12.02.07

Pendekar Super Sakti bag 78

Posted in Pendekar Super Sakti at 12:39 pm by riza

Berkerut kening Han Han, bukan karena marah melainkan karena penasaran menyaksikan sikap seorang ketua partai besar yang sungguh tidak patut itu. Sepasang matanya yang tajam itu mengeluarkan sinar yang aneh, menyapu belasan orang hwesio itu, kemudian berhenti ke wajah Ceng San Hwesio dan ia berkata, “Bukan saya yang mencari perkara, silakan kalau locianpwe hendak menggunakan kekerasan!”

Para murid Siauw-lim-pai sudah menyaksikan sikap Han Han yang mereka anggap kurang ajar dan tidak menaruh hormat kepada ketua mereka. Terdengar bentakan mereka dan mereka sudah melolos senjata masing-masing, toya, golok dan pedang, gemerlapan tertimpa sinar matahari.

“Hemmm, cu-wi hendak menggunakan kekerasan? Jangan mengira bahwa saya takut menghadapi cu-wi. Lihat baik-baik, saya sudah siap, apakah cu-wi kira akan dapat mengalahkan saya?”

Para hwesio yang sudah menerjang maju dengan senjata di tangan itu tiba-tiba terbelalak dan berdiri di tempat masing-masing dengan muka pucat. Bahkan Ceng San Hwesio sendiri berkali-kali mengucapkan “omitohud!” dan membaca mantera ketika melihat pemuda berkaki buntung itu kini berdiri dengan tegak, tubuhnya berubah menjadi dua! Kakinya tetap sebuah, akan tetapi kepalanya dua dan lengannya menjadi empat buah, yang dua memegang tongkat yang dua lagi mengepai siap melakukan perlawanan!

Read the rest of this entry »

Pendekar Super Sakti bag 77

Posted in Pendekar Super Sakti at 12:38 pm by riza

Han Han mempergunakan kesempatan itu berkata cepat, “Nirahai, engkau menjadi tawananku. Biarlah aku melarikan engkau dari tempat ini!” Nirahai hanya mengangguk karena masih kagum menyaksikan pengaruh ilmu Han Han terhadap empat orang pelayannya. Bagi kedua matanya, Han Han tetap seperti biasa, sama sekali tidak berkepala singa! Han Han cepat menggerakkan jari tangan kanannya, menepuk pundak Nirahai dan menotok jalan darahnya sehingga Nirahai terkulai lemas. Han Han lalu menyambar tubuh kekasihnya, memanggulnya di pundak kanan setelah menyelipkan senjata kekasihnya di pinggangnya. Cepat seperti kilat menyambar ia sudah meloncat keluar dari dalam kamar itu, terus berlari keluar dari pintu samping dari mana tadi ia masuk bersama empat orang pelayan.

Keadaan di luar geger tidak karuan ketika empat orang pelayan itu menjerit-jerit dan berlari keluar. Sampai lama mereka tidak dapat bicara, hanya mengeluarkan jerit seperti orang mengigau, “Ssseeettttt…. taaaaannn…. singaaa….!” sehingga akhirnya para pengawal yang kebingungan menangkap lengan mereka untuk ditanyai.

Memang inilah yang dikehendaki Han Han maka dia tadi membikin takut empat orang pelayan, yaitu untuk mengacaukan keadaan para pengawal yang menjaga di luar. Dalam keadaan kacau-balau dan tidak teratur itu karena semua pengawal menjadi panik melihat betapa empat orang pelayan sang puteri yang biasanya gagah perkasa itu menjerit-jerit karena melihat setan sehingga mereka lupa membunyikan tanda bahaya dan lupa melapor, tiba-tiba Han Han berkelebat, mencelat keluar sambil memondong tubuh Nirahai yang terkulai lemas.

Read the rest of this entry »

12.01.07

Pendekar Super Sakti bag 76

Posted in Pendekar Super Sakti at 3:35 pm by riza

Kakek itu menarik napas panjang. “Bangunlah, Suma Han, dan duduklah di atas batu ini agar kita dapat bicara dengan leluasa.”

Girang bukan main hati Han Han. Bertemu dengan kakek ini baginya seperti bertemu dengan seorang guru besarnya sendiri, seperti bertemu dengan dewa! Ia lalu bangkit berdiri dan duduk di dekat kakek yang sedang memancing itu.

“Dugaanmu memang benar, akulah yang disebut Koai-lojin, dahulu penghuni Pulau Es bersama dua orang sumoiku yang telah kaurawat dan makamkan jenazahnya secara baik. Aku bersyukur melihat kebaikanmu, Suma Han.” Han Han kagum sekali mendapat kenyataan bahwa kakek ini sudah mengenal namanya, mengenal nama keturunannya. Akan tetapi kakek yang amat sakti ini tentu saja mengetahui segala hal!

“Sungguh berbahagia sekali teecu dapat berjumpa dengan suhu!” Han Han menyebut suhu karena bukankah dia murid Pulau Es, berarti murid kakek ini dan murid kedua orang nenek yang telah tewas?

Read the rest of this entry »

Pendekar Super Sakti bag 75

Posted in Pendekar Super Sakti at 1:41 pm by riza

“Tidak!” Nirahai membantah biarpun tangannya yang memegang suling seperti dibakar rasanya dan dari tangan kirinya menjalar hawa dingin yang membuat ia menggigil.

Kedua orang muda itu berdiri seperti arca, saling tidak mau mengalah, akan tetapi juga saling menjaga agar tidak mencelakakan lawan! Kalau Han Han menghendaki, dengan pengerahan tenaga sin-kang sekuatnya, tentu Nirahai akan roboh dan tewas, akan tetapi dia tidak tega melakukan hal ini. Di lain fihak, Nirahai yang kini sudah merasa yakin benar bahwa dia tidak dapat mengalahkan Han Han, diam-diam menjadi kagum sekali dan kini ia membuat ujian terakhir, yaitu ingin melihat apa yang akan dilakukan Han Han. Akan membunuhnya? Ataukah…. seperti yang dia harapkan, pemuda ini menaruh hati sayang kepadanya?
Read the rest of this entry »

Pendekar Super Sakti bag 74

Posted in Pendekar Super Sakti at 1:39 pm by riza

“Sin Kiat, lekas kauajak Lulu pergi, hari sudah hampir gelap, jangan sampai kalian kemalaman di jalan dan di hutan.”

Sin Kiat menghampiri Lulu, memegang lengan gadis itu dengan mesra dan hati-hati, mengangkatnya bangun dan berkata halus, “Marilah, Moi-moi. Kakakmu memang benar, dan sepatutnya kalau kita mentaati apa yang dikehendakinya. Tiga bulan lagi dia akan menyusul kita di Kwan-teng. Dia bukantah orang yang tidak menepati janjinya, Moi-moi. Marilah!” Sin Kiat menarik dengan halus dan terpaksa Lulu menurut, akan tetapi gadis itu terisak-isak dan sambil berjalan digandeng Sin Kiat, ia menoleh memandang ke arah kakaknya yang berdiri tegak sambil tersenyum, malah Han Han melambaikan tangan, berkata “Selamat jalan, Lulu adikku. Selamat berpisah sampai jumpa kembali. Jangan kau nakal, ya?”

Tiba-tiba Lulu merenggutkan lengannya terlepas dari gandengan Sin Kiat, lari menghampiri Han Han, merangkul leher dan mencium pipi Han Han sambil tersedu-sedu. “Koko…. Koko…. sudah tetapkah keputusanmu….?”

Han Han menahan air matanya yang memenuhi pelupuk mata. “Pergilah, adikku sayang. Pergilah, doaku bersamamu….”

Lulu terisak, melepaskan rangkulan lalu lari meninggalkan Han Han. Terpaksa Sin Kiat juga lari dan dari jauh Han Han melihat kedua orang muda itu lari cepat berdampingan. Air matanya tak dapat ia tahan lagi, mengalir turun ke atas kedua pipinya, bersatu dengan air mata Lulu yang membasahi mukanya, matanya tak pernah berkedip sampai bayangan kedua orang itu lenyap.

“Bodoh! Lemah!” Han Han memaki diri sendiri untuk menguatkan hatinya, akan tetapi kaki tunggalnya menjadi lemas dan ia menjatuhkan diri berlutut di tempat itu, merasa kehilangan, merasa sunyi dan mulutnya berbisik-bisik, “Semoga Tuhan memberkahimu, Lulu adikku tersayang….!”

Read the rest of this entry »

11.30.07

Pendekar Super Sakti bag 73

Posted in Pendekar Super Sakti at 9:27 am by riza

Ia memaksa diri tertawa. “Ha-ha, engkau bocah nakal! Masa engkau akan ikut kakakmu ini sampai kita menjadi kakek dan nenek?”

“Biar! Aku akan senang sekali, Koko. Biar aku tidak pernah kawin, aku akan ikut denganmu sampai mati!”

Han Han mengeraskan hatinya, mendorong tubuh Lulu dan memandang tajam wajah yang basah air mata itu. “Lulu, tidak boleh! Apakah engkau akan membikin hati kakakmu ini sengsara selamanya? Engkau adikku, dan seorang adik yang baik akan mentaati kakaknya. Adikku Lulu, tidak maukah engkau menyenangkan hati kakakmu dengan mentaati permintaanku? Engkau akan hidup bahagia bersama Sin Kiat, aku yakin akan hal ini. Dia seorang yang amat baik. Lulu, sekali lagi kuminta, penuhilah permintaanku ini!”

Sampai lama mereka saling pandang, dan akhirnya, dengan suara berat Lulu berkata lirih, “Han-koko…. kalau hal itu berarti kebahagiaanmu…. aku…. baiklah, aku menurut.” Dia lalu membenamkan muka di dada Han Han sambil menangis.

Han Han mendiamkan saja, membiarkan adiknya menangis. Setelah tangis adiknya mereda, ia lalu berkata, “Marilah kita menemui Nirahai. Kita minta dibebaskan, kalau dia berkemauan baik, tentu permintaan kita dia pehuhi. Kalau tidak, terpaksa aku akan menggunakan kekerasan!” Tanpa menanti jawaban adiknya, Han Han menggandeng tangan Lulu, diajak meloncat ke pintu yang tertutup dengan terali besi. Dia sudah mempunyai sebatang tongkat kayu yang diberikan oleh penjaga atas permintaan Lulu.

Read the rest of this entry »

Pendekar Super Sakti bag 72

Posted in Pendekar Super Sakti at 9:25 am by riza

Wajah Hian Ceng berubah merah sekali, matanya bersinar-sinar. “Aihhh! Kiranya si keparat laknat itukah? Mari kita berangkat mencarinya dan aku ingin menyayat-nyayat tubuhnya dengan pedangku, Enci Lian!”

Kini Sin Lian yang memandang terbelalak. “Mengapa engkau membenci dia pula, Adik Ceng?”

Hian Ceng cemberut dan matanya menyinarkan kemarahan, “Kalau tidak ada Han-twako yang menolongku, tentu aku sudah menjadi korban kebiadaban Kongcu hidung babi itu!”

“Lho, kaumaksudkan hidung belang, bukan?”

“Hidung belang saja masih mending, dia hidung babi dan belang pula!” Hian Ceng bersungut-sungut lalu menceritakan pengalamannya ketika ia ditawan Ouwyang Seng dan Gu Lai Kwan, betapa ia hampir saja diperkosa oleh Ouwyang Seng kalau saja tidak muncul Han Han yang menolongnya.

Demikianlah setelah kedua orang gadis itu membicarakan Ouwyang Seng dengan hati penuh kebencian mereka berdua lalu menyelidiki perkemahan pasukan istimewa yang dipimpin Ouwyang Seng. Kebetulan sekali bahwa pada malam hari mereka menyelundup ke daerah perkemahan, Ouwyang Seng bersama dua orang pembantunya yang lihai, yaitu Toat-beng Ciu-sian-li dan Ma-bin Lo-mo, telah mengatur jebakan bagi Han Han sehingga daerah itu sengaja tidak dijaga ketat dan dengan kepandaian mereka, dua orang gadis itu berhasil menyelinap masuk dan melakukan pengintaian di dekat kamar besar yang berwarna kuning. Dari tempat persembunyian mereka, mereka melihat kesibukan Ouwyang Seng dan dua orang datuk kaum sesat sedang mengatur jebakan di dalam kemah. Melihat Ouwyang Seng, naik darah Hian Ceng dan gadis ini sudah ingin menyerbu dengan nekat. Akan tetapi Sin Lian memegang lengannya dan memberi isyarat supaya temannya itu tidak terburu nafsu.

Read the rest of this entry »

« Previous entries ·