguhnya bukan lain hanya terdorong nafsu semata-mata. Makin bencilah hati Sian Eng, dan ketika hari terganti malam Suma Boan meng­gandeng tangannya keluar dari gedung, hampir Sian Eng tak kuat menahan ke­benciannya. Baru setelah mereka berjalan di dalam gelap, gadis ini mencucurkan air mata yang cepat-cepat ia usap de­ngan ujung lengan bajunya.

Suma Boan kini percaya betul kepada Sian Eng. Siang tadi, gadis ini menyerah ikhlas kepadanya, tanda bahwa gadis ini benar-benar datang karena cintanya. Penyerahan gadis inilah menjadi bukti bagi­nya bahwa di balik kedatangan Sian Eng tidak ada rahasia apa-apa. Kalau tadinya ia menaruh curiga dan menyangka akan adanya jebakan, maka dengan penyerahan diri Sian Eng kepadanya, maka kecuriga­an itu lenyap sama sekali. Kini ia yakin bahwa Sian Eng benar-benar mencinta­nya, benar-benar datang hendak menye­rahkan diri sambil membawa kitab-kitab yang berharga. Maka dapat dibayangkan betapa bahagia rasa hati putera pangeran ini.

Mereka memasuki hutan yang letak­nya di sebelah barat kota An-sui. Hutan yang tidak terlalu luas akan tetapi cukup gelap karena pohon-pohon besar memenuhi hutan itu.
Baik sekali kau tidak mengajak pe­ngawal, Koko. Urusan ini lebih baik tidak diketahui orang lain.
Memang betul, Moi-moi. Kalau saja kau tidak membuktikan cinta kasihmu yang besar siang tadi, tentu aku akan mengajak pengawal-pengawal. Maklumlah, bukan aku kurang percaya kepadamu, akan tetapi perubahan di kota raja membuat musuh-musuhku mencari kesem­patan untuk menghancurkan aku. Di ma­nakah gua itu, Adikku?

Di sebelah sana, sudah dekat. Mari! Di dalam gelap itu, dengan mesra Sian Eng menggandeng tangan Suma Boan dan diajaknya berlari menuju ke tengah hutan. Tak lama kemudian mereka berhenti di depan sebuah gua yang depannya tertutup oleh rumput alang-alang. Sian Eng me­narik tangan Suma Boan, diajak memasuki gua yang gelap itu sambil menyingkap alang-alang yang tinggi menyembunyikan gua.

Mari masuk, kusembunyikan di dalam situ. Mereka lalu memasuki gua yang cukup besar itu dengan jalan berindap-indap. Suma Boan mulai curiga dan ber­sikap waspada, akan tetapi karena tidak mendengar suara apa-apa, ia ikut dengan Sian Eng melangkah masuk ke dalam gua. Setelah mereka melangkah maju se­jauh lima meter, mereka bertemu dengan dinding gua.
Di mana kitab-kitabnya? Suma Boan berbisik.
Akan tetapi tiba-tiba Sian Eng merenggutkan tangannya. Suma Boan kaget. Gua itu gelap, ia melihat bayangan Sian Eng menjauhkan dirinya.
Moi-moi…. di mana kau? Mana kitabnya….?

Tiba-tiba matanya silau oleh sinar api yang dibuat orang dari luar dan beberapa detik kemudian, Lin Lin yang membawa obor di tangannya telah meloncat masuk, obor di tangan kiri, pedang bersinar kuning di tangan kanan! Juga Sian Eng menyambar sebuah obor, dinyalakannya dan menaruh obor itu di sudut gua. Keadaan menjadi terang menyeramkan.

« Previous entries ·